Sejarah Masjid Mungsolkanas Bandung: Tradisi Selawatan dan Salinan Alquran

Tempat ibadah yang terletak dalam Gang Mama Winata, Jalan Cihampelas RT 02 RW 05, Kelurahan Cipaganti itu berusia 157 tahun, dibangun sejak 1869 silam.

Diterbitkan 21 Februari 2026, 14:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penamaan masjid di Indonesia lazimnya diambil dari bahasa Arab. Sebut saja beberapa masjid ikonik seperti Masjid Istiqlal di Jakarta, Masjid Raya Baiturrahman di Aceh, hingga Al-Jabbar di Bandung. Maka tidak heran jika sebagian orang akan asing ketika mendengar Masjid Mungsolkanas.

Sebuah masjid yang disebut-sebut jadi yang paling tua di Kota Bandung. Mungsolkanas merupakan akronim dari kalimat bahasa Sunda “Mangga Urang Ngaos Sholawat Kanggo Kanjeng Nabi Muhammad SAW”, artinya “mari kita berselawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW”.

Tempat ibadah yang terletak dalam Gang Mama Winata, Jalan Cihampelas RT 02 RW 05, Kelurahan Cipaganti itu berusia 157 tahun, dibangun sejak 1869 silam hasil swadaya masyarakat. Berdiri di tanah wakaf atas nama Hj Siti Lantenas, dikenal sebagai seorang janda kaya dari camat di wilayah Lengkong Sukabumi.

Penamaan itu tentu tidak asal. Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Mungsolkanas, Utep Rahmat menjelaskan, selawatan memang sangat lekat dengan masyarakat setempat sedari lama. Bagi mereka, salah satu upaya dalam memakmurkan masjid adalah dengan berselawat kepada nabi.

"Kearifan lokal di sini memang keyakinan beragama orang sini itu sangat meyakini, menjunjung tinggi nilai-nilai selawat kepada Rasulullah. Sampai masjidnya juga diberi nama itu," kata Utep, Kamis (19/2/2026).

"Selawatan jadi salah satu kebiasaan, bahkan jadi seperti kebutuhan warga. Jadi sebelum salat, setelah salat itu kita berselawat. Terus ketika ada yang meninggal juga ada selawatannya," lanjut Utep.

Selain soal selawat, masjid yang bersejarah ini juga menandai nilai gotong-royong masyarakat, menyimpan salinan Alquran yang dijaga secara temurun, hingga cerita tentang Presiden RI ke-1, Soekarno, yang pernah singgah dan tidur di sana.

Merawat Amanah Generasi ke Generasi

Saat awal didirikan lebih dari seabad lalu, bangunan masjid itu berupa rumah panggung sederhana berdinding anyaman bilik bambu hasil gotong-royong warga kala itu. Menurut cerita, sebelum berada di tengah gang seperti sekarang, tempat ibadah tersebut berada antara persawahan dan permukiman.

Masjid Mungsolkanas pertama kali direnovasi pada tahun 1933 atas inisiasi tokoh masyarakat saat itu bernama Mama Aden. Bertepatan dengan pembangunan masjid ikonik lainnya di kelurahan yang sama rancangan arsitek Belanda, Charles Proper Wolff Schoemaker.

"Kalau masjid kelurahan itu proyek Belanda, kalau ini memang swadaya masyarakat aja dari awal juga," tegas Utep.

Warga sekitar, Wahrisman (72) membagikan kenangan. Pada 1960-an silam, katanya, bangunan Masjid Mungsolkanas masih berbilik bambu dan kayu. Tapi lantainya berubah dari bentuk awal panggungan kayu menjadi tegel.

Di samping masjid, terdapat kolam ikan yang berada tak jauh dari tempat berwudu. Tak ada pengeras suara. Warga sangat mengandalkan bedug sebagai penanda waktu salat hingga perayaan keagamaan lainnya.

"Dari dulu juga sudah aktif pengajian di sini, untuk anak kecil juga sampai orang dewasa," katanya.

