Sukses

Khawatir Ekonomi China Picu Wall Street Anjlok Hampir 4%

Liputan6.com, New York - Pelaku pasar bingung dengan kondisi ekonomi China mendorong indeks saham Amerika Serikat (AS) koreksi hampir empat persen di awal pekan. Pada sesi terakhir perdagangan, bursa saham AS mengalami volatilitas tak biasa sehingga mendorong indeks saham S&P 500 mengalami tren penurunan.

Indeks saham Dow Jones bahkan mengalami perdagangan intraday dramatis pernah ada. Indeks saham Dow Jones merosot lebih dari 1.000 poin. Akhirnya, indeks Dow Jones ditutup melemah 588,4 poin (3,57 persen) ke level 15.871,35. Indeks saham S&P 500 koreksi 77,68 poin (3,94 persen) ke level 1.893,21 sehingga mendorong indeks saham itu ke tren penurunan. Indeks saham Nasdaq melemah 179,79 poin (3,82 persen) ke level 4.526,25.

Sementara itu, indeks saham CBOE, indeks saham mengukur kecemasan investor sempat melonjak 90 menjadi 53,29, dan tertinggi sejak Januari 2009. Indeks dolar AS pun turun 1,67 persen. Hal itu lantaran ada kemungkinan kenaikan suku bunga pada September 2015 dibatalkan. Berdasarkan survei, optimisme pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga AS pada September menjadi susut 24 persen.

Volatilitas bursa saham AS terjadi seiring investor semakin khawatir dengan ekonomi China apa lagi setelah pemerintah China sengaja melemahkan/devaluasi mata uang Yuan. Aksi jual pun terjadi di Wall Street. Ini menunjukkan kalau investor semakin gugup dengan harus membayar tinggi untuk saham di tengah kinerja perusahaan minimal, harga energi turun, dan ketidakpastian soal kenaikan suku bunga AS.

"Kemungkinan bursa saham AS masih terbuka alami koreksi melihat apa yang terjadi di China," ujar Randy Frederick, Direktur Perdagangan Charles Schwab, seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (25/8/2015).

Sementara itu, pergerakan saham Apple juga dramatis di awal pekan ini. Sempat turun 13 persen, akan tetapi saham Apple alami pelemahan terbatas sehingga hanya turun 2,47 persen ke level US$ 103,15. Hal itu setelah CEO Apple Tim Cook meyakinkan pemegang saham tentang bisnis di China.

Saham Exxon dan Chevron masing-masing turun lebih dari 4,7 persen. Kapitalisasi pasar perusahaan minyak dan GAS telah kehilangan US$ 310 miliar pada tahun ini.Saham Alibaba susut 3,49 persen menjadi US$ 65,80 di bawah harga penawaran perdana sebesar US$ 68.

Philip Blacanto, Direktur Ladenberg Thalmann Asset Management menuturkan, reaksi investor berlebihan. "Dugaan ekonomi China dapat mendorong ekonomi AS menuju resesi itu hal konyol, ketika dua kali ukuran ekonomi China dan berbasis konsumen," kata dia. 

Volume perdagangan saham pun mencapai 13,9 miliar di bursa saham AS. Angka ini di atas rata-rata perdagangan sekitar 7 miliar saham. (Ahm/Igw)