Salah satu wilayah terparah akibat banjir adalah Aceh Tamiang. Kapolda Aceh Irjen Marzuki Ali Basyah menyebut kawasan ini sebagai kota mati. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Aceh dilanda bencana banjir dan tanah longsor yang parah sejak akhir November dan awal Desember 2025. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Aceh diterjang dampak dari Siklon Tropis Senyar yang berasal dari bibit sikon 95B di Selat Malaka. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Siklon ini menyebabkan cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi, dan banjir yang luas. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Dirangkum dari berbagai sumber resmi, sampai Rabu (3/12/2025), tercatat korban tewas akibat banjir dan longsor mencapai 249 jiwa. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Selain itu 227 orang masih dinyatakan hilang. Sedangkan korban luka ringan 1.435 orang dan 403 orang luka berat. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Jumlah warga yang terdampak banjir mencapai 1,45 juta jiwa atau 229.767 kepala kepala keluarga. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Sebanyak 660.642 orang dari 157.321 kepala keluarga terpaksa mengungsi di 828 lokasi berbeda. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Sedangkan infrastruktur yang rusak tercatat 77.049 rumah, 302 titik jalan, 152 jembatan, 138 kantor, 51 tempat ibadah, 201 sekolah, dan 4 pondok pesantren. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Lahan pertanian yang rusak terdapat 139.444 hektare lahan sawah dan 12.012 hektare perkebunan. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Perbesar
Warga yang sebagian termangu di tepi jalan, di antaranya ada yang marah-marah. Air bersih tidak ada, sejak banjir melanda warga tidak pernah mandi. Mereka minum dari air banjir yang disaring. Seluruh perkantoran di Aceh Tamiang tak berfungsi. (Foto: AKBP Sabri, Korspripim Polda Aceh)
Banjir adalah peristiwa bencana alam yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan.