Korsleting Listrik dan Kompor Gas Jadi Pemicu Utama Kebakaran di Kota Bandung

Kurun waktu tahun 2024 hingga pertengahan 2025, tercatat sekitar 160 hingga 210 kejadian kebakaran di Kota Bandung.

Diterbitkan 26 Juli 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPMKP) Kota Bandung, Soni Bakhtyar mengungkapkan, mayoritas insiden kebakaran di Kota Bandung dipicu korsleting listrik. Selain itu, kata dia, kebakaran kerap terjadi karena penggunaan kompor gas yang tidak diawasi dengan baik. “Korsleting listrik dan kelalaian saat memasak masih menjadi penyebab utama kebakaran di kota ini,” kata dia di Bandung, Jumat, 25 Juli 2025.

Catatan DPMKP, dalam kurun waktu tahun 2024 hingga pertengahan 2025, tercatat sekitar 160 hingga 210 kejadian kebakaran di Kota Bandung. Soni melanjutkan, faktor lingkungan seperti musim kemarau dan kepadatan permukiman juga turut memperparah kondisi. Sebagai bentuk antisipasi, DPMKP terus memetakan wilayah rawan kebakaran, terutama di daerah permukiman padat dan kawasan industri kecil. 

Data pemetaan ini menjadi dasar dalam menentukan lokasi pos siaga dan patroli keliling agar penanganan bisa lebih cepat dan tepat sasaran. “Kami terus memetakan area berisiko tinggi untuk penempatan pos siaga dan jalur patroli. Dengan pemetaan ini, penanganan bisa lebih terencana dan risiko kebakaran bisa ditekan,” ujar Soni.

Ia menuturkan, peningkatan kesadaran masyarakat adalah salah satu kunci penting dalam menekan angka kebakaran.  Edukasi kepada warga terus dilakukan, khususnya terkait penggunaan listrik aman dan penyimpanan bahan yang mudah terbakar. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran warga sangat penting untuk mencegah kebakaran. Mulai dari mematikan kompor saat tidak digunakan, hingga memastikan instalasi listrik tidak bermasalah,” tuturnya.

Terkait kesiapan armada dan personel, DPMKP Bandung saat ini memiliki lebih dari 50 unit armada aktif, termasuk mobil pemadam, tangki air, dan kendaraan kecil untuk menjangkau gang sempit. Armada ini tersebar di pos strategis yang disesuaikan dengan kepadatan wilayah dan potensi risiko.

“Kami memiliki lebih dari 200 personel yang bekerja dalam sistem sif 24 jam. Setiap laporan masuk akan langsung dikirim ke armada terdekat menggunakan sistem pelacakan lokasi. Waktu tanggap rata-rata hanya 5–10 menit di area kota,” tutur Soni.

Ke depan, DPMKP akan menambah armada khusus dan meningkatkan kapasitas personel. Terutama untuk penanganan kebakaran di area ekstrem seperti gang padat atau bangunan tanpa jalur evakuasi. Modernisasi sistem komunikasi dan teknologi pelaporan juga menjadi fokus untuk mempercepat respons. “Kami terus berbenah. Tujuan kami satu yaitu memastikan keselamatan warga dan memperkecil dampak dari setiap kejadian kebakaran,” kata Soni.

 

Gencarkan Edukasi

Pemerintah Kota Bandung diklaim terus memperkuat langkah pencegahan kebakaran melalui edukasi masyarakat. “Kami bersama dinas terkait tengah memperkuat program edukasi pencegahan kebakaran berbasis lingkungan. Mulai dari pelatihan penggunaan APAR, simulasi evakuasi, hingga pengetahuan dasar tentang instalasi listrik aman. Semua ini kami berikan langsung ke warga di tingkat RT/RW dan juga di sekolah-sekolah,” ujar Wakil Wali Kota Bandung, Erwin.

Lebih lanjut Erwin juga mengajak seluruh warga untuk memulai dari langkah-langkah kecil namun penting. Misalnya, rutin memeriksa kabel listrik, tidak menggunakan terminal listrik secara berlebihan, dan tidak menyimpan bahan mudah terbakar sembarangan. “Kewaspadaan itu sebenarnya sederhana, tetapi sangat menentukan. Setiap keluarga yang siap adalah benteng awal dalam sistem keselamatan kota,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga jalur evakuasi. Gang sempit sebaiknya tidak digunakan untuk parkir atau gudang karena dapat menghambat proses penyelamatan saat darurat. “Ruang bersama harus dijaga fungsinya untuk kepentingan bersama pula,” imbaunya.

Erwin menegaskan, menjaga keselamatan adalah tanggung jawab bersama. “Keselamatan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua. Mari saling menjaga, saling peduli, dan saling siaga. Kota yang aman bukan hanya karena petugasnya sigap, tapi karena warganya sadar dan terlibat,” tuturnya. 

Untuk menjangkau lebih banyak warga, khususnya generasi muda, materi edukasi kebakaran juga dikembangkan dalam format digital seperti infografis dan video singkat. Konten disebarluaskan melalui kanal resmi Pemkot Bandung dan media sosial. “Kesadaran kolektif bisa tumbuh lewat informasi yang ringan namun berdampak. Pencegahan adalah kunci utama. Karena itu, kami ingin membangun kebiasaan waspada yang dimulai dari rumah, bukan menunggu datangnya bencana,” katanya.