Liputan6.com, Jakarta - Ada masa ketika sampah hanya dipandang sebagai akhir. Ia dibuang, ditumpuk, dilupakan. Menjadi beban kota, menyesakkan udara dan pelan-pelan menggerus ruang hidup.
Namun di dua titik berbeda di Pulau Jawa, makna itu sedang diubah. Di Kabupaten Kudus, sampah dapur tak lagi berakhir di timbunan yang membusuk. Ia diolah, difermentasi, lalu kembali ke tanah sebagai pupuk yang menyuburkan, sehingga menjadi daerah ini menjadi apik dan resik.
Sementara di Surabaya, sampah tak berhenti sebagai residu. Ia dibakar dalam teknologi modern, lalu menjelma energi yang menyalakan lampu-lampu kota.
Advertisement
Dari Kudus hingga Surabaya, cerita tentang sampah kini bukan lagi kisah tentang sisa. Ia telah menjadi kisah tentang harapan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5541517/original/086014600_1774865989-Pusat_pengolahan_organik_di_Djarum_OASIS_Kretek_Factory__2_.jpg)
Ketika Sampah Dapur Tak Lagi Menjadi Beban di Kudus
Di kawasan Djarum OASIS Kretek Factory, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, denyut industri tidak hanya bicara tentang produksi. Di lahan yang berdiri sejak 2013 itu, sebuah gagasan tumbuh diam-diam, bahwa limbah organik yang selama ini dianggap remeh, sesungguhnya menyimpan kehidupan.
Sejak 2018, di kompleks ini berdiri Pusat Pengolahan Organik (PPO), sebuah fasilitas yang disebut sebagai yang terbesar di Indonesia. Bukan sekadar tempat mengolah sampah, PPO menjadi ruang pembuktian bahwa persoalan lingkungan dapat dijawab dengan keseriusan, teknologi dan kesabaran.
Setiap hari, sekitar 100 ton bahan baku sampah dapur masuk ke fasilitas ini. Melalui sistem fermentasi, sampah-sampah itu diproses tanpa hiruk-pikuk, tanpa aroma menyengat, tanpa ledakan gas metana yang kerap menghantui tempat pembuangan terbuka. Hasilnya, lahir sekitar 50 ton pupuk organik setiap harinya.
Dengan standar pengolahan yang disebut mengacu pada praktik di Singapura dan Australia, tempat ini menjadi bukti bahwa sampah dapur tak harus identik dengan bau busuk, lalat, dan ancaman kebakaran.
Di Kudus, limbah organik justru diperlakukan dengan disiplin, dipilah sejak awal, diangkut secara khusus, lalu diproses agar kembali memberi manfaat.
Sumbernya pun tak sedikit. Sampah organik yang masuk ke PPO berasal dari 408 mitra di seluruh Kota Kudus yaitu rumah tangga, hotel, restoran, rumah sakit, gabungan kelompok tani, hingga dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 12 kendaraan operasional hilir mudik setiap hari, memastikan hanya sampah organik yang telah dipilah yang sampai ke tempat ini.
Bagi Timothy Ariel, Supervisor Program Associate Bakti Lingkungan Djarum Foundation, PPO lahir dari kegelisahan yang sangat nyata. Bertahun-tahun, TPA Tanjungrejo menanggung beban sampah dapur yang menumpuk tanpa solusi.
“Di TPA itu, sekitar 70 persen yang dibuang adalah sampah dapur yang hanya dibuang begitu saja tanpa diolah dan dimanfaatkan,” ujarnya saat berbincang dengan liputan6.com beberapa waktu yang lalu di Kudus, Jawa Tengah, ditulis Senin (30/3/2026).
Dari keresahan itulah gagasan dibangun. Bukan untuk sekadar mengurangi timbunan, melainkan memutus cara pandang lama bahwa sampah harus selalu berakhir di tanah pembuangan.
“Hasilnya kini sudah banyak. Namun produksi itu belum mencapai kapasitas maksimal. Maksimalnya bisa menghasilkan 100 ton sampah organik, sekarang baru 50 ton selama 16 jam operasional,” kata Timothy.
Menariknya, hasil pengolahan di PPO tidak diperjualbelikan. Sebagian digunakan untuk pembibitan tanaman di area yang sama, sementara sisanya bisa diambil gratis oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya.
Sebuah keputusan yang sederhana, namun menyimpan filosofi besar bahwa manfaat lingkungan semestinya kembali kepada publik, bukan semata menjadi komoditas.
Advertisement
Dari Pupuk ke Pohon, dari Pohon ke Masa Depan
Di Djarum OASIS, perjalanan sampah tidak berhenti pada pupuk. Di sisi lain kawasan, tumbuh Pusat Pembibitan Tanaman (PPT), ruang hijau yang merawat benih-benih kehidupan.
Di sini, berbagai jenis tanaman dikembangkan, dari tanaman langka hingga aneka tanaman buah seperti mangga, alpukat, pisang, dan beragam jenis lainnya. Sebagian besar dibibitkan dari biji, dirawat secara telaten, prosedural, dan berlapis hingga menjadi bibit siap tanam yang sehat dan berkualitas.
Seperti pupuk organiknya, bibit-bibit ini juga tidak diperjualbelikan. Siapa pun baik organisasi, lembaga, kelompok PKK, komunitas, hingga warga biasa dapat mengajukan permohonan untuk mengambilnya secara gratis, tentu dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Dari tempat inilah salah satu gerakan hijau besar milik Djarum, Trees for Life, mendapat tenaga. Bibit-bibit dari Kudus kemudian menempuh perjalanan jauh, ditanam di banyak titik Indonesia, menjadi peneduh jalan, penahan abrasi, hingga penjaga kawasan pegunungan.
