Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan Tepis Isu Korupsi Jalan Mempawah Kalbar

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyebut pemberitaan yang beredar terkait dugaan korupsi hanya melebih-lebihkan demi merusak citra.

Diterbitkan 28 September 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pontianak - Langit Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) meredup pada Jumat sore 26 September 2025. Di pendopo, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan berdiri tegak. Wajahnya teduh, senyum tipis kadang terbit seperti embun di pucuk daun.

Sejurus kemudian, mikrofon dan juru kamera menatap tanpa berkedip. Pertanyaan berulang soal dugaan korupsi proyek peningkatan Jalan Sekabuk-Sei Sederam dan Jalan Sebukit Rama-Sei Sederam, Mempawah, menanti jawaban.

"Tidak ada kerugian negara. Angka Rp 0 miliar itu media yang buat," ucap Ria Norsan tegas, suaranya membelah riuh.

Ia menyebut pemberitaan yang beredar hanya melebih-lebihkan demi merusak citra.

"Rilis KPK tidak ada, BPK atau BPKP pun belum sebut angka," kata Ria Norsan.

Senyum itu bukan sekadar basa-basi. Sejak pagi, isu korupsi menelan headline media lokal dan nasional. Nama Ria Norsan, mantan Bupati Mempawah dua periode, kembali diguncang.

Isu Lama Menyala

Proyek jalan yang digadang memperlancar jalur Mempawah itu dikerjakan pada 2015, saat Ria Norsan masih bupati. Saat itulah, desas-desus soal anggaran dan dugaan markup muncul.

Namun, kata Ria Norsan, KPK tak pernah merilis nilai kerugian negara. Audit resmi BPK maupun BPKP pun, hingga kini, nihil angka.

"Kerugian negara belum jelas dari BPK atau BPKP. Tidak ada. Kalau soal rekening, memang pernah diblokir pada 2018, tapi sudah lama dibuka kembali. Itu rekening BCA saya," terang dia.

 

 

Jejak-Jejak KPK

Sehari sebelumnya, Kamis 25 September 2025, sembilan penyidik KPK menyisir tiga lokasi, rumah pribadinya di Pontianak, rumah dinas Bupati Mempawah, dan satu tempat lain terkait proyek jalan. Dua petugas Polda Kalbar mendampingi.

"Alhamdulillah, di tiga lokasi itu tidak ditemukan dokumen atau barang yang terkait," kata dia.

Isu 'koper hitam' yang dibawa petugas pun ia bantah sambil tertawa kecil.

"Itu koper pakaian bekas yang mau saya sedekahkan. Saat diperiksa, kosong," ucap Ria.

Rekaman CCTV yang menampakkan koper menjadi bahan spekulasi publik.

"Coba saja ambil lagi koper kosong itu, diperiksa, pasti dibuka kosong semua," kata Ria Norsan.

Ria mengaku saat penggeledahan berlangsung dirinya sedang di kantor.

"Status saya masih saksi. Aparat bekerja profesional, dan saya menghormati proses pemeriksaan," terang dia.

 

Kooperatif di Tengah Sorot

Kasus dugaan korupsi ini bukan baru baginya. Pada 2018, ia pernah dimintai keterangan. Surat perintah penyidikan baru KPK pada April 2025 membuat namanya kembali mencuat. Sebagai pejabat publik, dia memilih jalan kooperatif.

"Saya menghormati dan mendukung aparat penegak hukum agar semuanya berjalan sesuai prosedur," ucap Ria Norsan.

Publik menunggu audit resmi yang akan menentukan ada tidaknya kerugian negara. Tanpa angka pasti, isu Rp40 miliar tetap menjadi gosip yang berputar di ruang publik dan linimasa media sosial.

Di tengah pusaran opini dan spekulasi, Ria Norsan tetap memelihara ketenangan. Senyum tipisnya di pendopo gubernur menjadi simbol keyakinan bahwa hukum masih menjadi jalan lurus.

Kasus ini kini berada di tangan KPK. Audit BPK dan BPKP akan menentukan langkah selanjutnya. Hingga itu terbit, Ria Ria memilih diam dalam elegansi. dia percaya, seperti ia ucapkan sore itu.

"Hukum harus dijalankan, dan saya mendukung penuh prosesnya," tandas Ria Norsan.

Sementara kamera memotret setiap gerak, publik menunggu babak baru. Di ruang pendopo yang berangin sore, senyum tipis itu seakan menyampaikan pesan, badai isu bisa lewat, asalkan keyakinan pada hukum tetap teguh.