Liputan6.com, Jakarta - Di tengah semaraknya kekayaan budaya Indonesia yang tak terhitung jumlahnya, Lampung memiliki warisan tekstil yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna mendalam yakni Batik motif Sembagi.
Kain ini bukan sekadar lembaran dengan motif estetis yang menghias tubuh dalam berbagai upacara adat, melainkan juga menjadi medium spiritual yang menyatukan antara dunia yang terlihat dan yang tidak kasat mata. Dalam kebudayaan masyarakat Lampung, kain Sembagi memegang peranan penting sebagai simbol penghormatan, kesakralan, dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Keistimewaan kain ini tak hanya terletak pada motifnya yang khas dan warna-warninya yang penuh simbolisme, tetapi juga pada penggunaannya dalam momen-momen yang sangat sakral, seperti ketika digunakan untuk menutupi jenazah.
Advertisement
Dalam konteks ini, kain Sembagi bukan sekadar pelindung raga yang telah tiada, tetapi menjadi perantara yang mengiringi jiwa menuju alam baka, sebuah bentuk penghormatan terakhir dari keluarga kepada leluhur mereka.
Motif Sembagi sendiri adalah representasi artistik yang merefleksikan filosofi hidup masyarakat Lampung. Dengan dominasi bentuk geometris dan ornamen bunga yang berkembang secara simetris, motif ini mencerminkan keseimbangan, harmoni, dan nilai keselarasan hidup.
Warna-warna dalam batik Sembagi juga tidak dipilih secara sembarangan. Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam acara-acara adat seperti pernikahan, motif Sembagi biasanya tampil dalam warna cerah seperti merah, kuning, atau hijau sebagai simbol keceriaan, kesuburan, dan harapan akan kehidupan yang makmur.
Namun, ketika batik Sembagi digunakan sebagai kain penutup jenazah, maka terjadi pergeseran nuansa warna menjadi lebih gelap, seperti coklat tua, hitam, atau merah marun pekat.
Pilihan warna-warna ini bukan tanpa makna, karena dalam budaya Lampung warna gelap melambangkan keheningan, keabadian, dan penghormatan terhadap kepergian seseorang. Warna gelap juga dianggap mampu meredam kesedihan sekaligus memberikan rasa damai dan ketenangan, baik bagi si jenazah maupun keluarga yang ditinggalkan.
Tradisi penggunaan Batik Sembagi dalam upacara kematian di Lampung menunjukkan bagaimana masyarakat setempat memandang kematian bukan sebagai akhir, tetapi sebagai perjalanan spiritual menuju dimensi kehidupan selanjutnya. Dalam konteks ini, kain Sembagi tidak hanya menjadi pelengkap upacara, tetapi juga simbol penghantar doa dan harapan agar arwah yang berpulang dapat diterima dengan layak di sisi Tuhan.
Makna
Penempatan kain Sembagi di atas jenazah bukan sekadar tradisi formalitas, tetapi mengandung filosofi yang dalam yakni keinginan untuk menjaga kehormatan sang arwah, menyelimuti perjalanannya dengan keindahan warisan leluhur, dan memberikan pesan bahwa kematian pun layak dirayakan dengan budaya luhur.
Hal ini menunjukkan betapa tingginya posisi kain dalam sistem kepercayaan dan kebudayaan Lampung, yang menempatkan tekstil tradisional sebagai bagian integral dari perjalanan hidup manusia, dari lahir hingga meninggal dunia.
Seiring dengan berkembangnya zaman dan semakin banyaknya generasi muda yang kembali menggali akar budaya mereka, Batik Sembagi pun mengalami transformasi dari sekadar kain adat menjadi simbol identitas etnis yang kuat.
Para perajin lokal kini mulai mengangkat motif Sembagi ke dalam berbagai bentuk produk fashion kontemporer, tanpa menghilangkan makna filosofis dan unsur kesakralan yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, penggunaan Batik Sembagi untuk keperluan sakral seperti penutup jenazah tetap dijaga eksklusivitasnya, terutama pada versi kain dengan warna gelap yang khusus dibuat dengan niat spiritual tertentu.
Proses pembuatannya pun tak sembarangan, melibatkan doa-doa serta niat tulus dari sang pembatik sebagai bagian dari penghormatan budaya yang tak boleh dikhianati. Dalam hal ini, masyarakat Lampung memperlihatkan kebijaksanaan kultural dalam membedakan mana yang bersifat profan dan mana yang sakral dalam pemakaian produk budaya mereka.
Batik motif Sembagi menjadi cermin dari kebudayaan Lampung yang tidak hanya merayakan keindahan visual, tetapi juga kehalusan rasa, penghormatan terhadap leluhur, dan pemahaman mendalam tentang siklus kehidupan manusia. Ia menjadi bukti bahwa dalam setiap helai kain tradisional Indonesia tersimpan cerita, nilai, dan falsafah hidup yang tidak akan pernah lapuk oleh zaman.
Dalam konteks sakral seperti penutupan jenazah, Batik Sembagi bukan sekadar kain, tetapi menjadi perwujudan kasih sayang terakhir, persembahan budaya, dan simbol abadi bahwa yang pergi tak akan pernah benar-benar hilang selama warisannya tetap dijaga dengan hormat dan cinta.
Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Batik Sembagi bukan hanya milik Lampung, melainkan juga bagian dari mozaik besar kebudayaan Nusantara yang patut dijaga dan dibanggakan bersama.
Â
Penulis: Belvana Fasya Saad
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3226358/original/037478600_1599037074-20200901-BPS-Lakukan-Sensus-Penduduk-Secara-Tatap-Muka-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260138/original/072176600_1781577859-Tugas__36_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4512411/original/053308500_1690191036-20230724_153839__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1570395/original/080643100_1517852629-cropped1750759915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/827404/original/069659300_1510203910-WhatsApp_Image_2017-11-09_at_12.04.27.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262546/original/008930600_1781836184-063_2282273523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458112/original/030524500_1782356891-000_B88U3NH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450278/original/065503300_1782346556-vini.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472821/original/056343500_1782377990-1001390272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8470315/original/099477000_1782372882-1001394813.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8465345/original/005452700_1782366604-1001394388.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8418300/original/047113500_1782303655-1001389822.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8418299/original/027588200_1782303655-1001389821.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414309/original/051185500_1782298918-1001389809.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414311/original/059317000_1782298918-1001389811.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411646/original/052386000_1782295538-Desain_tanpa_judul.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8404807/original/019840500_1782287315-1001389737.jpg)