Proses renovasi besar-besaran kembali dilakukan pada 2007-2009. Wahrisman ditunjuk jadi kepala renovasi saat itu. Masjid diubah bertingkat dua lantai. Selain difungsikan sebagai area tempat shalat, sebagian ruangan di lantai dua kini difungsikan sebagai taman pendidikan Alquran (TPA).

Bentuk bangunan Masjid Mungsolkanas diakui memang berubah-ubah seiring zaman, tapi perubahan itu diaku tidak selalu berarti menggerus nilai sejarah, justru upaya merawat amanah dari generasi ke generasi.

Aman itu adalah tentang bagaimana memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah serta menjadikannya tempat yang bermanfaat bagi umat sekitar. Selain itu, yang tetap dipertahankan adalah nilai gotong-royong.

"Masjid Mungsolkanas tidak menjadi museum, tetapi hidup sebagai masjid kampung yang aktif. Pengajian anak-anak, pengajian ibu-ibu, pendidikan usia dini, hingga kegiatan Ramadan masih berjalan rutin," sambung Utep Rahmat.

Selain itu, katanya, secara berkala diselenggarakan layanan kesehatan gratis bekerja sama dengan rumah sakit, sebuah tradisi kepedulian sosial yang dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.

"Meskipun masuk dalam gang kecil, tetapi seperti melangkah ke lorong waktu, kembali ke Bandung yang lebih pelan, lebih bersahaja," katanya.

Tentang Soekarno dan Salinan Alquran

Utep mengatakan, cerita lain yang berkembang di masyarakat adalah tentang Presiden Soekarno. Sang Proklamator itu disebut pernah singgah dan tidur di masjid tersebut.

Hingga kini, belum ditemukan bukti dokumentasi semisal berupa foto yang mengabadikan momen tersebut. Namun, cerita itu telah ramai beredar dari mulut ke mulut sejak lama. Muncul dugaan, kisah itu terjadi semasa Presiden Soekarno menempuh pendidikan di ITB.

Pasal, saat itu daerah tersebut diakui jadi wilayah yang dilewati ketika mahasiswa-mahasiswa ITB berangkat berjalan kaki dari indekos menuju kampus.

"Di sini saya dulu itu banyak mahasiswa-mahasiswa ITB," aku Utep.

Meski tak ada bukti dokumentasi, cerita ini dirasa jadi kebanggaan dan salah satu momen bersejarah, setidaknya bagi masyarakat sekitar yang memang merasa memiliki Masjid Mungsolkanas.

Masjid Mungsolkanas diketahui memuat salah satu peninggalan yang dinilai penting oleh warga yaitu salinan Alquran yang ditulis tangan oleh sesepuh atau tokoh masyarakat Mama Aden. Hingga saat ini, salinan itu terpajang di bagian lantai dua masjid.

“Menurut sesepuh di sini, dulunya ini disalin, ditulis oleh Mama Aden. Hingga sekarang kami menjaga ini sebagai bagian dari peninggalan di Masjid Mungsolkanas ini. Alhamdulillah,” katanya.

Sebagai masjid tertua di Kota Bandung, Masjid Mungsolkanas bukan hanya bangunan ibadah tapi juga penanda sejarah bagaimana Islam tumbuh di Kota Bandung yang berkelindan dengan nilai gotong-royong hingga bahasa lokal yang memang telah hidup di masyarakat.

“Jadi pengingat bahwa dakwah tidak selalu harus megah, dan sejarah tidak selalu berdiri di jalan besar,” pungkas Utep.

  • Ramadan adalah bulan suci umat Islam yang dirayakan dengan cara melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
    Bulan Ramadan adalah periode suci bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk berpuasa, meningkatkan ibadah, dan mempererat tali silaturahmi, dengan panduan lengkap mencakup jadwal, fiqih, gaya hidup, ekonomi, dan kesehatan.
    Ramadan
  • Bandung merupakan ibu kota Jawa Barat
    Bandung merupakan ibu kota Jawa Barat
    Bandung
  • masjid
  • Ramadhan 2026