Mengenal Kampung Adat Lewohala, Permata Budaya di Lembata NTT

Nenek moyang orang Lewohala mulai membuat perahu (Tula Tena Tani Laya) dan menyiapkan segala keperluan untuk berlayar mencari tempat hunian baru. Mereka kemudian berlayar ke arah barat nusantara (Seba Nuho Gena Katan)

Diterbitkan 10 Juni 2025, 05:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lembata - Kampung adat Lewohala Lolo Melu-Tanah Wuring Lamabura merupakan salah satu objek wisata budaya yang terletak di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT.

Nama Lewohala sendiri berasal dari nama depan seorang prajurit perang yang bernama Hala Tede, yang pada saat perang perebutan tanah Lewohala, ia dikenal sebagai panglima perang yang menumpas hulubalang terkenal pihak lawan yang bernama Ekan Watan Lolon.

Nama Lewohala juga konon berasal dari nama sebuah pohon yakni "Hala"(generasi). Pohon tersebut yang kemudian dijadikan lambang dari Lewohala yang mencerminkan keindahan dan keteduhan serta kedamaian.

Masyarakat di Kampung Adat Lewohala pada mulanya berasal dari kepulauan Maluku(Serang Gorang Abo Muar). Pada tahun 1000 Masehi, nenek moyang orang Lewohala berangkat meninggalkan tempat asalnya mencari tempat baru untuk didiami.

Dari penuturan, alasan perpindahan itu disebabkan beberapa faktor, diantaranya sengketa antara kakak beradik (Puke Kawi Lusi Lei, Geni kewa magarai), perang antar kampung yang tidak berkesudahan dan terdesak oleh pendatang-pendatang baru.

Dengan demikian nenek moyang orang Lewohala mulai membuat perahu (Tula Tena Tani Laya) dan menyiapkan segala keperluan untuk berlayar mencari tempat hunian baru. Mereka kemudian berlayar ke arah barat nusantara (Seba Nuho Gena Katan).

Setelah beberapa lama dalam pelayaran, tibalah mereka di suatu tempat yang dikenal dengan nama pulau Lepan Batan- keroko puken (Uli Taga Sao Songe Kebo Tena Lulu laya). Pulau ini yang dikenal saat ini dengan nama pulau Lomblen atau Lembata.

Penghuni suku yang mendiami Lewohala umumnya berasal dari kepulauan Maluku (Serang Gorang Abo Muar) yang berada di bawah naungan satu suku besar yakni suku seram sara luka, Luwa goran lobi au, sedangkan suku asli yang sudah menetap terlebih dahulu suku Duli Making dan Tede Making (Tawa Tanah Gere Ekan).

 

Simak Video Pilihan Ini:

Tebus Tanah dengan Gading

Berdirinya kampung Lewohala ditandai dengan upacara sejuk dingin yang disebut dengan "Tewu tanah sira paji, wulu, bure bala kenera, hodi ekan lagadoni lodan sode namang gole”. Upacara ini biasa disebut sebagai upacara menebus tanah dengan sebatang gading, moko dan juga kalung emas.

Selain ritual, komunitas masyarakat adat di kampung Lewohala juga memiliki rumah adat yang memiliki ciri khas yang unik. Pemanfaatan alam terpampang nyata di setiap sudut bangunannya. Atap rumah terbuat dari daun kelapa, lontar atau alang-alang. Bagian atapnya dipasang simbol dari bilah bambu dengan jumlah tertentu (kotamane), yang berfungsi sebagai penangkal bala atau tulah.

Tiang penyanggah rumah adat berjumlah sembilan buah menggunakan kayu bulat yang diambil dari gunung.

Rumah adat ini terdiri beberapa pembagian diantaranya, bagian kenata bale iri wana (tempat ritual yang berada di pojok belakang area rumah adat, Mada (tempat duduk untuk tamu), Uli One (tempat khusus untuk perempuan), Senese (tempat penyimpanan barang), Hoi (tempat penyimpanan makanan) dan Bolo (tempat menyimpan luba lama/periuk dan piring).

 

88 Rumah Adat

Jumlah rumah adat di Lewohala sebanyak 88 rumah. Seiring berjalannya waktu, jumlah rumah adat ini bisa bertambah jika 77 suku lainnya berniat membangun rumah adat.

88 rumah adat ini, terbagi dalam dua kasta yakni wungu bele dan wungu belumer.

Kasta wungu bele (suku besar/penguasa) terdiri dari suku gesi making, tede making, duli making, hali making, soro making, krowing making, dan laba making.

Sedangkan kasta wungu belumer (suku kecil), terdiri dari suku pureklolon, balawanga, lamawalang, matarau, lebahi, atanila, lamatapo dan langodai.