Eksotisme Pantai Watu Lumbung, Keindahan Tersembunyi di Kaki Gunung Api Purba Gunungkidul

Pantai Watu Lumbung memang belum sepopuler pantai-pantai mainstream di Gunungkidul, namun justru di situlah letak keistimewaannya.

Diperbarui 09 Juli 2025, 08:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Hamparan pasir yang berpadu dengan bebatuan vulkanik menjadi sajian istimewa di Pantai Watu Lumbung, destinasi wisata yang kian populer di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di kaki Gunung Api Purba Batur, pantai ini menyuguhkan pesona alam khas pantai selatan yang eksotis dan menenangkan.

Berada di Kalurahan Balong, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Pantai Watu Lumbung bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Rute terbaik dari pusat Kota Yogyakarta adalah melalui Perempatan Wojo atau Terminal Giwangan, kemudian menuju Imogiri dan dilanjutkan ke Kecamatan Panggang.

Perjalanan akan dimanjakan oleh pemandangan indah sepanjang Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang mulus dan lebar. Pantai ini berada dalam satu kawasan dengan beberapa destinasi lainnya, seperti Pantai Wedi Ombo, Jungwok, Greweng, Sedahan, Bukit Pengilon, hingga Gunung Api Purba Batur.

Anggota Pokdarwis Pantai Watu Lumbung, Susiyatno, menjelaskan di lokasi ini juga terdapat parkiran dan tribun yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. Sedangkan jalan dari parkiran sampai pantai, hasil swadaya masyarakat yang tergabung dalam Pokja tersebut.

Ia juga membuka warung kecil-kecilan sekaligus tempat untuk istirahat di sebelah bawah parkiran, berharap ada pembangunan jalan dari pertigaan jalur Pantai Wedi Ombo menuju Pantai Watu Lumbung yang berjarak sekitar 3 km, sehingga lebih memudahkan wisatawan mencapai pantai yang sangat cantik ini.

Yatno menyebut dengan hanya membayar tiket retribusi sebesar Rp8.000, wisatawan bisa mengeksplor enam destinasi sekaligus. Jalan Menuju Surga TersembunyiDari jalan utama menuju Pantai Wedi Ombo, terdapat penunjuk arah menuju Pantai Watu Lumbung.

Wisatawan akan menempuh jalan cor-blok sejauh tiga kilometer—cukup nyaman untuk kendaraan pribadi, meski tidak direkomendasikan bagi bus besar. Di area parkir, tarif kendaraan motor sebesar Rp5.000 dan mobil Rp10.000, yang sudah termasuk biaya pemeliharaan jalan.

Untuk mencapai pantai, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 200 meter dari parkiran. Meski jalurnya sudah beraspal dan cor halus, turunan yang cukup curam bisa jadi tantangan tersendiri. Bagi yang tidak terbiasa berjalan jauh, tersedia ojek dengan tarif Rp10.000—meski tidak secara resmi terdaftar, pengunjung bisa menanyakannya langsung kepada petugas di lokasi.

Namun lelah itu seketika terbayar saat sampai di bawah. Hamparan bebatuan hasil guguran gunung api purba menjadi pemandangan yang menakjubkan. Suasana yang sejuk berkat pepohonan cemara menambah kesan damai saat menapaki jalur menuju bibir pantai.

 

Ikon Batu dan Keindahan Tersembunyi

Salah satu daya tarik utama Pantai Watu Lumbung adalah batu besar yang dinamai 'Watu Lumbung'. Batu ini menjadi ikon dan spot favorit wisatawan untuk berswafoto maupun sekadar duduk menikmati debur ombak. Saat air laut surut, umumnya setelah pukul 12.00 siang, pengunjung bisa berjalan hingga ke batu besar tersebut dan bermain air di sekitar pelataran yang dangkal.

Tak hanya itu, di sisi barat pantai terdapat formasi batu berlubang yang dinamai “Watu Bolong”. Lubang pada batu tersebut menjadi latar foto yang menarik, dengan lanskap pantai dan perbukitan sebagai pelengkap keindahannya. Namun lokasi ini hanya bisa dijangkau saat air surut.

Sekitar 100 meter dari Watu Bolong, tersembunyi pula Pantai Pasewan. Hamparan pasir yang luas dan sepi membuatnya seolah menjadi pantai pribadi bagi pengunjung yang beruntung sampai ke sana. Jalur menuju pantai ini melewati gugusan batu bulat khas daerah vulkanik, menciptakan pengalaman eksplorasi yang unik.

Wilia Mega, wisatawan asal Prambanan, Sleman, mengaku sudah empat kali mengunjungi Pantai Watu Lumbung bersama suaminya.

“Bagus banget pantainya,  saya juga sukanya main ke Pantai Pasewan, tenang banget suasananya," katanya.

Hal senada disampaikan Dika Miftahul Huda, pengunjung dari Minggir, Sleman, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pantai ini.

“Sangat bagus, eksotis sekali. Cuma capek pas naik lagi dari pantai ke parkiran,” ungkap Dika sembari tersenyum.