Emiten ROTI Raup Pendapatan Rp 2,7 Triliun, Susut 7,8% hingga September 2025

Berikut kinerja keuangan PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), emiten produsen sari roti hingga September 2025. Pendapatan turun 7,8% dan laba merosot 45%.

Diterbitkan 02 November 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) mencatat penurunan pendapatan dan laba sepanjang Januari-September 2025.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (2/11/2025), PT Nippon Indosari Corpindo Tbk meraup pendapatan Rp 2,74 triliun hingga September 2025. Pendapatan turun 7,8% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,97 triliun. Beban pokok penjualan merosot 3,25% menjadi Rp 1,30 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,34 triliun.

Laba bruto terpangkas 11,59% dari Rp 1,62 triliun hingga September 2024 menjadi Rp 1,43 triliun hingga September 2025.

Perseroan menekan beban usaha menjadi Rp 1,3 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,32 triliun. Penghasilan operasi naik menjadi Rp 81,72 miliar dari periode sebelumnya Rp 67,25 miliar. Beban operasi turun menjadi Rp 2,35 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,48 miliar.

Dengan demikian perseroan mencatat laba usaha sebesar Rp 215,40 miliar. Laba usaha itu turun 40,4% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 361,94 miliar.

Laba sebelum pajak penghasilan merosot 46,13% dari Rp 322,95 miliar menjadi Rp 173,9 miliar hingga September 2025.

Seiring kinerja itu, perseroan mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas 45,05% menjadi Rp 136,69 miliar hingga September 2025 dari September 2024 sebesar Rp 248,7 miliar. Dengan demikian, perseroan mencatat laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp 24,22 hingga September 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 43,61.

Perseroan menyatakan, pemulihan daya beli konsumen Indonesia masih jadi tantangan terbesar 2025. Namun, tren volume permintaan produk roti dan kue yang mulai naik sejak awal kuartal kedua 2025 berlanjut ke kuartal ketiga 2025 dipercaya menjadi momentum pertumbuhan hingga penghujung kuartal keempat 2025 dan menyongsong 2026.

 

 

Pengembangan Bisnis Emiten ROTI

"Perseroan tetap berkomitmen dalam melakukan investasi secara strategis pada produk dan inovasi usaha untuk beradaptasi dengan preferensi konsumen yang dinamis sehingga mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan “sustainable growth”, demikian seperti dikutip dari keterangan resmi perseroan.

Salah satu pengembangan bisnis yang dilakukan adalah melalui PT Javasari Mitra Prima, Entitas Anak Perseroan yang baru didirikan tahun lalu, yang saat ini telah berhasil memasok berbagai produk roti, kue dan pastries segmen premium untuk flagship store “JAVASARI” yang berlokasi di kawasan Kebayoran Baru.

Perseroan mencatat ekuitas sebesar Rp 1,93 triliun hingga September 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 2,3 triliun. Liabilitas naik menjadi Rp 1,7 triliun hingga September 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 1,43 triliun.  Aset perseroan turun menjadi Rp 3,63 triliun hingga September 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 3,74 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas sebesar Rp 394,9 miliar hingga September 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 439,9 miliar.

RUPSLB Nippon Indosari Corpindo Patok Harga Buyback Maksimum 1.700 per Saham

Sebelumnya, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada hari ini, 6 Agustus 2024 di Hotel Mulia Jakarta.

Rapat tersebut membahas agenda tunggal yaitu rencana pembelian kembali saham perseroan (shares buyback) yang bertujuan untuk menstabilkan dan menjaga harga saham perseroan agar mencapai tingkat yang baik.

"Pemegang Saham telah menyetujui rencana perseroan untuk melaksanakan rencana pembelian kembali sebanyak-banyaknya 88 juta saham dengan harga maksimum 1.700 per saham," ungkap manajemen Nippon Indosari Corpindo Tbk dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (6/8/2024).

Pembelian kembali saham rencananya akan menggunakan sumber dana internal perseroan. Mengacu pada laporan keuangan per 30 Juni 2024, perolehan kas neto dari aktivitas operasi mencapai Rp 214,1 miliar, yang sudah melampaui kebutuhan alokasi dana shares buyback Rp 149,6 miliar.

"Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Perseroan diharapkan juga memberikan fleksibilitas pengelolaan modal jangka panjang melalui penjualan saham hasil buyback dengan nilai yang optimal di masa yang akan datang," imbuh manajemen.

 

Buyback Saham

Sebelumnya perseroan berencana melakukan pembelian kembali saham dengan nilai maksimum Rp 149,6 miliar atau maksimum 88 juta lembar saham. Pembelian kembali saham perseroan akan dilaksanakan terhitung mulai 6 Agustus 2024 hingga 5 Agustus 2025.

Pembelian kembali saham dapat menstabilkan harga dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Pembelian kembali atas saham perseroan juga memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengelola modal jangka panjang. Di mana sama tersebut dapat dijual di masa yang akan datang dengan nilai yang optimal.