Berebut Dandang, Prosesi Unik dalam Pernikahan Adat Betawi

Tradisi ini mirip dengan tradisi palang pintu yang juga menjadi bagian dari prosesi pernikahan adat Betawi. Masyarakat Betawi bagian timur kemudian menambahkannya dengan tradisi berebut dandang.

Diterbitkan 21 Juni 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Berebut dandang merupakan salah satu tradisi dalam prosesi pernikahan adat khas Betawi. Tradisi ini umumnya dilakukan oleh masyarakat Betawi bagian timur yang bersentuhan dengan kebudayaan Sunda, yakni Bekasi, Depok, dan sebagian Bogor.

Tradisi ini mirip dengan tradisi palang pintu yang juga menjadi bagian dari prosesi pernikahan adat Betawi. Masyarakat Betawi bagian timur kemudian menambahkannya dengan tradisi berebut dandang.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, penggunaan dandang tembaga dalam tradisi ini konon menjadi lambang kekuatan dan kekayaan. Ini sekaligus menandakan bahwa kekayaan tidak jatuh dari langit, tetapi harus diperjuangkan.

Dalam pernikahan adat Betawi, rombongan mempelai pria akan membawa seserahan ke kediaman mempelai wanita. Saat membawa seserahan, biasanya rombongan akan diiringi dengan tabuhan tanjidor, sampyong, ondel-ondel, dan rebana biang.

Adapun dandang yang digunakan untuk tradisi berebut dandang merupakan bagian dari seserahan tersebut. Sesuai namanya, dalam tradisi ini terdapat adegan memperebutkan dandang.

Tradisi unik khas Betawi ini dilakukan dengan cara mengikatkan dandang ke punggung seorang jago maen pukulan. Sosok jago ini merupakan wakil besan yang bertugas mewakili pihak mempelai laki-laki.

 

Wakil Besan

Wakil besan akan berjalan di barisan terdepan bersama iring-iringan rombongan. Umumnya, wakil besan identik dengan lelaki bertubuh tinggi besar dengan kisaran usia 40-an. Citra wakil besan semacam ini memang sengaja diciptakan agar memberikan kesan yang mirip dengan sosok jawara yang disegani.

Begitu iring-iringan rombongan sampai di pekarangan rumah mempelai wanita, pihak keluarga laki-laki langsung disambut meriah. Selanjutnya, adegan berbalas pantun dari wakil besan dari kedua belah pihak mempelai meluncur begitu saja.

Usai berbalas pantun, mereka akan saling berebut dandang. Dalam tradisi ini, skenario pemenang telah ditentukan, yakni jago dari pihak mempelai perempuan.

Tradisi berebut dandang ini menjadi puncak acara usai berbalas pantun. Setelahnya, dilanjutkan dengan prosesi lainnya dalam pernikahan adat Betawi.

Penulis: Resla