Hingga kini, tercatat 2,3 juta pohon trembesi telah tertanam di sepanjang jalur Pantura Jawa, ruas Tol Trans Jawa dari Merak hingga Banyuwangi, serta Tol Trans Sumatera, membentang sekitar 3.361 kilometer.
Tak hanya itu, lebih dari 1.102.468 pohon mangrove telah ditanam di Pantai Utara Jawa Tengah, sementara lebih dari 103.400 ragam jenis pohon ditanam di kawasan Gunung Muria.
Di tengah krisis iklim dan ancaman degradasi lingkungan, angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah jejak dari satu keyakinan bahwa menanam pohon adalah menanam kemungkinan masa depan.
Kudus mengajarkan bahwa sampah dapur yang selama ini dianggap sepele bisa kembali menjadi pupuk, menjadi pohon, menjadi teduh dan menjadi lebih Apik dan Resik.
Benowo: Ketika Sampah Menjadi Cahaya
Ratusan kilometer dari Kudus, di ujung barat Surabaya, kisah lain tumbuh dari tempat yang dulu nyaris tak pernah dibayangkan sebagai simbol harapan.
TPA Benowo pernah lama dikenal sebagai wajah paling keras dari persoalan kota besar yaitu gunungan sampah, aroma menyengat, dan beban yang seolah tak pernah selesai. Tempat itu dulu identik dengan sisa, dengan penolakan, dengan apa yang ingin dijauhkan dari kehidupan sehari-hari.
Kini, wajah itu berubah. Di Benowo, sampah tidak lagi semata ditimbun. Ia diolah. Ia diproses. Ia diubah menjadi sesuatu yang tak pernah disangka yakni listrik.
Hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo menjadi jawaban atas dua krisis yang selama ini berjalan beriringan, krisis sampah dan kebutuhan energi. Dari tumpukan limbah yang setiap hari lahir dari denyut Kota Surabaya, energi bersih diproduksi dan dialirkan kembali ke masyarakat.
Surabaya saat ini memiliki fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi Waste to Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Benowo dengan kapasitas sekitar 1.000 ton per hari. Sementara itu, timbunan sampah Kota Pahlawan telah mencapai sekitar 1.800 ton per hari.
Dua teknologi utama bekerja nyaris tanpa sorotan. Pertama, gas power plant, yang memanfaatkan gas metana dari timbunan sampah. Kedua, gasification, yang membakar sampah pada suhu tinggi untuk menghasilkan panas, lalu mengonversinya menjadi listrik.
Dari proses inilah, sampah menemukan makna baru. Ia tidak lagi berhenti sebagai residu, melainkan berputar dalam siklus yang memberi nilai.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, mencatat bahwa selama sembilan tahun beroperasi, PLTSa Benowo telah menyumbang energi bersih sebesar 166,1 gigawatt hour (GWh).
“PLTSa Benowo merupakan wujud nyata kolaborasi PLN dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk mendukung energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan,” ujarnya.
Pembangkit ini terdiri dari dua unit utama. Unit pertama berkapasitas 1,65 megawatt, menggunakan sistem sanitary landfill, dan telah beroperasi sejak November 2015.
Unit kedua, yang lebih besar, berkapasitas 9 megawatt, menggunakan sistem gasification dengan konsep zero waste, dan mulai beroperasi pada Maret 2021.
Setiap tahun, fasilitas ini menyuplai sekitar 5,5 GWh dari pembangkit berbasis gas metana dan sekitar 30 GWh dari sistem gasifikasi.
Angka-angka itu mungkin terdengar teknis. Namun di baliknya, tersimpan satu pesan yang sangat manusiawi, sesuatu yang selama ini dibuang dan dihindari, ternyata masih bisa memberi terang.
Di Benowo, sampah telah menemukan takdir barunya. Ia bukan lagi akhir dari segalanya. Ia adalah awal dari cahaya.
Surabaya membuktikan bahwa sampah kota yang selama ini menyesakkan bisa berubah menjadi listrik, menjadi daya, menjadi terang.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5541516/original/076378600_1774865989-Pusat_pengolahan_organik_di_Djarum_OASIS_Kretek_Factory.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1372665/original/083939200_1476339147-surabaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884477/original/ACg8ocJREsAsdQaP_nhdAJL-16rqd-zqi89ZLO-R1BdRN3rTTbRJxRA%3Ds200.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776135/original/014006000_1782843284-063_2284049459.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776134/original/059322300_1782843171-000_B8UA24W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299157/original/094356500_1605660408-AP20322768020969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710453/original/039368100_1782790641-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378845/original/006458400_1782257129-England_s_Harry_Kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8446024/original/018118400_1782340487-Wanita_meninggal_dalam_mobil_di_parkiran_Bandara_Juanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8413419/original/070813700_1782297885-Yuni_Shara_0.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262367/original/079744400_1781782437-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_18.30.30.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261434/original/078133000_1781702082-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261225/original/026647000_1781689711-Demo_mahasiswa_di_Surabaya.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260610/original/046187600_1781611065-WhatsApp_Image_2026-06-16_at_18.48.41.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259983/original/042721700_1781527105-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257560/original/090077100_1781247748-Korban_dianiaya_gara-gara_sandal.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8207006/original/055775100_1781065713-ChatGPT_Image_Jun_10__2026__11_27_56_AM.jpg)