Sosok 'Panglima Perang' Sapiria yang Tewas Tertembak hingga Picu Tawuran Warga di Makassar

Kematian salah satu warga Kampung Sapiria, Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo, Makassar bernama Nur Syam Sutte alias Civas (35), memicu tawuran besar di Makassar.

OlehFauzan
Diterbitkan 24 November 2025, 22:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar - Kematian salah satu warga Kampung Sapiria, Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo, Makassar bernama Nur Syam Sutte alias Civas (35) menjadi buah bibir selama sepekan terakhir. Bagaimana tidak, setelah pria berusia 36 tahun itu meninggal dunia, tawuran antarwarga pecah hingga 13 rumah dilaporkan dibakar pada Selasa (18/11/2025).

Tepat setelah kepergian Civas sekitar pukul 09.30 Wita hari itu, sebuah pesan berantai tersebar dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya. Dalam pesan itu disebutkan bahwa Civas adalah panglima perang.

"Sekadar info jangan lewat depan (TPU) Beroangin Pannampu, panglimanya Sapiria meninggal dikena senapan burung. Sebentar perang besar-besaran kalau sudah dikebumikan," demikian tertulis dalam pesan berantai tersebut.

Kematian Civas bermula ketika tawuran antarwarga Kampung Sapiria dengan Lorong Borta pecah untuk kesekian kalinya pada Minggu, 16 November 2025.

Dalam sebuah laporan, Civas saat itu disebut hanya datang untuk menonton. Namun polisi memastikan bahwa Civas juga turut ikut dalam tawuran. Ia ikut bersama kawan-kawannya, kelompok pemuda Kampung Sapiria.

"Iya, korban juga ikut perang kelompok," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulsel, Kombes Pol Setiadi Sulaksono, Senin (24/11/2025).

Belakangan, Civas tiba-tiba tertembak di bagian pelipis kanan. Berdasarkan data yang diterima Liputan6.com, pelaku penembakan adalah CB, yang menembak Civas dari lantai dua sebuah rumah berwarna kuning yang berada di Lorong Borta.

"Korban terkena peluru di pelipis kanan," ucap Setiadi lagi.

Bukannya langsung dilarikan ke rumah sakit, Civas justru memilih dirawat oleh keluarganya di rumah. Berselang dua hari kemudian, kondisinya kian memburuk hingga pihak keluarga memutuskan membawanya ke Rumah Sakit Akademis untuk menjalani operasi.

"Pada 18 November sekitar pukul 09.30 Wita, korban dinyatakan meninggal dunia. Pemakaman berlangsung sekitar pukul 13.00 Wita," kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto.

Tak lama setelah Civas dimakamkan di TPU Beroangin, tawuran antarwarga benar-benar pecah. Apalagi lokasi pemakaman Civas berada di antara Kampung Sapiria dan Lorong Borta.

"Usai pemakaman, sekitar pukul 14.30 Wita, kelompok dari Sapiria melakukan penyerangan terhadap kelompok Borta, yang mengakibatkan terbakarnya 13 unit rumah," jelas Didik.

Dalam laporan yang diterima, rumah yang pertama kali dibakar adalah rumah kuning tempat CB menembak Civas dari jarak jauh menggunakan senapan angin modifikasi jenis PCP.

Polisi kini telah menangkap CB dan menetapkan pria yang berprofesi sebagai mekanik itu sebagai tersangka. CB dijerat Pasal 338 KUHP, subsider Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang pembunuhan.

"Ancaman pidananya maksimal 15 tahun penjara," ujar Didik.

 

Sang Panglima Perang yang Sudah Insaf

Rijal, ipar korban, yang dihubungi awak media menuturkan bahwa sebelum kejadian, Civas—atau warga setempat menyebutnya Kipas—baru saja pulang dari berjualan bersama keluarga di Pelabuhan Makassar.

Ia meluruskan kabar yang menyebut korban sebagai panglima perang. Menurutnya, hal itu tidak benar.

"Tidak benar kalau ipar kami panglima perang. Itu hoaks," kata Rijal saat dihubungi awak media.

Menurutnya, korban saat itu hanya datang ke lokasi tawuran karena ingin melihat situasi bentrokan yang menimbulkan banyak korban.

"Ipar kami cuma pergi lihat orang perang karena banyak yang jadi korban. Tapi akhirnya dia sendiri juga jadi korban," ungkap Rijal melalui pesan WhatsApp.

Sementara itu, MS, salah seorang warga, menjelaskan bahwa Civas dulunya memang adalah tokoh pemuda di wilayah Kampung Sapiria. Ia dikenal sangat dekat dengan sejumlah kelompok anak muda.

"Mungkin itulah kenapa dia dibilang panglima, karena memang dulu banyak anak muda yang mendengar kalau dia bicara," ucap MS kepada Liputan6.com.

Ia mengisahkan bahwa pada kisaran tahun 2015 atau 2016, Civas pernah terlibat dalam peredaran narkotika di sekitar tempat tinggalnya. Apalagi Kampung Sapiria memang dikenal dengan julukan Kampung Narkoba.

"Pernah ditangkap dulu, bahkan kabarnya dia ditembak sama anggota (polisi)," bebernya.

Namun sejak beberapa tahun terakhir, Civas benar-benar telah insaf. Ia menanggalkan dunia hitam yang digelutinya bertahun-tahun dan memilih jalan agama.

"Wah, sudah insaf dia. Dia sekarang itu fokus berdagang. Kan dia ikut Jemaah Tabligh. Kabarnya mau ke Padang ikut pengkajian agama juga, tapi sayang Tuhan berkata lain," ungkap MS.

Menurut MS, saat tertembak, Civas sedang pergi mencari anaknya. Ia memastikan bahwa kehadiran Civas di lokasi tawuran bukan untuk ikut perang kelompok.

"Bukan. Dia kan sudah insaf. Dia ke sana itu cari anaknya," pungkasnya.