Sukses

7 Kiat Hindari Penipuan Berkedok Investasi

Liputan6.com, Jakarta - Investasi termasuk suatu kegiatan penanaman modal untuk mendapatkan keuntungan pada masa yang akan datang. Sedangkan, tujuan investasi untuk melindungi aset dari inflasi, kebebasan finansial, kebutuhan masa depan.

Investasi pun bak dua sisi mata uang lantaran juga ada risiko yang dihadapi. Salah satunya penipuan berkedok investasi.

Legal and Compliance Division Head PT BRI Danareksa Sekuritas, Sriwidjaja Rauf menyebutkan tentang kiat-kiat menghindari penipuan berkedok investasi dalam Media Gathering Literasi dan Inklusi Keuangan 2022 pada Selasa (28/6/2022).

Berikut ini tujuh kiat menghindari penipuan berkedok investasi:

1. Jangan terjebak dengan janji-janji

2.Hindari penjual yang memaksa

3. Waspadai penjual dengan bujuk rayu

4.Waspadai replikasi dan penguncian dana

5. Hindari perusahaan yang tidak jelas

6.Cermati izin dari Badan Pengawas 

7.Ingatlah prinsip investasi: High risk high return

Sriwidjadja juga menuturkan, investor perlu mengenali profil risiko sebelum berinvestasi. Setiap investor memiliki kriteria kriteria investasi yang berbeda seperti profil risiko preferensi dan time frame. 

“Kalau kita ingin berinvestasi, instrumen apa yang tepat? Kembalikan ke diri kita, konservatif, moderat atau agresif?,” kata Sriwidjadja.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Pengelolaan Keuangan

Oleh karena itu, sebelum investasi investor harus mengenali dirinya sendiri agar dapat menentukan strategi investasi yang tepat. Berikut ini penjelasannya:

A. Konservatif (Risk Averse)

Investor dengan target imbal hasil rendah namun memiliki tingkat risiko yang rendah juga.

Rekomendasi: Tabungan, Deposito, Obligasi

B. Moderat (Risk Neutral)

Membagi porsi portfolio antara instrumen dengan risiko tinggi dan rendah. Sehingga berpotensi mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi namun dengan risiko yang masih terkendali.

Rekomendasi: Reksa dana

C. Agresif

Mengharapkan imbal hasil yang tinggi tetapi dengan risiko yang tinggi juga.

Rekomendasi: saham

Tak hanya itu, Sriwidjaja juga mengatakan, terkait bagaimana menyusun perencanaan keuangan yang tepat.

"Apa Itu Perencanaan Keuangan? Dana kelahiran, dana pensiun, travel, dana pernikahan, dana pembelian rumah atau mobil, dana pendidikan anak,” kata Sriwidjadja Rauf.

 

Dia menuturkan terkait proses mencapai tujuan hidup melalui pengelolaan keuangan terencana, antara lain:

1.Kenali kondisi keuangan seperti membuat anggaran dan catatan penghasilan dan pengeluaran.

2.Tentukan keinginan utama dengan menyusun daftar kebutuhan berdasarkan prioritas serta asumsi waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan tersebut.

3.Evaluasi kesehatan keuangan menggunakan rasio-rasio keuangan.

 

 

3 dari 5 halaman

Prospek Investasi di Indonesia Masih Positif, BNP Paribas Beberkan Alasannya

Sebelumnya, iklim investasi di Indonesia diperkirakan memiliki prospek cerah, kendati dibayangi sejumlah sentimen global. Seperti kenaikan suku bunga dan kenaikan harga komoditas sebagai salah satu dampak situasi geopolitik di Eropa, hingga berujung pada inflasi.

Presiden Direktur BNP Paribas Asset Management,Priyo Santoso menyatakan pandangan yang positif terhadap prospek investasi di Indonesia ke depan. Hal itu merujuk pada reformasi ekonomi oleh pemerintah Indonesia yang berhasil menjaga stabilitas di makro ekonomi Indonesia.

"Kami juga melihat bagaimana Bank Indonesia melakukan kebijakan-kebijakan tingkat suku bunga dan kebijakan likuiditas yang di satu sisi juga memberikan kontribusi dan dukungan terhadap kestabilan nilai tukar rupiah. Itu merupakan suatu hal yang sangat penting bagi iklim investasi di Indonesia,” kata Priyo dalam konferensi pers, Selasa (28/6/2022).

BNP Paribas AM berkeyakinan pemerintah akan mengerahkan berbagai upaya untuk menjaga inflasi tetap stabil, serta tingkat suku bunga juga relatif akan dijaga pada tingkat yang tetap. Sehingga diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Meski diakui, suku bunga obligasi tengah dalam tren meningkat.

"Walaupun pada saat ini kami melihat bahwa suku bunga obligasi mulai meningkat, tapi akan melihat bahwa dengan arah kebijakan pemerintah Indonesia dan tugas bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi di Indonesia itu akan memberikan dampak yang positif terhadap prospek investasi di Indonesia,” ujar dia.

4 dari 5 halaman

BEI Catat 17 Reksa Dana Berbasis ESG dengan Dana Kelolaan Rp 2,3 Triliun

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati tingginya minat investasi berbasis  environmental, social and governance (ESG) di dalam negeri.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengatakan, investor saat ini tidak hanya mempertimbangkan imbal hasil dari sisi finansial, melainkan dampak lingkungan dari keputusan investasi yang diambil. Sejalan dengan itu, Hasan mencatat total asset under management (AUM) atau dana global yang terdaftar dalam Principles for Responsible (PRI) telah mencapai lebih dari USD 121,3 triliun pada 2021. Meningkat 1,96 kali lipat jika dibanding posisi pada 2016.

"Tren ini juga kita konfirmasi terjadi oleh manajer investasi di Indonesia. Hingga Mei 2022, telah terdapat 17 produk reksa dana dan ETF pasif atas indeks-indeks saham yang bertema ESG dengan nilai dana kelolaan mencapai Rp 2,3 triliun. Jumlah dan nilai kelolaan  produk ini meningkat drastis dibandingkan tahun 2016 yaitu sebesar 50 kali lipat dari yang tadinya hanya satu produk senilai Rp 42 miliar,” ungkap Hasan dalam konferensi pers 30 Tahun PT BNP Paribas AM, Selasa (28/6/2022).

 

5 dari 5 halaman

Peran BEI

Sebagai salah satu SRO di pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga turut berperan aktif dalam mendorong terciptanya ekosistem keuangan berkelanjutan dengan menciptakan kesadaran bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai pentingnya aspek ESG.

Beberapa hal yang dilakukan bursa, di antaranya adalah, BEI ikut menjadi bagian dari sistem Sustainable Stock Exchanges atau SSI dan menjadi Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) suporter.

Selain itu, BEI juga melakukan serangkaian capacity building dan webinar yang dilakukan dengan bekerjasama dengan instansi yang merupakan ahli di bidang ini. Lalu, melakukan serangkaian diskusi dan FGD dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong pengembangan produk-produk hijau.

"BEI juga terus melakukan pengembangan indeks baru yang berbasis ESG bekerja sama dengan Sustainalytics dan juga Yayasan Kehati dalam upaya mengakomodasi variasi strategi investasi yang ada saat ini,” beber Hasan.

Saat ini BEI memiliki empat indeks yang berbasis ESG, antara lain; IDX ESG Leaders, Sri Kehati Indeks, ESG Sector Leader IDX Kehati, dan ESG Quality 45 IDX Kehati.