Lampu Kuning Ekonomi Indonesia, Kredit Melambat dan Daya Ungkit Lemah

Selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stagnan di kisaran 5 hingga 6 persen, bahkan pada masa ketika pertumbuhan kredit sempat menguat.

Diperbarui 03 Juli 2025, 21:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah indikator makroekonomi dinilai menunjukkan perlambatan yang patut diwaspadai. Penurunan pertumbuhan kredit, stagnasi ekonomi nasional, serta menurunnya peran fiskal menjadi sinyal 'lampu kuning' bagi perekonomian Indonesia ke depan.

Ekonom dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Anggoro Budi Nugroho, memandang pertumbuhan kredit pada April 2025 tercatat hanya mencapai sekitar 9 persen. Padahal, pada pertengahan 2024 lalu, angka pertumbuhan kredit masih berada di kisaran 12 persen ke atas.

“Ini menunjukkan adanya tekanan dari sisi permintaan maupun dari sisi penyaluran dana oleh perbankan. Bila tidak segera diantisipasi, ini bisa berdampak pada perlambatan ekonomi lebih lanjut,” ujar Anggoro, Rabu (3/7/2025).

Dia menyoroti bahwa selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stagnan di kisaran 5 hingga 6 persen, bahkan pada masa ketika pertumbuhan kredit sempat menguat. Hal ini mengindikasikan belum optimalnya kontribusi sektor pembiayaan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

“Tidak ada pemetaan yang cukup memadai mengenai daya ungkit sektor kredit terhadap PDB. Padahal, beberapa sektor usaha memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi dan seharusnya diberi perhatian lebih dalam alokasi kredit,” jelasnya.

 

Fokus Investasi Tidak Tepat Sasaran

Menurut Anggoro, perhatian pemerintah selama ini masih terlalu besar terhadap pembiayaan investasi infrastruktur yang sebagian besar disalurkan melalui BUMN, tanpa melihat secara kritis efektivitas dan profitabilitas operasional proyek-proyek tersebut dalam jangka panjang.

“Realisasi infrastruktur memang dikejar untuk memenuhi target politik, tetapi studi kelayakan ekonominya sering kali kurang matang. Setelah satu dekade, seharusnya dampak dari investasi ini terhadap PDB nasional sudah mulai terlihat, namun nyatanya belum signifikan,” kata Anggoro.

Dari sisi fiskal, tanda-tanda pelemahan juga mulai tampak. Anggoro menyoroti penurunan target rasio pajak dan berkurangnya stimulus fiskal seperti subsidi listrik yang sempat dihentikan, serta kebijakan PPN 12 persen untuk barang tertentu yang belum berjalan optimal.

“Saat ini konsumsi rumah tangga masih belum pulih sepenuhnya dibanding tiga tahun lalu. Sementara peran fiskal seharusnya menjadi penopang di saat sektor riil melambat,” tambahnya.

Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi yang tepat, Anggoro memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko melambat ke bawah angka lima persen dalam waktu dekat.

“Pemerintah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pembiayaan dan kebijakan fiskal agar tidak terjebak dalam stagnasi berkepanjangan. Ini penting untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha dan mendorong pemulihan ekonomi yang lebih kuat,” pungkasnya.