Review MSCI Februari 2026: Saham INDF Pindah ke Small Cap, ACES dan CLEO Terdepak

Dari hasil tinjauan MSCI pada Februari 2026, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dipindahkan ke MSCI Global Small Cap.

Diterbitkan 12 Februari 2026, 07:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyedia Indeks Global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil tinjauan indeks atau indeks reviews untuk indeks saham MSCI termasuk saham Indonesia. Dari hasil tinjauan itu, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) pindah ke small cap.Perubahan itu akan diimplementasikan pada penutupan perdagangan 27 Februari 2026.

Dari hasil tinjauan MSCI pada Februari 2026, satu saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Namun, saham INDF pindah ke MSCI Global Small Cap Index. MSCI pun mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Indexes antara lain PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO). Pengumuman itu disampaikan pada 10 Februari 2026.

Berdasarkan data Google Finance, harga saham ACES naik 0,49% ke posisi Rp 408 per saham pada 11 Februari 2026.Selain itu, saham CLEO bertambah 1,02% ke posisi Rp 398 per saham. Saham INDF melemah 2,9% ke posisi Rp 6.700 per saham. 

Review MSCI ini dilakukan di tengah upaya reformasi pasar modal Indonesia setelah MSCI menyoroti mengenai free float saham dan transparansi kepemilikan saham di Indonesia.

Pada 28 Januari 2026, MSCI mengumumkan membekukan sementara terkait indeks tertentu untuk saham Indonesia dalam tinjauan indeks Februari 2026.

Langkah ini diambil MSCI untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan kemampuan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk meningkatkan transparansi. Seiring hal itu, MSCI akan menilai kembali status pasar Indonesia hingga Mei 2026. Demikian mengutip laman MSCI.

MSCI telah menyelesaikan konsultasi mengenai penilaian free float saham Indonesia. Meskipun beberapa pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan komposisi kepemilikan bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data referensi tambahan, banyak investor mengatakan kekhawatiran yang signifikan tentang ketergantungan pada kategori pemegang saham.

“Meskipun telah ada peningkatan kecil pada data free float BEI, investor menyoroti masalah fundamental terkait kemampuan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat,” demikian seperti dikutip dari pengumuman MSCI tersebut.

 

 

Langkah MSCI

Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, MSCI menilai informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi diperlukan untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap free float dan kemampuan investasi saham Indonesia.

Seiring hal itu, MSCI pun membekukan sementara pada perubahan saham terkait indeks tertentu yang dihasilkan dari tinjauan indeks pada Februari 2026. Kebijakan pembekuan sementara itu berlaku efektif segera.

Adapun kebijakan pembekuan itu mencakup peningkatan pada faktor inklusi asing atau Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares atau jumlah saham (NOS).

Kemudian, MSCI juga tidak akan menerapkan penambahan saham baru pada MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan tidak akan menerapkan migrasi kenaikan saham di seluruh indeks termasuk dari Small Cap ke Standard.

“Perlakuan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan kemampuan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk memberikan peningkatan transparansi yang berarti,”