Kisah ABK Kapal TB Kapuas Bahari yang Pulang Tinggal Nama

Imanuel Ramebunu (36), anak buah kapal TB Kapuas Bahari yang hilang usai terjatuh akhirnya ditemukan.

Diperbarui 14 September 2025, 20:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kubu Raya - Air Sungai Kapuas siang itu tampak tenang. Cermin langit membentang di permukaan, seolah menolak menunjukkan rahasia yang ada di dalamnya. Di balik ketenangan itu, ada satu kisah duka, Imanuel Ramebunu (36), anak buah kapal TB Kapuas Bahari 15 sempat dinyatakan hilang, akhirnya ditemukan sudah terbujur kaku dalam kantong jenazah berwarna oranye.

Nama Kapuas selalu melekat sebagai urat nadi Kalimantan Barat. Sungai Kapuas, membentang sejauh 1.143 kilometer, bukanlah sekadar bentangan air yang mengalir. Ia adalah nadi yang sejak ratusan tahun lalu memberi napas bagi setiap jiwa yang hidup di tepinya.

Dari masa ke masa, manusia menggantungkan harapannya pada arusnya sebagai jalan pulang, sebagai pasar yang tak pernah tidur, dan sebagai ladang rezeki yang menyuapi anak-anak kecil agar tetap bisa tersenyum semringah setiap saat.

Namun, sungai yang menghidupi itu juga menyimpan wajah lain, wajah muram yang kadang merenggut mereka yang terlalu percaya pada pelukannya.

Tetapi, sebagaimana kehidupan, sungai juga bisa menelan. Ia bisa menjadi kawan, sekaligus membawa pergi mereka yang berlayar di atasnya.

Pencarian Sembilan Hari

Kepala Kantor SAR Pontianak I Made Junetra, tak mampu menutupi kelegaan bercampur duka ketika menyampaikan kabar.

"Hari ini korban telah ditemukan masih di sekitar lokasi tenggelam, dalam keadaan meninggal dunia. Jasad korban telah diserahkan kepada pihak keluarga," katanya, Minggu (14/9/2025).

Proses pencarian Imanuel Ramebunu berlangsung hingga sembilan hari. Tim SAR, aparat, hingga masyarakat bergantian menelusuri arus, menyisir tepi sungai, dan menggelar doa di bawah langit yang muram. Namun, hingga hari terakhir pencarian, hasilnya nihil.

Pagi itu, keajaiban getir terjadi. Tubuh Imanuel Ramebunu akhirnya ditemukan, tak jauh dari tempat ia terjatuh. Proses pencarian resmi ditutup. Tetapi bagi keluarga, kisah kehilangan ini tak pernah benar-benar berakhir.

TB Kapuas Bahari 15, kapal yang menjadi tempat Imanuel mencari nafkah, hanyalah satu dari sekian banyak kapal tunda yang lalu-lalang di jalur air Pulau Kalimantan bagian barat itu.

Bagi para ABK, kapal bukan sekadar mesin baja. Ia adalah rumah kedua, tempat makan, tidur, dan bahkan bertaruh nyawa.

Ketika kapal itu bermasalah dan butuh perbaikan, Imanuel Ramebunu turun tangan. Namun, arus Sungai Kapuas dikenal tak mudah ditebak. Di sela pekerjaan, tubuhnya lenyap ditelan aliran air. Hilang tanpa jejak, menyisakan tanya bagi rekan dan keluarga.

Di rumah, kabar itu menghantam keras. Seorang ayah, seorang anak, seorang kawan, mendadak raib. Setiap detik pencarian adalah penantian panjang. Setiap berita dari tepi sungai adalah harapan yang menggantung.

 

Nyawa di Tengah Arus

Bagi keluarga, hilangnya Imanuel Ramebunu adalah ujian batin. Hari-hari mereka penuh doa, menunggu kabar apa pun dari tim pencari. Sang istri tak henti memeluk anaknya yang masih kecil, berharap ayah mereka pulang dengan selamat.

Namun, nasib berkata lain. Sungai yang menjadi tempat mencari rezeki, kini menjadi tempat terakhir ia beristirahat.

Tetapi, kepastian meski pahit lebih baik daripada ketidakjelasan. Jenazah yang ditemukan adalah jawaban dari doa panjang yang tertahan di bibir keluarga. Luka memang terbuka, tapi kepastian memberi ruang untuk berduka dengan ikhlas.

Kapuas bukan sekadar sungai, ia adalah sejarah yang mengalir. Sungai ini memelihara jutaan nyawa sekaligus menyimpan misteri.

Tak terhitung kisah tentang perahu karam, nelayan hilang, dan kapal yang tak pernah kembali.

Airnya membawa perdagangan rempah di masa lalu, hingga kini menjadi jalur utama batubara dan kelapa sawit.

Namun, bagi masyarakat lokal, Sungai Kapuas juga punya sisi gaib. Ada mitos tentang roh penunggu, ada kisah tentang orang yang ditelan dan tak kembali.

Kisah Imanuel Ramebunu kini menjadi bagian dari cerita itu. Sebuah kisah nyata, bukan sekadar legenda.

Duka Membelah Kapuas

Kantong jenazah berwarna oranye menjadi saksi bisu betapa rapuhnya hidup di atas sungai. Setiap keluarga pelaut tahu risiko yang dihadapi. Namun, kebutuhan hidup lebih besar dari rasa takut.

Kematian Imanuel Ramebunu mengingatkan kita bahwa pekerjaan di kapal bukan hanya soal gaji, tetapi juga soal bertaruh dengan arus alam.

Di balik hiruk pikuk ekonomi yang mengandalkan sungai, ada manusia-manusia yang rela mengorbankan dirinya agar kapal tetap berjalan.

Imanuel Ramebunu akhirnya pulang. Bukan dengan tawa, bukan dengan cerita lelah setelah bekerja, melainkan dalam kantong jenazah yang sunyi. Namun, kepergiannya membuka mata kita di balik ketenangan Kapuas, selalu ada riak duka.

Sungai ini tetap mengalir, tetap menjadi nadi Kalimantan Barat. Tapi, setiap kali arusnya membawa pergi satu nyawa, ia meninggalkan luka yang tak bisa dihapus.

Kisah Imanuel Ramebunu adalah pengingat, bahwa kehidupan di atas sungai adalah perjuangan antara mencari hidup dan melawan maut.