Sukses

Ramai Emiten Tebar Dividen Interim 2022, Ini Kata Analis

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah emiten mengumumkan rencana pembagian dividen interim 2022. Pembagian dividen interim ini merujuk pada data keuangan perusahaan pada semester I 2022.

Analis menilai, aksi ini merujuk pada kinerja emiten yang mengalami perbaikan pada paruh pertama tahun ini. Banyak perusahaan yang mencatatkan kenaikan pendapatan, sehingga mendorong pertumbuhan laba perusahaan.

Beberapa emiten yang akan bagikan dividen di antaranya; Astra International Tbk (ASII), Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), dan United Tractors Tbk (UNTR).

“Dividen interim umum dibagikan atas profitabilitas ytd (year to date-red), ini umumnya menunjukkan perusahaan profit. Tetapi pembagian dividen tentu saja mengurangi potensi saldo laba ditahan, pembagian dividen yang besar artinya ekspansi emiten terbatas,” kata Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana kepada Liputan6.com, Rabu (5/10/2022).

Senada dengan Wawan, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengamini adanya perbaikan kinerja yang mengerek keuntungan perusahaan. Meski jika dilihat dari besarannya memang lebih rendah dibandingkan dividen pada umumnya.

Sejauh ini, Pilarmas Investindo Sekuritas lebih menyukai emiten emiten antara lain PT Astra International Tbk (ASII),  PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Sebagai catatan, Nico mengatakan, investor perlu memperhatikan yield dividen yang diberikan.

“Jangan lupa perhatikan juga dividend yield yang diberikan oleh masing-masing emiten. Dengan mengukur dividend yield, tentu kita dapat mengukur apakah dividen tersebut menguntungkan atau tidak,” imbuh dia.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

Imbal Hasil IHSG Salip Bursa AS dan China

Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan tertekan hingga akhir tahun. Secara year to date, imbal hasil (return) dari IHSG tercatat sebesar 6,5 persen, cenderung turun dibanding realisasi akhir tahun lalu sebesar 10,2 persen.

Meski begitu, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer mengatakan, imbal hasil itu melampaui bursa luar negeri antara lain Amerika Serikat (AS), China, Hong Kong, hingga Singapura."Indonesia sangat resilient, indeks return kita termasuk tinggi dibandingkan negara-negara lain termasuk ASEAN,” kata dia, ditulis Rabu (5/10/2022).

Sebagai perbandingan, imbal hasil indeks acuan Thailand SET minus 6 persen ytd, Malaysia JCI miinus 10,8 persen ytd, Philippine PSEi minus 18,8 persen. Kemudian Vietnam VN turun paling dalam yakni 27,5 persen, Singapore STI turun 0,5 persen, China CSI 300 turun 23 persen, Hong Kong Hang Seng turun Rp 27 persen. UK FTSe turun 6,4 persen, US S&P 500 turun 22,8 persen, dan India SENSEC turun 2,5 persen.

Merujuk pada perkembangan ekonomi saat ini, baik global maupun domestik, Mandiri Sekuritas turun menurunkan target IHSG hingga akhir tahun.

"IHSG 7.300 sebelum kenaikan harga BBM. Kita memang turunan karena pada saat ini lebih priced in karena fokus ke The Fed,” kata dia.

3 dari 4 halaman

Sektor Saham

Ke depan, Adrian mengatakan sektor yang masih menarik untuk dicermati, selain energi dan komoditas, yakni konsumsi. Informasi saja, IDX energy memang terpantau mencatatkan kinerja paling mentereng yakni tumbuh 70 persen ytd. Disusul IDX Industry yang naik 24 persen ytd.

Lalu IDX Transportation tumbuh 10 persen, dan IDX konsumer non siklikal sebesar 5 persen, dan IDX Health dan IDX Infrastructure masing-masing tumbuh 3 persen ytd dan 2 persen ytd. Lebih lanjut, Adrian mengungkapkan sejumlah sentimen investasi pasar modal ke depan, antara lain kenaikan consumer price index (CPI) dalam negeri dan kenaikan suku bunga yang berisiko terhadap daya beli masyarakat menengah ke bawah, serta risiko normalisasi harga komoditas setelah kuartal IV 2022.

"Salah satu potensi sektor konsumsi dasar, tapi masih lihat apakah saham ini sudah priced in ke daya beli. Semoga sudah, sehingga tahun depan bisa resilience. Kita jagokan bank juga,” kata dia.

4 dari 4 halaman

Melihat Prospek IHSG pada Kuartal IV 2022

Sebelumnya, memasuki akhir tahun atau kuartal IV, indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami koreksi. IHSG ditutup pada posisi 7.040 pada akhir kuartal III 2020. Mengutip data RTI, IHSG turun 1,9 persen dalam sebulan terakhir.

"Secara seasonality memang pada September biasanya IHSG mengalami koreksi, sehingga investor disarankan wait and see menunggu kondisi pasar saham global stabil," ujar Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei kepada Liputan6.com, ditulis Minggu, 2 Oktober 2022.

Sementara untuk window dressing sendiri, Jono mencermati biasanya akan mulai terlihat pada Oktober. Window dressing utamanya terjadi pada saham LQ45. Kondisi ini bisa dijadikan peluang bagi investor yang ingin mulai mengoleksi saham-saham bluechip secara bertahap.

Window dressing merupakan pola ketika harga saham cenderung menguat mendekati pergantian tahun. Hal ini karena fund manager cenderung memoles portofolionya pada akhir tahun sehingga rapornya bagus. Window dressing juga dilakukan emiten untuk merapikan laporan keuangan agar menarik pasar.

"Strategi yang bisa dilakukan yaitu mulai melirik saham-saham bluechip yang memiliki neraca kuat, utang sedikit dan valuasi murah dengan harapan di akhir tahun harga sahamnya akan terapresiasi,” imbuh Jono.

Adapun sektor yang bisa diperhatikan jelang akhir tahun yaitu perbankan, konsumer, ritel, dan komoditas.

Sementara itu, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, saat ini belum ada perubahan target IHSG hingga akhir 2022. Adapun IHSG masih akan dibayangi sentimen potensi resesi global. IHSG diprediksi untuk bearish 6.743 dan bullish 7.480 hingga akhir 2022.

“Kami perkirakan seperti itu (sentimen resesi global-red), karena the Fed masih bernada hawkish hingga 2023 untuk menekan inflasi hingga target 2 persen,” kata dia.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.