Sukses

Bursa Saham Asia Bervariasi di Tengah Kekhawatiran COVID-19

-Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia-Pasifik bervariasi pada Kamis, (13/1/2022) terpengaruh kenaikan indeks acuan di wall street meskipun terdapat laporan inflasi tinggi sehingga pelaku pasar berspekulasi akan terjadi peningkatan suku bunga.

Di samping itu kekhawatiran COVID-19 menjadi fokus utama setelah World Health Organization (WHO) memperingatkan grafik varian Omicron kian melonjak di atas grafik biasanya.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 tergelincir 0,8 persen setelah melonjak 2 persen pada Rabu, 12 Januari 2022. Indeks Topix juga menyusut 0,48 persen. Saham ritel besar juga kehilangan kekuatannya, karena Seven & I anjlok sekitar 4 persen dan fast Retailing menyusut 1,53 persen.

Indeks saham Kospi di Korea Selatan susut 0,15 persen. Di bursa saham Shanghai mendatar. Indeks Shenzhen susut 0,77 persen. Indeks Hang Seng menguat 0,26 persen. Saham pengembang properti Sunac melemah lebih dari 15 persen.

Pelemahan saham Sunac terjadi setelah berencana jual 452 juta saham baru kepada pemegang saham pengendali Sunac International Investment Holdings. Harga penjualan saham 10 dolar Hong Kong. Dana hasil penjualan saham digunakan untuk membayar kembali pinjaman, sementara setengah lainnya akan digunakan untuk tujuan perusahaan.

Untuk kawasan Australia bergerak ke zona hijau. Indeks ASX 200 naik 0,64 persen. Sektor keuangan dan penambang mulai kecipratan keuntungan. Saham Rio Tinto melompat 3 persen, dan BHP menguat 4 persen.

TSMC Taiwan segera melaporkan hasil pemdapatan perusahaan pada kuartal IV pada Kamis, 14 Januari 2021.

Investor akan terus mengawasi perkembangan COVID-19. Hal ini usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan rekor kasus COVID-19 global baru sebanyak 15 juta dalam satu minggu. Pencapaian ini karena penyebaran omicorn sangat cepat melebihi varian delta sekaligus mengganikan sebagai varian yang mendominasi di seluruh dunia.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Wall Street

Data pada Rabu, 12 Januari 2022  menunjukkan inflasi di Amerika Serikat (AS) naik 7 persen selama Desember 2020. Kenaikan inflasi ini tertinggi sejak 1982. Walaupun begitu saham-saham di bursa AS tetap beranjak naik.

Indeks S&P 500 naik 0,28 persen ke level 4.726,35. Indeks Nasdaq Composite sebesar 0,23 persen menjadi 15.188,39. Bagi  indeks Nasdaq ini adalah hari ketiga secara berturut-turut saham perusahan berada di zona positif.

Indeks Dow Jones Industrial Average bergerak antara keuntungan dan kerugian moderat sepanjang sesi. Berakhir dengan kenaikan 38,3 poin atau 0,11 persen pada 36.290,32.

Data inflasi muncul di tengah harga yang sudah naik tajam pada beberapa bulan terakhir. Dengan demikian membuat ekpetasi pasar terkait kenaikan suku bunga kata analis ANZ Research Brian Martin & Daniel Hynes dalam catatan Kamis pekan ini.

"Inflasi IHK AS mencapai 7,0 persen YoY pada Desember dan kemungkinan akan berada di kisaran 7–8 persen untuk beberapa bulan ke depan. Sehingga memperkuat keharusan kenaikan suku bunga oleh The Fed mulai Maret. Regulator mengungkap membatasi inflasi adalah prioritas utama The Fed untuk 2022," tambahnya, dilansir dari laman CNBC, Kamis, 13 Januari 2022.

3 dari 3 halaman

Mata Uang dan Harga Minyak

Indeks dolar ASterhadap sekantong mata uang acuan global lain jatuh ke posisi terendah sekitar 95,1 poin pada Rabu malam, 12 Januari 2022.

Hal ini menjadi pukulan yang tidak terlihat sejak November 2021 yang sebelumnya terakhir berada di level  94.915 selama jam perdagangan Asia. Pencapaian ini mengindikasikan keberlanjutan penurunannya dari level di atas 95 dalam seminggu terakhir. Yen Jepang diperdangankan seharga 114,62 per dolar.

Harga minyak sedikit terangkat selama jam Asia setelah mencapai level tertinggi dua bulan pada Rabu pekan ini. Hal itu terpengaruh pasokan minyak yang terbatas. Harga minyak mentah AS naik 0,13 persen menjadi USD 82,75 per barel.

 

Reporter: Ayesha Puri