Sukses

Ikuti Wall Street, Bursa Saham Asia Beragam

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Australia cenderung melemah pada awal perdagangan saham Rabu (24/2/2021). Hal ini didorong sektor saham emas, komunikasi dan bahan baku. Adapun bursa saham Asia cenderung beragam.

Indeks saham Australia ASX 200 melemah 0,58 persen. Indeks sektor saham keuangan tergelincir 0,63 persen. Saham ANZ turun 0,6 persen. Saham Commonwealth Bank melemah 0,44 persen, saham Westpac susut 1,03 persen, saham National Australia Bank tergelincir 0,68 persen.

Bursa saham Asia cenderung variasi. Indeks saham Jepang Nikkei turun 0,40 persen, indeks saham Shanghai menguat tipis 0,01 persen, indeks saham Hong Kong naik tipis. Indeks saham Korea Selatan menguat 0,30 persen.

Pergerakan bursa saham Asia mengikuti wall street yang beragam. Indeks saham Dow Jones sempat melemah kemudian berbalik arah menguat setelah Ketua the Federal Reserve Jerome Powell meredakan kekhwatiran mengenai suku bunga dan inflasi.

Powell menuturkan, ekonomi Amerika Serikat (AS) masih jauh dari  tujuan lapangan kerja dan inflasi. Kemungkinan akan membutuhkan waktu untuk mencapai kemajuan substansial lebih lanjut. Powell menambahkan, inflasi masih “lembut” dan the Federal Reserve berkomitmen pada kebijakan ini.

Direktur National Australia Bank, Tapas Strickland menuturkan, bank sentral mengambil pandangan beragam tentang kenaikan imbal hasil.

"Pasar mendukung pernyataan Powell tetapi tidak menambahkannya dengan mengulangi sikap dovishnya,” ujar dia dilansir dari CNBC, Rabu (24/2/2021).

 

2 dari 3 halaman

Indeks Dolar AS

Indeks dolar AS naik 0,12 persen ke posisi 90,11. Angka ini lebih baik dari perdagangan sebelumnya 89,94. Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong menuturkan, dolar AS berjalan seiring dengan bursa saham AS setelah kesaksian Powell di Kongres.  “Prospek pertumbuhan AS dan global lebih baik tetap konsisten dengan tren turun di counter-cyclical dollar,” ujar.

Di perdagangan Asia, harga minyak mentah berjangka AS turun 0,45 persen menjadi USD 61,39 per barel.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini