Deteksi Varian Baru COVID-19, Laboratorium RSUP Hasan Sadikin Terus Aktif Teliti Sampel

Meski varian terbaru COVID-19 saat ini dianggap tidak begitu mematikan tapi proses penyariangan (screening) dilakukan secara rutin.

Diterbitkan 05 Juli 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Laboratorium Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin Bandung terus aktif meneliti sampel corona virus diseases 2019 (COVID-19) untuk mendeteksi adanya varian baru. Hal tersebut dilakukan rumah sakit yang bertanggung jawab langsung ke Kementerian Kesehatan RI agar mencegah terjadinya pandemi baru.

Menurut Ketua Dokter Tim Penyakit Infeksi Newemerging dan Reemerging RSUP Hasan Sadikin Bandung, Rudi Wisaksana, meski varian terbaru COVID-19 saat ini dianggap tidak begitu mematikan tapi proses penyariangan (screening) dilakukan secara rutin.

"Jadi screening kita juga masih dilakukan secara rutin. Dan kita secara berkala juga mengevaluasi hasilnya untuk melihat apakah ada varian-varian baru yang muncul dan mungkin juga akan bisa menyebabkan epidemi yang baru lagi," ujar Rudi dalam siaran medianya ditulis Bandung, Selasa (1/7/2025).

Rudi beranggapan laboratorium RSUP Hasan Sadikin Bandung, termasuk salah satu laboratorium yang paling aktif saat ini dari seluruh laboratorium sisa perjalanan pandemi COVID-19 tiga tahun yang lalu.

Buktinya kata Rudi yakni hingga kini, RSUP Hasan Sadikin Bandung masih termasuk yang terbanyak mengirimkan sampel. Namun dalam mengantisipasi peningkatan jumlah pasien COVID-19 varian terbaru ini ada beberapa kendala yang harus dituntaskan.

"Untuk alat perlindungan diri (APD) untuk obat memang karena sudah sudah lama, mungkin sebagian sudah expire. Jadi kita juga harus mempersiapkan mungkin logistik yang baru untuk obat-obatan khusus untuk COVID ini," kata Rudi.

Rudi menyebutkan secara umum untuk ketersediaan APD dan obat-obatan penanganan pasien terpapar COVID-19 cukup tersedia untuk berbagai kasus yang ditularkan melalui airborne.

Untuk saat ini ucap Rudi, kolaborasi dengan lintas rumah sakit maupun instasi lainnya masih sebatas korespondensi guna memantau perkembangan jumlah kasus COVID-19.

"Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kita memang sudah punya pengalaman, artinya si jejaring itu sudah tersedia sebetulnya dari Dinas Kesehatan, dari Kementerian Kesehatan, juga dari pihak-pihak terlain. Sehingga nanti begitu kita temukan misalnya ada peningkatan lonjakan dari kasus, kita segera bisa bentuk kembali tim-tim gerak cepat tersebut yang juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai instansi yang diperlukan," tutur Rudi.

 

Kesiapan RSUP Hasan Sadikin

Rudi mengaku RSUP Hasan Sadikin selain laboratoriumnya terus aktif mengirimkan sampel virus ke Kementerian Kesehatan RI, beberapa ruang isolasi perawatan pasien COVID-19 tetap disiagakan.

Rudi menyebutkan meski tidak berdampak parah, kasus paparan varian baru COVID-19 di dunia sudah meningkat kembali, salah satunya di kawasan Asia Tenggara.

"Ya jadi kalau ICU COVID itu, kita sebut ICU untuk isolasi yang airborne kan itu ada sekitar tujuh ruangan. Kemudian tentu itu bisa meluas ya seperti juga ketika dulu kita mengalami COVID itu bisa masuk dalam Zona 1 itu bisa sampai 200 tempat tidur," ungkap Rudi.

Rudi menyebutkan kapasitas 200 tempat tidur pasien COVID-19 itu berasal dari ruangan di Gedung Kemuning 2 ditambah ruang isolasi dan ruang isolasi di instalasi gawat daurat (IGD).

Apabila jumlah pasien hampir sama saat pandemi lalu berlangsung, kapasitas ruang perawatan pasien COVID-19 dapat menggunakan 60 persen ruangan yang ada di rumah sakit tersebut.

"Jadi kapasitasnya bisa bergeser tentu sesuai dengan kebutuhan. Begitu juga tenaga kesehatan, karena kita kan sudah punya pengalaman artinya sudah mempunyai perhitungan, sudah punya pelatihan-pelatihan yang cukup sehingga. Apabila diperlukan nanti akan bisa diaktifkan kembali tenaga kesehatan dari tempat lain juga, dari tempat perawatan lain untuk membantu di daerah COVID," tutur Rudi.

Sama hal yang dengan tim dokter penanganan penaykit infeksi menular khusus saat pandemi COVID-19 yang tetap ada dan bersiaga.

Tim dokter tersebut ungkap Rudi, berisikan dokter spesialis multidisiplin tertentu yang mencakup penyakit keseluruhan dengan ditunjang sarana dan perasaranannya.

"Kita juga masih memiliki ruangan-ruangan yang dulu kita pergunakan tentunya untuk isolasi itu masih tersedia sampai sekarang. Begitu juga tim masih ada ya, timnya masih tidak pernah bubar sebetulnya dari zaman dulu COVID pertama kali, kita masih ada dan sewaktu-waktu bila diperlukan, tentu semuanya bisa kami aktifkan kembali," sebut Rudi.

Kesiapan RSUP Hasan Sadikin ini bukan tanpa alasan, Rudi menerangkan data di bulan Juni 2025 jumlah paparan kasus COVID-19 varian terbaru di Thailand bisa sampai 65 ribu dalam beberapa minggu dengan angka kematian 30 kasus.

Sama halnya dengan Singapura ang mengalami peningkatan kasus sampai 14 ribu kasus COVID baru. Malaysia dam Hong Kong juga menemukan hal yang sama.

"Indonesia secara umum sebetulnya belum karena kita dari tahun 2025 saja kalau laporan dari Kemenakes itu baru 72 kasus baru. Tapi, kita juga mesti ingat bahwa di Indonesia mungkin screeningnya tidak lagi seaktif zaman dulu waktu masih zaman COVID, di mana kita banyak sekali melakukan screening dan laboratorium yang melakukannya itu banyak," jelas Rudi.

 

Kondisi Pelayanan RSUP Hasan Sadikin

Belum adanya peningkatan jumlah pasien COVID-19 di RSUP Hasan Sadikin Bandung, Rudi menyebutkan pelayanan IGD dan poliklinik tetap berjalan normal.

Rudi menegaskan kembali pengamatan dan pengawasan paparan virus corona terus dilakukan hingga pertengahan tahun 2025. "Jadi karena kita masih melakukan surveillance yang rutin itu, pemeriksaan rutin ya kemudian belum ada pembatasan terhadap pengunjung ataupun pasien yang ada," sebut Rudi.

Rudi mengatakan pengawasan ketat dilakukan kepada pasien dengan keluhan batuk. Secara umum pengunjung rumah sakit dianjurkan untuk memakai masker walaupun tetap bisa masuk ke dalam ruangan.

"Begitu juga pengunjung, dianjurkan untuk memakai masker serta mematuhi peraturan-peraturan seperti biasa. Jadi cuci tangan dan menjaga jarak dan sebagainya di dalam ruangan. Tapi belum ada pembatasan kunjungan gitu ya, belum ada pembatasan kunjungan," tukas Rudi.

Jumlah Nasional Kasus COVID-19

Dilansir kanal Health Info, Liputan6, data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat ada 179 kasus COVID-19 pada pekan epidemiologi 24 di tahun 2025.

Angka 179 kasus COVID-19 itu didapatkan dari sebanyak 10.057 spesimen yang diperiksa, sehingga positivity rate kumulatif yakni sebesar 1,78 persen.

"Jadi 179 itu gabungan dari laporan lab dan sentinel ILI (Influenza-Like-Illness) SARI (Severe acute respiratory infections)," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman mengutip Antara.

Sementara itu, di pekan sebelumnya yakni pekan 23, jumlah kasus COVID-19 pada sentinel site atau fasilitas pemantauan berjumlah 75 kasus dari 2.352 spesimen yang diperiksa.

Di kesempatan berbeda, Kepala Bidang Kesehatan (Kabid) PPIH Arab Saudi, dr. Mohammad Imran, MKM mengingatkan jemaah haji mengenai penyakit pasca ibadah haji. Termasuk COVID-19.

"Untuk mewaspadai penyebaran COVID-19, bagi jemaah yang sedang batuk-pilek sejak di Tanah Suci hingga pulang ke Indonesia, jangan lupa pakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan segera melaporkan riwayat perjalanannya ke petugas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai,” kata Imran.