Analisis Anak Krakatau Kembali Erupsi Setelah Status Turun

Anak Krakatau tercatat dua kali erupsi dalam waktu 15 menit.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 17:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik setelah sempat menurun. Gunung api di perairan Selat Sunda itu tercatat dua kali erupsi dalam rentang sekitar 15 menit, Senin (5/10/2026).

Erupsi pertama terjadi pada pukul 20.13 WIB. Berdasarkan rekaman seismograf, amplitudo maksimum mencapai 55 milimeter dengan durasi erupsi selama 6 menit 29 detik.

Sekitar 15 menit kemudian, erupsi kembali terjadi. Letusan kedua tercatat pada pukul 20.28 WIB dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan berlangsung selama 61 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati karena kondisi pemantauan saat kejadian.

Dua erupsi tersebut terjadi setelah aktivitas Anak Krakatau sebelumnya cenderung menurun. Bahkan, Badan Geologi pada 21 September 2026 menurunkan status gunung api tersebut dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada).

Lantas, apakah dua kali erupsi dalam waktu berdekatan itu menjadi tanda aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat?

Pakar kebencanaan dan gunung api Daryono mengatakan, munculnya kembali erupsi setelah jeda merupakan fenomena yang dapat terjadi pada gunung api aktif.

Menurut dia, aktivitas gunung api tidak selalu berlangsung secara terus-menerus. Aktivitas dapat bersifat episodik atau pulsatif, yakni mengalami fase aktif, mereda, kemudian kembali aktif.

"Gunung api aktif tidak harus mengalami erupsi secara terus-menerus. Aktivitas gunung api dapat berlangsung secara episodik atau pulsatif: aktif, mereda, kemudian aktif kembali," kata Daryono, Rabu (7/10/2026).

Dia menjelaskan, sistem magma dan fluida vulkanik di bawah gunung api terus bergerak secara dinamis. Magma dapat mengalami pelepasan gas atau degassing, sementara fluida dan gas vulkanik bergerak melalui rekahan serta saluran menuju permukaan.

Ketika kondisi memungkinkan, material vulkanik dapat terdorong keluar dan memicu erupsi.

"Jeda erupsi tidak berarti sebuah gunung api telah kehilangan aktivitas vulkaniknya," jelasnya.

Karena itu, dua erupsi Gunung Anak Krakatau pada 5 Oktober belum dapat langsung diartikan sebagai tanda peningkatan aktivitas.

Daryono mengatakan perkembangan aktivitas gunung api harus dilihat sebagai sebuah rangkaian berdasarkan berbagai parameter pemantauan, bukan hanya berdasarkan satu atau dua kejadian erupsi.

"Dua kejadian erupsi tidak sebaiknya dilihat secara terpisah. Perkembangannya perlu dilihat sebagai sebuah rangkaian dan berdasarkan berbagai parameter pemantauan," katanya.

Daryono juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengaitkan kemunculan kembali erupsi dengan kemungkinan terjadinya letusan yang lebih besar.

Menurut dia, kondisi tersebut tetap harus menjadi perhatian, tetapi tidak perlu disikapi dengan kepanikan.

"Masyarakat tidak perlu menafsirkan munculnya kembali erupsi sebagai pertanda bahwa akan segera terjadi erupsi yang lebih besar. Sebaliknya, kejadian ini juga tidak boleh diabaikan," terang dia.

Masyarakat juga diminta tidak terjebak pada spekulasi mengenai apakah erupsi berikutnya akan lebih besar atau lebih kecil.

Hal yang lebih penting, kata Daryono, adalah memahami risiko, mematuhi zona bahaya, serta mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait.

"Sikap yang tepat adalah tetap tenang, waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi," katanya.

Dinamika Gunung Anak Krakatau sepanjang 2026 menunjukkan aktivitas vulkanik yang berubah-ubah.

Badan Geologi mencatat Anak Krakatau kembali memasuki fase erupsi sejak 2 Juli 2026. Aktivitas kemudian meningkat hingga terjadi episode erupsi menerus pada 4 September pukul 23.07 WIB.

Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB.

Setelah erupsi menerus berakhir, aktivitas Anak Krakatau kembali berupa erupsi Strombolian. Dalam evaluasi 10 September, Badan Geologi mencatat sedikitnya 13 kali erupsi Strombolian.

Aktivitas tersebut kemudian menunjukkan kecenderungan menurun hingga Badan Geologi menurunkan status Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada 21 September 2026.

Namun, penurunan aktivitas tersebut bukan berarti sistem vulkanik Anak Krakatau berhenti.

Dua erupsi pada 5 Oktober kembali menunjukkan bahwa dinamika magma dan fluida vulkanik di bawah gunung api tersebut masih berlangsung.

"Erupsi kembali setelah jeda mengingatkan kita bahwa Anak Krakatau adalah gunung api aktif yang memiliki dinamika alamiah sendiri," ucap Daryono.

Daryono menegaskan, masyarakat tidak perlu berfokus pada prediksi apakah erupsi selanjutnya akan lebih besar atau lebih kecil.

Menurut dia, perkembangan parameter vulkanik dan rekomendasi otoritas harus menjadi perhatian utama.

"Yang lebih penting adalah bagaimana perkembangan aktivitas tersebut berdasarkan pemantauan selanjutnya," ujarnya.

Penilaian mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau merupakan kewenangan PVMBG-Badan Geologi berdasarkan hasil pemantauan berbagai parameter vulkanik.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level II. Masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki direkomendasikan tidak mendekati gunung api tersebut atau melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Zona tersebut berpotensi terdampak bahaya erupsi seperti lontaran material vulkanik, abu, gas vulkanik, maupun produk erupsi lainnya.

"Jangan mendekati zona yang direkomendasikan untuk dihindari, jangan mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya, dan selalu mengikuti perkembangan dari otoritas resmi," kata Daryono.

"Kewaspadaan terbaik bukanlah rasa takut, melainkan memahami risikonya, mematuhi zona bahaya, dan mengikuti informasi resmi PVMBG-Badan Geologi," imbuhnya.

Â