Lama Antar Pesanan Air, Penjaga Depot Galon di Pringsewu Lampung Dihajar Pelanggan

Tanpa banyak bicara, Toni melayangkan pukulan ke arah korban dan ketegangan antarwarga pun tak terelakkan.

Diperbarui 05 Juni 2025, 16:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lampung - Sebuah insiden yang bermula dari keterlambatan pengantaran air minum isi ulang nyaris memicu keributan panjang di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Lampung.

Toni Aprian, warga Pekon Sukaratu, tak kuasa menahan emosi saat air pesanannya tak kunjung datang sesuai waktu dan jumlah yang diharapkan.

Amarahnya pun meledak saat pengantar air, Desana Wahyu, warga Pekon Pujiharjo, akhirnya tiba di rumahnya, pada Selasa (3/6/2025).

Tanpa banyak bicara, Toni melayangkan pukulan ke arah korban dan ketegangan antarwarga pun tak terelakkan. Insiden itu sontak menyita perhatian warga setempat. 

Namun, alih-alih menyeret kasus tersebut ke ranah hukum, para tokoh masyarakat memilih meredam dengan cara damai atau rembuk pekon, sebuah forum musyawarah khas desa yang mengedepankan nilai kekeluargaan.

Saat Emosi Dijernihkan oleh Musyawarah

Mediasi berlangsung pada Rabu (4/6/2025) di Balai Pekon Pujiharjo. Dihadiri oleh Bhabinkamtibmas Polsek Pagelaran, kepala pekon dan sekretaris dari dua desa, serta keluarga dari kedua belah pihak.

Kedua pria yang sempat berseteru itu akhirnya saling bersalaman dan meminta maaf. Mereka sepakat mengakhiri keributan tanpa pelaporan hukum. 

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa persoalan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Rembuk pekon adalah kearifan lokal yang patut dipertahankan,” kata Kapolsek Pagelaran, AKP Sudirman.

 

Air yang Menyulut, Maaf yang Menyembuhkan

Kepala Pekon Pujiharjo, Rasimin, turut mengungkapkan rasa syukurnya atas tercapainya kesepakatan damai. Dia berharap kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bagi warganya agar lebih sabar, dan selalu mengutamakan dialog dalam menyelesaikan masalah.

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Sekretaris Pekon Sukaratu, Kusnan, yang mendampingi Toni selama proses mediasi.

“Kami berterima kasih karena semua pihak bersedia duduk bersama, tidak memperpanjang masalah, dan memilih jalan bijak,” katanya.

Toni dan Desana pun sama-sama menyatakan penyesalan dan berjanji menjaga hubungan baik ke depan.