Sukses

Pilih-Pilih Reksa Dana Saat IHSG Bergejolak

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung melemah pada kuartal II 2018. Kinerja IHSG lesu dinilai dapat dimanfaatkan untuk masuk secara bertahap di reksa dana saham.

Selain itu, pelaku pasar juga dapat memilih produk reksa dana lainnya seperti reksa dana pendapatan tetap. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung melemah pada kuartal II 2018. Kinerja IHSG merosot 8,49 persen secara year to date (Ytd) ke posisi 5.815,92 pada perdagangan saham Kamis 17 Mei 2018.

IHSG meninggalkan posisi level 6.000 didorong dari faktor eksternal dan internal. Dari eksternal, kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga membayangi pasar modal global termasuk Indonesia. The Fed sebelumnya sudah menaikkan suku bunga acuan sekitar 25 basis poin pada Maret 2018. Diperkirakan the Fed menaikkan suku bunga kembali pada Juni 2018. 

Selain itu, potensi perang dagang AS dan China juga sempat menjadi sorotan pelaku pasar. Potensi perang dagang AS dan China menekan pasar saham. Ditambah kebijakan Presiden Amerika Donald Trump memberikan insentif fiskal untuk perusahaan AS menambah beban pasar saham.

Sedangkan dari internal, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menambah sentimen negatif. Rupiah tembus 14.000 per dolar AS. Selain itu, aksi jual investor asing di pasar saham juga menekan IHSG. Tercatat aksi jual investor asing mencapai Rp 40,33 triliun hingga 17 Mei 2018.

Kinerja IHSG pun diprediksi masih fluktuaktif sepanjang Mei 2018. Direktur PT Panin Asset Management, Rudiyanto menuturkan, pada Mei 2018 masih minim berita positif. Meski demikian, kinerja IHSG masih kurang bergairah tersebut, menurut Rudiyanto dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk berinvestasi terutama di reksa dana saham.

"Investor bisa melakukan penambahan untuk memanfaatkan momentum penurunan tapi bisa dilakukan secara berkala karena pasar masih fluktuaktif," ujar Rudiyanto saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (18/5/2018).

Sementara itu, PT Bahana TCW Investment Management masih melihat produk reksa dana berbasis obligasi masih menjadi favorit kalangan investor pada kuartal II 2018. Hal itu mengingat volatilitas yang masih terjadi di pasar saham.

"Investor mencari imbal hasil yang lebih pasti dan aman. Sementara, mereka masih menghindari pasar saham karena volatilitas yang tinggi,” ujar Presiden Direktur PT Bahana TCW Investment Management, Edward Lubis dalam keterangan tertulis.

Oleh karena itu, ia menuturkan, produk investasi seperti protective fund dan pasar uang dalam durasi pendek paling banyak diminati. Edward menuturkan, pihaknya aktif mencari kupon obligasi dan medium term notes (MTN) korporasi dengan rating mulai dari A hingga A minus. Hal ini sesuai dengan banyaknya permintaan investor untuk menambah jumlah investasi di reksa dana pendapatan tetap maupun terproteksi.

Rudiyanto mengatakan, secara valuasi obligasi sudah sangat menarik. Hal itu lantaran pasar sudah memperhitungkan kenaikan suku bunga acuan atau BI 7 day repo rate sebanyak satu kali. “Sehingga reksa dana pendapatan tetap cukup menarik,” tambah dia.

Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen dengan suku bunga Deposit Facility tetap naik menjadi 3,75 persen dan Lending Facility naik menjadi 5,25 persen.

 

 

2 dari 2 halaman

IHSG Bergejolak, Tiga Perusahaan Tunda IPO

Sebelumnya, sejumlah perusahaan memutuskan untuk menunda pelaksanaan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Penundaan tersebut disinyalir lantaran kondisi pasar saham saat ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat mengatakan, sejauh ini sudah ada tiga perusahaan yang menunda untuk mencatatkan saham di bursa saham. Perusahaan tersebut antara lain PT Harvest Time, PT Artajasa Pembayaran Elektronics dan PT Wahana Vinyl Nusantara.

"Ada (yang tunda IPO). Itu (tiga perusahaan). Yang lain belum ada (yang memutuskan menunda)," ujar dia di Gedung BEI, Jakarta, Rabu 16 Mei 2018.

Dia mengungkapkan, masing-masing perseroan memiliki alasan sendiri untuk menunda pelaksaan IPO. Salah satu soal kondisi pasar saham saat ini.

"Artajasa itu lebih pada peraturan BI (Bank Indonesia). Kemudian yang Harvest itu enggak tahu kenapa. Wahana Vinyl mungkin ke masalah market," kata dia.

Namun demikian, Samsul masih yakin jika kondisi saat ini tidak akan separah pada 2014-2015. Pada 2014 sebanyak 10 perusahaan memutuskan untuk menunda IPO. Menurut dia, kondisi pasar saham saat ini masih lebih baik.

"Saya kira belum sejauh itu. Bayangan saya enggak sejauh itu, karena kalau lihat kekuatan di marketsekarang, penurunan diimbangi dengan masuknya investor yang masuk untuk mengambil saham-saham yang turun. Jadi kalau kita lihat saham pengerek harga merah semua, cuma sore hari reboundlagi," kata dia.

Samsul juga berharap di sisa waktu tahun ini tidak ada lagi perusahaan yang menunda untuk melakukan IPO. Sebab, proses untuk bisa IPO juga terhitung tidak mudah.

"Mudah-mudahan enggak ada (lagi). Karena mereka prosesnya sudah panjang, enggak tahun ini nyiapinnya. mungkin setahun dua tahun lalu. Mereka sudah cari investor qualified. Jadi anchor investornya, tahu industri, tahu perkembangan perusahaan. Mereka sudah yakin bakal masuk," tutur dia.

Seperti diketahui, IHSG sempat sentuh level tertinggi 6.689 pada 19 Februari 2018. Akan tetapi, saat ini kondisinya IHSG jauh level tertinggi tersebut. Hingga perdagangan 15 Mei 2018,IHSG sudah susut 8,14 persen ke posisi 5.838,12. Investor asing jual saham Rp 38,98 triliun.

Pada penutupan perdagangan saham sesi pertama Rabu pekan ini, IHSG melemah 78,11 poin atau 1,34 persen ke posisi 5.760. Total frekuensi perdagangan saham 220.124 kali dengan nilai transaksi Rp 4,6 triliun.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: