6 Mahasiswa Korban Tragedi Sungai Jolinggo Ditemukan, Ini Identitasnya

Enam mahasiswa yang meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Jolinggo akhirnya ditemukan. Semua ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Rektor menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi ini. Padahal, mahasiswanya sedang menjalani KKN saat insiden itu terjadi.

Diterbitkan 06 November 2025, 12:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Korban terakhir insiden mahasiswa tewas tenggelam di Sungai Jolinggo, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, yakni Nabila Yulian Dessi Pramesti (21), akhirnya ditemukan pada Rabu (5/11) malam pukul 21.50 WIB. Korban ditemukan berjarak 10 kilometer dari lokasi kejadian. Kondisinya meninggal dunia. 

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Semarang, Budiono mengonfirmasi penemuan tersebut.

"Kami menerima informasi dari warga setempat yang menemukan sesosok mayat. Setelah diverifikasi, ternyata itu adalah Nabila, korban terakhir yang kami cari," kata Budiono. 

Pada Rabu pagi, dua korban lain juga ditemukan dan dievakuasi. Masing-masing adalah Bima Pranawira (21) yang ditemukan dengan jarak hanya 150 meter dari lokasi kejadian dan Muhammad Jibril Asyarafi (21) yang ditemukan 3,5 kilometer dari titik awal. 

"Terima kasih kepada seluruh tim SAR yang tak kenal lelah. Semoga tragedi ini menjadi pengingat bagi kita untuk lebih waspada terhadap aktivitas di sungai, terutama di musim penghujan seperti sekarang," kata Budiono.

Ini Identitas 6 Mahasiswa Tragedi Sungai Jolinggo 

1. Riska Amelia dari Desa Penusuban RT 12 RW 1, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang

2. Nabila Yulian Dessi Pramesti dari Desa Majasari RT 11 RW 2, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro

3. Syifa Nadilah dari Dusun Gombong, Desa Warungpring, Kecamatan Warungpring, Kabupaten Pemalang

4. Muhammad Jibril Asyarafi dari Jl. Ratu Kalinyamat RT 6 RW 9, Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara

5. Bima Pranawira dari Jl. Pangeran Diponegoro No. 3 RT 2 RW 1, Sungonlegowo, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik

6. Muhammad Labib Rizqi dari Jl. Ki Hajar Dewantoro No. 215 Gg 12A RT 2 RW 9, Desa Noyonta Antasari, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan.

Kronologi KKN Berujung Duka

Kronologi tragedi tragis ini bermula pada Selasa (4/11) siang. Sebanyak 15 mahasiswa UIN Walisongo yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Getas, Singorojo, Kendal, memutuskan melepas penat dengan bermain air di Sungai Jolinggo. Namun, tak lama kemudian, hujan deras mengguyur hulu sungai dan memicu banjir bandang.  

Debit air melonjak drastis langsung menyapu para mahasiswa ini. Sembilan mahasiswa berhasil menyelamatkan diri ke tepian. Namun enam lainnya terseret arus. Tim Basarnas segera menggelar operasi pencarian 24 jam penuh.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Jawa Tengah sedang memasuki puncak musim hujan pada November 2025, dengan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi yang berpotensi terjadi di wilayah selatan termasuk Kendal. Peringatan dini BMKG pada 4-5 November menyebut potensi hujan lebat disertai petir. 

Data BMKG menunjukkan, curah hujan di Jawa Tengah meningkat 43 persen dibanding bulan sebelumnya. Berdasarkan data itu kemudian direkomendasikan urgensi mitigasi bencana di musim ini.

 

Respons Rektor UIN Semarang

Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Nizar Ali menyampaikan duka cita mendalam atas kehilangan para mahasiswa berprestasi ini. Rektorat menyampaikan komitmennya untuk mengevaluasi protokol keamanan KKN, termasuk pengawasan lapangan dan edukasi risiko alam. 

"Kami juga langsung menyiapkan pendampingan psikologis bagi keluarga dan rekan-rekan korban mahasiswa yang selamat," kata Rektor. 

Kepala Kantor SAR Semarang Budiono menekankan hikmah dari tragedi ini. Menurutnya kehilangan enam mahasiswa berprestasi ini bukan hanya meninggalkan duka mendalam, melainkan pengingat getir akan ketidakpastian alam.

"Manusia adalah bagian dari keseluruhan yang disebut oleh kita alam semesta, sebuah bagian yang terbatas dalam waktu dan ruang. Tugas kita haruslah membebaskan diri dari penjara ini dengan memperluas lingkaran empati kita untuk merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam dengan keindahannya," kata Budiono.