Liputan6.com, Jakarta - Di sepanjang pesisir Pulau Lombok, tidak hanya ombak yang berderai atau pasir putih yang menggelitik kaki menjadi daya tarik yang memikat hati para pelancong, tetapi juga oleh-oleh khas yang mengandung cerita dari laut itu sendiri.
Dodol rumput laut ini adalah sebuah hasil olahan tradisional yang menggambarkan bagaimana kekayaan bahari bisa berpadu harmonis dengan tradisi kuliner lokal.
Dibuat dari bahan utama rumput laut yang tumbuh subur di perairan tropis sekitar Lombok, dodol rumput laut menjadi simbol nyata bahwa masyarakat pesisir tidak hanya menjaring ikan dari laut, tetapi juga kreativitas dan rasa.
Advertisement
Proses pengolahannya yang memerlukan kesabaran dan ketelatenan menunjukkan bahwa setiap potong dodol bukan sekadar penganan manis, melainkan sebuah karya budaya yang mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Dalam teksturnya yang kenyal dan rasa manis yang perlahan memenuhi rongga mulut, dodol rumput laut menyimpan kompleksitas rasa yang jarang ditemukan dalam dodol pada umumnya.
Ia tidak hanya menawarkan sensasi lengket yang menggoda, tetapi juga aroma laut yang samar dan khas, berpadu dengan keharuman gula kelapa dan kekentalan santan yang meresap. Proses pembuatannya pun menuntut keahlian khusus, rumput laut yang telah dijemur kering direndam dan dibersihkan, kemudian dimasak dalam waktu berjam-jam bersama campuran gula merah, tepung ketan, dan santan kelapa, hingga tercapai kekentalan yang pas.
Proses pengadukan yang terus-menerus dilakukan dengan tangan ini tidak hanya memastikan kelezatan tekstur akhir, tetapi juga menjadi bagian dari ritual produksi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir Lombok.
Kehadiran dodol rumput laut dalam deretan oleh-oleh khas Lombok menjadi bukti bahwa laut bukan hanya tempat menggantungkan hidup, melainkan juga ladang inspirasi yang tak pernah kering. Bagi masyarakat setempat, memproduksi dodol ini bukan hanya tentang keuntungan ekonomi, tetapi juga cara untuk menjaga kelestarian budaya dan memperkenalkan identitas lokal kepada dunia luar.
Tradisi Kuliner
Bahkan, dalam beberapa kegiatan promosi pariwisata, dodol rumput laut menjadi representasi dari sinergi antara budaya agrikultur laut dan tradisi kuliner, serta menjadi media edukasi akan pentingnya menjaga kebersihan laut dan ekosistem pesisir.
Dengan kemasan menarik yang kini banyak dikembangkan oleh pelaku UMKM di Lombok, dodol ini kian menembus pasar nasional hingga internasional, memperlihatkan bahwa cita rasa lokal memiliki daya saing tinggi jika diolah dengan sentuhan inovasi dan narasi yang kuat.
Lebih dari sekadar oleh-oleh, dodol rumput laut juga menjadi simbol ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir. Di tengah tantangan perubahan iklim yang memengaruhi hasil laut dan kondisi lingkungan pesisir, diversifikasi produk seperti dodol ini menjadi solusi cerdas dalam mempertahankan penghidupan.
Selain itu, produk ini juga mendukung pemberdayaan perempuan, karena banyak kelompok ibu rumah tangga yang terlibat langsung dalam proses produksinya, dari tahap pengumpulan rumput laut hingga pengemasan. Aktivitas ini tidak hanya mendatangkan pendapatan tambahan, tetapi juga memperkuat posisi sosial mereka dalam komunitas.
Maka, dodol rumput laut tidak hanya membungkus rasa manis dalam bentuk makanan, tetapi juga menyimpan nilai-nilai sosial yang berharga dan potret keseharian masyarakat yang beradaptasi dengan alam secara harmonis. Dengan segala keunikan dan nilai yang dikandungnya, dodol rumput laut bukanlah sekadar varian baru dari dodol tradisional, melainkan representasi dari semangat lokalitas yang membumi namun tetap menjangkau langit.
Setiap gigitan adalah ajakan untuk menyelami rasa laut yang telah disulap menjadi manisan, sekaligus pengingat bahwa di balik kenikmatan sederhana terdapat kerja keras, tradisi, dan kecintaan pada lingkungan.
Jika Anda berkunjung ke Lombok, jangan lewatkan kesempatan untuk membawa pulang sepotong kecil laut dalam bentuk dodol rumput laut dan menjadi oleh-oleh yang bukan hanya menggoda selera, tetapi juga mengikat kenangan tentang keindahan pesisir dan ketulusan tangan-tangan lokal yang menciptakannya.
Â
Penulis: Belvana Fasya Saad
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5136323/original/018303500_1739855855-cek_fakta_keroncong.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342869/original/054403100_1757402619-IMG-20250909-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3658997/original/034404900_1639124280-sea-grapes-g66608a712_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289361/original/011671800_1783402054-fenomena_haze.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258019/original/092046300_1781278282-139281.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257128/original/046032100_1781222997-140785.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8255934/original/075520400_1781131797-139552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5478419/original/014622400_1768901180-12c293d7-c465-4897-9fb7-fda50525daf2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6996062/original/029825100_1779766068-isabel-tanihaha-terdakwa-korupsi-lcc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521751/original/013226700_1772699286-1000252434.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5586001/original/048977800_1778139104-15793.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691902/original/045151300_1778568056-image__7_.jpg)