Dua Saham Bank Big Cap Bakal Jadi Andalan pada 2026

Dua saham emiten bank menjadi pilihan analis seiring profil dari pinjaman.

Diterbitkan 05 Desember 2025, 15:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan dua saham bank big cap, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bakal melejit pada 2026.  Dua emiten bank itu diramal bakal bersinar dibanding emiten perbankan lain, yang punya potensi kredit macet atau non performing loan (NPL) tinggi seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). 

"Kalau dari sisi kualitasnya, kita lihat mungkin lebih ke BBCA sama mungkin BMRI. Karena kalau dari BBRI, kita khawatirkan itu masih ada potensi NPL yang tinggi di UMKM dan mikro," ujar Rully, dikutip Jumat (5/12/2025).

Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Farras Farhan sepakat BBCA dan BMRI masih punya prospek menjanjikan bagi para investor. Lantaran secara kinerja keuangannya pun dinilai lebih baik dibanding perbankan lain. 

"Karena memang saat ini mereka memiliki aset quality yang masih cukup lukratif, dan secara earnings juga sebenarnya masih cukup stable dibandingkan perbankan yang lainnya," imbuh dia. 

"Apalagi kalau kita melihat loan profile dari kedua bank tersebut juga, lumayan cukup terjaga dari adanya pelemahan ekonomi yang ada tahun ini," kata Farras.

Emiten Bank Butuh Angin Segar

Farras menilai emiten perbankan kini tengah menunggu angin segar dari perbaikan ekonomi. Khususnya pertumbuhan ekonomi 2026 di atas 5 persen, yang turut memberikan multiplier effect bagi sektor perbankan imbas kinerja korporasi hingga UMKM yang ikut terkerek.  

"Kalau kita lihat secara valuasi sendiri, saham perbankan saat ini sudah berada di bawah rata-rata 3 tahun price to book-nya. Jadi mungkin agak cukup menarik untuk tahun depan apabila bisa kembali minimal banget ke rata-rata 3 tahunnya," ungkapnya. 

"Kita juga berharap adanya peningkatan kembali dari saham perbankan. Itu juga bisa mendorong IHSG kita, selain dari sektor konglomerasi itu sendiri," pungkas Farras.

 

 

 Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Harga Emas Bakal Berjaya pada 2026, Ini Pemicunya

Sebelumnya, harga emas diprediksi terus melanjutkan penguatan pada 2026 mendatang, seiring indeks dolar AS (DXY) yang bakal mengalami pelemahan pada 2026. Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Farras Farhan menemukan, korelasi antara pergerakan harga emas dengan indeks dolar AS. Ditemukan adanya korelasi negatif antara harga emas dengan DXY dalam 10 tahun terakhir.  

"Hasil yang kelihatan apabila kita menarik data kuartalan selama 10 tahun ke belakang, itu adalah adanya korelasi yang negatif antara harga emas dan juga dengan USD index. Yang di mana setiap ada peningkatan 1 persen dari USD index, maka harga emas sendiri ini akan relatif menurun 1,13 persen," jelasnya dalam sesi webinar, Kamis (4/12/2025).

Menurut dia, temuan tersebut sangat krusial untuk memproyeksikan harga emas di tahun depan yang potensial melanjutkan penguatan, lantaran indeks dolar AS diramal bakal mengalami kemerosotan. 

"Mirae Asset Sekuritas juga melihat, untuk USD index tahun depan akan adanya penurunan mencapai titik level di 96. Sehingga ini mendorong tesis kita kepada harga emas yang masih akan tetap terjaga, dengan potensi akan ada peningkatan di tahun depan," bebernya. 

"Sehingga membuat aset kelas emas ini juga masih tetap menarik untuk bisa dilirik oleh-oleh investor," ujar Farras.

2025 jadi Tahun Emas

Adapun 2025 ini menjadi tahun keemasan bagi komoditas emas, seiring adanya lonjakan harga yang terus terjaga. Farras membeberkan, harga emas dunia melonjak dari level USD 2.000 per troy ons pada awal tahun menjadi sekitar USD 4.200 per troy ons. 

"Dan memang kita melihat peningkatan emas ini juga didorong oleh beberapa faktor, yang di antaranya itu ada peningkatan dari bank sentral. Seiring dengan tema dedollarization yang membuat bank sentral itu sudah ingin meningkatkan cadangan emasnya," imbuhnya. 

Farras menyebut tren penyimpanan cadangan emas ini tidak hanya dilakukan oleh bank sentral besar dunia saja seperti Bank of China, tapi juga oleh bank-bank di negara lebih kecil seperti Norwegia dan Polandia.Â