Dikritik Atalia, Dedi Mulyadi Balas Buka Data dan Fakta Pembangunan SMA/SMK era Ridwan Kamil

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulydi menjawab kritik yang dilontarkan anggota Komisi VII DPR yang juga istri Gubernur Jabar periode 2018-2023 Ridwan Kamil, Atalia Praratya.

Diperbarui 02 Agustus 2025, 13:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Dedi Mulyadi menjawab kritik anggota DPR Atalia Praratya mengenai kondisi pendidikan di Jawa Barat. Bermula dari keprihatinan Atalia mengenai Kondisi pendidikan di Jawa Barat saat ini. Istri mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini menemukan satu kelas di Jawa Barat diisi 43-50 orang siswa.

Melalui video yang diunggah di akun instagram pribadinya @dedimulyadi71, Dedi Mulyadi menjawab kritik dengan menjelaskan akar penyebab kondisi itu terjadi saat ini.

“Kita harus menampung jumlah siswa hampir 800.000 anak. Dan yang terserap sekolah pemerintah tidak semuanya. Hanya 40 persen. Kenapa ini terjadi? Karena di Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2020 sampai saat ini membangun sekolah baru sedikit,” kata Dedi Mulyadi dikutip Liputan6.com, sabtu (2/8/2025).

 

Data Pembangunan Sekolah era Ridwan Kamil

Dedi Mulyadi membeberkan data pembangunan sekolah pada periode 2020 hingga saat ini. Pada periode tersebut, Jawa Barat dipimpin Gubernur Ridwan Kamil yang juga suami Atalia.

Tahun 2020, Pemprov Jabar tidak membangun satupun sekolah baru,” ucap Dedi.

Tahun 2021 hanya membangun 2 SMA baru. Tahun 2022 hanya membangun 1 unit sekolah.

Tahun 2023, membangun 6 sekolah baru. Terdiri dari 1 SMA, 3 SMK, dan 2 SLB. Tahun 2024 membangun 5 unit sekolah. Yakni 1 SLB, 3 SMA, dan 1 SMK. Tahun 2025, pemprov Jabar membangun 15 unit sekolah. Yakni 11 SMK 2 SLB dan 2 SMK.

Janji Bangun 50 Sekolah Baru Tahun Depan

Dedi Mulyadi berjanji akan membangun lebih banyak sekolah di era pemerintahannya di Jawa Barat.

“Insya Allah tahun depan saya akan bangun 50 unit. Agar anak2 di jabar bisa sekolah dengan baik,” ucap Dedi Mulyadi.

Terkait kritik Atalia, Dedi Mulyadi mengklarifikasi. Ruang kelas yang diisi 43 sampai 50 orang siswa tidak terjadi di semua sekolah di Jawa Barat.

“Dan tidak semua bu hanya 38 sekolah yang merektur. Itu kami lakukan terpaksa dibanding dia tidak sekolah padahal rumahnya dekat sekolah. Kalau dia harus bergeser ke tempat jauh bisa jadi putus sekolah,” ucap Dedi Mulyadi.

 

Dia meminta Atalia tidak membandingkan dengan sekolah rakyat yang Siswa di kelasnya hanya 25 orang. Ini bisa terjadi karena sekolah rakyat mendapat atensi dari Presiden Prabowo.

“Untuk itu, saya ucapkan terima kasih atas perhatian ibu yang begitu peduli Dunia pendidikan di Jawa Barat. Salam hormat buat pak RK semoga Bapak dan ibu sehat dan bahagia selalu,” tutupnya.