Sukses

Pandemi COVID-19, Bumi Resources Alami Rugi USD 338,02 Juta pada 2020

Liputan6.com, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat pendapatan turun dan alami rugi pada 2020. Hal tersebut didorong pandemi COVID-19, harga penjualan rata-rata lebih rendah 14 persen dan volume penjualan turun 7 persen.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/5/2021), PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat pendapatan USD 790,43 juta pada 2020. Pencapaian pendapatan ini turun 28,95 persen dari periode 2019 sebesar USD 1,11 miliar.

Beban pokok pendapatan susut 30,6 persen menjadi USD 698,52 juta pada 2020 dari periode 2019 sebesar USD 1 miliar. Hal itu mendorong laba bruto turun 12,5 persen menjadi USD 91,91 juta pada 2020. Pada 2019, perseroan meraup laba bruto USD 105,08 juta.

Sementara itu, beban usaha turun dari USD 72,73 juta pada 2019 menjadi USD 63,44 juta pada 2020. Laba usaha susut 11,9 persen secara year on year (yoy). Laba usaha tercatat USD 28,47 juta pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya USD 32,35 juta.

Perseroan mencatat penurunan laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama dari USD 100,57 juta pada 2019 menjadi USD 46,85 juta pada 2020. Penghasilan bunga naik menjadi USD 4,26 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya USD 3,51 juta.

Perseroan mencatat beban bunga dan keuangan naik 51 persen dari USD 147,28 juta pada 2019 menjadi USD 222,50 juta pada 2020. Perseroan catat laba kurs USD 4,63 juta pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya rugi USD 3,44 juta.

PT Bumi Resources Tbk mencatat rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk USD 338,02 juta pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya untung USD 6,84 juta. Perseroan alami rugi per saham dasar dan dilusi 4,95 pada 2020.

Total liabilitas tercatat naik 3,2 persen dari USD 3,19 miliar pada 2019 menjadi USD 3,29 miliar pada 2020. Total ekuitas tercatat USD 132,63 juta pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya USD 419,07 juta. Total aset perseroan tercatat USD 3,42 miliar pada 2020 dari periode 2019 sebesar USD 3,61 miliar.

 

2 dari 3 halaman

Penjelasan Manajemen

Dalam keterangan perseroan ke BEI, kinerja 2020 perseroan terjadi di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang menantang. Hal ini ditunjukkan dari harga penjualan rata-rata lebih rendah 14 persen. Selain itu, volume penjualan lebih rendah tujuh perseroan.

"Perseroan mencatat pendapatan operasional sebesar USD 230,3 juta dan margin usaha sebesar 6,3 persen dibandingkan 9,1 persen tahun lalu dan berkat pengendalian biaya yang ketat dan menjaga produksi mendekati normal meski dalam kondisi menatang," demikian mengutip dari keterangan perseroan.

Selain itu, perseroan mencatat rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebagai dampak pandemi. Hal itu dari volume harga lebih rendah, beban bunga termasuk kapitalisasi pada restrukturisa utang, dan penurunan nilai aset dalam eksplorasi akibat pandemi COVID-19.

Di sisi lain, perseroan juga telah membayar USD 341,7 juta atas utang pokok dan bunga tranche A telah dibayarkan hingga April 2021.

Perseroan menyatakan dampak pandemi COVID-19 sangat berpengaruh pada kinerja 2020. Akan tetapi, sinyal pemulihan di sektor batu bara mulai terlihat dan berlanjut pada kuartal I-2021. Perseroan memperkirakan harga rata-rata USD 51/t-USD 54/t pada 2021.

"Dengan kembalinya optimisme sektor, dan tren kenaikan harga batu bara, perseroan berharap dapat meningkatkan kinerja yang signifikan pada 2021," demikian mengutip keterangan perseroan.

 

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini