Top 3: Dirut AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo Kembali Beli Saham AKRA

Berikut tiga artikel terpopuler di saham yang dirangkum pada Minggu, 4 September 2022.

Diterbitkan 04 September 2022, 07:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), Haryanto Adikoesoemo menambah kepemilikannya atas saham perseroan. Haryanto Adikoesoemo melaporkan transaksi pembelian 5.915.100 lembar saham perseroan dengan harga rata-rata pembelian Rp 1,181,29 per saham. Sehingga total transaksi senilai Rp 6,99 miliar.

“Tanggal transaksi pada 29 Agustus 2022 hingga 2 September 2022. Tujuan transaksi adalah untuk investasi dengan status kepemilikan langsung,” ungkap Direktur dan Sekertaris Perusahaan PT AKR Corporindo Tbk, Suresh Vembu dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (3/9/2022).

Rincian transaksi, yakni sebanyak 917.400 lembar saham dibeli dengan harga Rp 1.206,35 per saham pada 29 Agustus 2022, atau total senilai Rp 1,11 miliar. Kemudian 666.800 lembar saham dibeli pada 31 Agustus 2022 dengan harga Rp 1.181,58 per saham atau senilai Rp 787,88 juta.

Artikel Dirut AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo beli saham AKRA Rp 6,99 miliar menyita perhatian pembaca di saham. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di saham? Berikut tiga artikel terpopuler di saham yang dirangkum pada Minggu (4/9/2022):

1.Dirut AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo Beli Saham AKRA Rp 6,99 Miliar

Direktur Utama PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), Haryanto Adikoesoemo menambah kepemilikannya atas saham perseroan. Haryanto Adikoesoemo melaporkan transaksi pembelian 5.915.100 lembar saham perseroan dengan harga rata-rata pembelian Rp 1,181,29 per saham. Sehingga total transaksi senilai Rp 6,99 miliar.

“Tanggal transaksi pada 29 Agustus 2022 hingga 2 September 2022. Tujuan transaksi adalah untuk investasi dengan status kepemilikan langsung,” ungkap Direktur dan Sekertaris Perusahaan PT AKR Corporindo Tbk, Suresh Vembu dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (3/9/2022).

Rincian transaksi, yakni sebanyak 917.400 lembar saham dibeli dengan harga Rp 1.206,35 per saham pada 29 Agustus 2022, atau total senilai Rp 1,11 miliar. Kemudian 666.800 lembar saham dibeli pada 31 Agustus 2022 dengan harga Rp 1.181,58 per saham atau senilai Rp 787,88 juta.

Berita selengkapnya baca di sini

2.Wall Street Koreksi Usai Rilis Laporan Pekerjaan AS

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Jumat, 2 September 2022. Wall street tertekan setelah laporan pekerjaan AS pada Agustus 2022 yang solid gagal meredakan kekhawatiran the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS akan terus menaikkan suku bunga secara agresif untuk melawan inflasi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 337,98 poin atau 1,1 persen ke posisi 31.318,44. Indeks S&P 500 melemah 1,1 persen ke posisi 3.924,26, terendah sejak Juli 2022. Indeks Nasdaq melemah 1,3 persen ke posisi 11.630,86, dan mencatat penurunan beruntun dalam enam hari sejak 2019.

Semua indeks acuan rata-rata melemah dalam sepekan sehingga menjadikannya minggu negatif dalam tiga minggu berturut-turut setelah merosot pada akhir Agustus 2022. Indeks Dow Jones dan S&P 500 masing-masing turun 3 persen dan 3,3 persen. Indeks Nasdaq tergelincir 4,2 persen.

Berita selengkapnya baca di sini

3.Meneropong Gerak IHSG Usai Harga BBM Resmi Naik

Pemerintah resmi memberlakukan kenaikan harga sejumlah bahan bakar subsidi. Biasanya, pasar yang konservatif melihat kenaikan BBM akan berdampak pada turunnya daya beli masyarakat.

Namun, Chief Economist & Head of Fixed Income Research Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai kondisi saat ini berbeda. Di mana ada beberapa hal yang patut diperhatikan untuk menerka arah IHSG.

“Fakta lainnya adalah ketika harga BBM naik, sebenarnya perekonomian masyarakat di luar Pulau Jawa terutama yang mendapatkan pendapatan dari sawit dan batu bara itu cenderung terus tinggi,” kata dia dalam webinar Indonesia Investment Education, Sabtu (3/9/2022).

Selain itu, Fakhrul menilai kenaikan BBM akan lebih berdampak pada ekonomi kelas menengah. Di mana pendapatan kelompok ini belum naik, akibatnya terjadi penurunan minat di sektor formal. Sementara sektor informal diperkirakan tumbuh lebih tinggi.

Berita selengkapnya baca di sini