Lakon Lawas "Beruk Sakti" Hidup Lagi, Tebar Gelak Tawa dan Drama di Panggung Kalangan Ayodya

Konflik semakin rumit ketika Putra Mahkota, yang menyamar untuk mengenal rakyatnya.

Diterbitkan 09 Juli 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Denpasar - Sekaa Drama Gong Kanti Budaya dari Bangli menghadirkam momen magis ketika mempersembahkan lakon "Beruk Sakti" di Panggung Kalangan Ayodya, Senin (7/7/2025) malam. Pertunjukan berdurasi tiga jam ini bukan sekadar tontonan, melainkan perpaduan apik antara kisah klasik kerajaan, humor segar, dan harmoni gamelan yang menghidupkan kembali genre drama gong yang begitu populer di era 1980-an.

Dengan pendekatan modern, kelompok ini sukses mencuri perhatian penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 dan membuktikan bahwa seni tradisional tetap relevan di tengah gempuran hiburan modern. Lakon "Beruk Sakti" mengisahkan intrik politik, cinta, dan pencarian jati diri yang terinspirasi dari cerita klasik Bali.

Cerita berpusat pada Raja Koripan yang uzur dan ingin turun tahta, namun Putra Mahkota menolak karena belum menemukan pendamping hidup. Di balik itu, Patih Agung menyusun rencana licik untuk menjodohkan sang putra dengan Putri Pejarakan, anak asuhnya. 

Konflik semakin rumit ketika Putra Mahkota, yang menyamar untuk mengenal rakyatnya, bertemu dengan seorang gadis misterius yang kemudian terungkap sebagai Putri Raja Daha, kerajaan yang hancur akibat ulah Patih Agung dan Raja Pejarakan. 

Pertunjukan ini dipimpin oleh Nengah Dwi Madyayani, S.Sos., dengan ide cerita dari Sang Ayu Ganti, S.Sos., M.Pd.H. Gending pembuka “Gambang Suling” karya maestro Wayan Beratha, dimainkan oleh 27 penabuh muda, menciptakan suasana magis sejak awal. Sebanyak 22 penari dengan gerakan lincah dan dramatis memperkuat alur cerita, menghadirkan ritme yang memikat penonton.

Salah satu daya tarik utama adalah komedi yang dihadirkan oleh karakter Topok, Dolir, dan Golek. Aksi mereka yang penuh totalitas memancing gelak tawa penonton, menjadi jeda alami dari ketegangan drama.

Puncak cerita terjadi dalam uji identitas yang menegangkan, siapa yang mampu masuk ke dalam beruk sakti adalah putri sejati. Sang liku, dengan ambisinya, masuk lebih dulu namun terperangkap dan gagal keluar. Kebenaran akhirnya terungkap, mengukuhkan kemenangan keadilan dan mengakhiri intrik yang melibatkan Patih Agung. 

Antusiasme Penonton

Kanti Budaya berhasil menunjukkan bahwa drama gong mampu beradaptasi tanpa kehilangan akarnya. Perpaduan antara musik tradisional, akting yang kuat, dan humor yang cerdas menjadikan “Beruk Sakti” bukan hanya hiburan, tetapi juga cerminan kekayaan budaya Bali yang terus berkembang.

Malam itu, Panggung Kalangan Ayodya bukan hanya saksi pertunjukan seni, tetapi juga bukti bahwa tradisi dapat hidup berdampingan dengan inovasi, menghidupkan kembali semangat lama dengan nafas baru.

Pertunjukan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan seni tradisional di tengah arus globalisasi. Dengan antusiasme penonton yang memadati panggung, "Beruk Sakti” membuktikan bahwa drama gong masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali dan pengunjung PKB.