Cuaca Sumbar Panas 'Bedengkang', Masyarakat Diminta Pakai Tabir Surya

Pihaknya menganalisa berkurangnya potensi pertumbuhan awan hujan berdampak terhadap peningkatan radiasi langsung matahari berupa sinar uItraviolet pada siang hari.

Diterbitkan 05 Juni 2025, 05:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Padang - Cuaca panas dan terik melanda sebagian besar wilayah Sumatera Barat beberapa pekan terakhir. Dari data BMKG, terdapat peningkatan suhu dua derajat dibanding biasanya.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau, Yudha Nugraha mengatakan secara klimatologis, Mei-Juni merupakan periode minimum curah hujan di Sumbar.

"Kemudia juga terdapat pola angin monsun Australia mulai bergerak dari selatan Sumatera yang cenderung kering," ujarnya kepada Liputan6.com Rabu (4/6/2025).

Selain itu, lanjutnya, gangguan cuaca ekuator seperti Madden-Julian Oscilation (MJO) saat ini tidak aktif sehingga minim faktor pertunbuhan awan, yang menyebabkan kondisi cuaca cenderung cerah berawan pada siang hari.

Panas Terik yang terjadi karena minim tutupan awan menyebabkan suhu semakin meningkat pada siang hari.

"Suhu tercatat paling tinggi tercatat hingga 34,4 derajat pada 1 Mei 2025, terdapat kenaikan dua derajat dari rata-ratanya, namun masih dalam kategori normal," ujar Yudha.

Pihaknya menganalisa berkurangnya potensi pertumbuhan awan hujan berdampak terhadap peningkatan radiasi langsung matahari berupa sinar uItraviolet pada siang hari.

Analisis Indeks UItraviolet  menunjukkan nilai yang tinggi hingga sangat tinggi pada pukul 11.00 - 14.00 WIB. Kondisi ini diperkirakan masih terjadi hingga sepekan ke depan.

"Selain itu, kelembaban udara yang cenderung rendah pada periode awal dapat meningkatkan  kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Sumbar," jelasnya.

 

 

 

 

Waspadai Panas Terik

Namun demikian, katanya, masih terdapat potensi hujan beberapa hari ke depan di Kabupaten Pasaman Barat, Agam, Padangpariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, Pasaman, dan Kepulauan Mentawai dengan intensitas ringan.

Yudha mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kondisi panas terik ini dengan menggunakan tabir surya untuk menghindari paparan langsung sinar matahari, kemudian menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan saat siang hari agar tidak terjadi dehidrasi hingga kelelahan.

Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan, untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan, sehingga pihak terkait dapat melakukan upaya lebih cepat jika karhutla terjadi.

"Kami imbau masyarakat jangan membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memperluas lahan yang terbakar sehingga sulit dikendalikan, serta tak membuang putung rokok sembarangan," Yudha menambahkan.