Ini Tips Memilih Hewan Kurban yang Sehat dari Dosen UGM

Menjelang Iduladha, satu hal penting yang perlu dipahami oleh umat Muslim adalah terkait syarat dan sahnya penyembelihan hewan kurban.

Diterbitkan 02 Juni 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Menjelang Iduladha, Dosen Fakultas Peternakan UGM Nanung Danar Dono memberikan tips untuk memilih hewan kurban yang sehat dan sudah dewasa atau cukup umur melalui penampakan gigi “poel” atau tahap pergantian gigi. Calon kurban bisa melihat gigi hewan. jika sudah poel, maka hewan itu dianggap cukup umur untuk dikurbankan.

“Pada kambing dan domba, pergantian gigi dimulai pada usia sekitar 1 tahun. Untuk sapi, biasanya terjadi saat usia 2 tahun, sedangkan unta pada usia 5 tahun,” katanya dalam Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban di Auditorium R. Soepardjo, Fakultas Peternakan UGM, Selasa (20/5/2025).

Ia menjelaskan proses pergantian gigi hewan kurban ini dimulai dari sepasang gigi seri paling tengah di rahang bawah, karena hewan seperti kambing, domba, dan sapi tidak memiliki gigi seri di rahang atas. Rahang bawah memiliki empat pasang gigi seri atau total 8 gigi.

Menurutnya kalau satu pasang gigi sudah berganti, maka disebut Poel 1, kalau dua pasang sudah berganti, disebut Poel 2, dan seterusnya. Namun calon kurban harus waspada soal praktik tidak etis dari sebagian pedagang yang mencabut gigi agar seolah-olah hewan sudah poel dan layak kurban. “Karenanya penting melakukan pemeriksaan langsung atau berkonsultasi dengan ahlinya,” ujarnya dalam memilih hewan kurban.

Nanung mengatakan selain usia, perlu memeriksa kondisi fisik hewan kurban antara lain tidak buta atau cacat pada mata, tidak dalam kondisi sakit, tidak pincang, serta tidak kurus kering tanpa daging. “Jangan sampai memilih hewan yang kelihatan murah karena cacat atau sakit. Memilih hewan terbaik adalah bentuk penghormatan kita kepada Allah, sebagaimana kita ingin memberikan yang terbaik dalam ibadah,” tuturnya.

Selain itu Nanung memberikan perhatian kepada panitia kurban yang harus memeriksa penyakit seperti PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang bisa menular cepat antar hewan, LSD (Lumpy Skin Disease) yang menyebabkan benjolan di kulit, menular antarhewan dan tidak menular ke manusia, dan yang terakhir adalah antraks yang sangat berbahaya karena menular ke manusia.

Muhammad Rifqi Ardi, salah satu peserta dari pengurus masjid di Yogyakarta mengapresiasi materi yang diberikan yang sangat informatif, terutama dalam menjelaskan kriteria hewan kurban yang sah, penentuan usia hewan melalui pemeriksaan gigi, hingga tata cara penyembelihan sesuai tuntunan Islam. “Materinya sangat menarik dan jelas. Kami yang akan bertugas sebagai penyembelih merasa sangat terbantu. Harapannya, pelatihan semacam ini bisa rutin diadakan setiap tahun agar para jagal tahunan mendapat penyegaran ilmu,” ungkap Rifqi.

Senada dengan itu, Muhammad Nasir, peserta lain yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah menuturkan pelatihan sesama ini menjadi langkah positif yang mendukung pelaksanaan ibadah kurban yang lebih baik, aman, dan sesuai syariat. “Pelatihan ini benar-benar memberi pencerahan tentang ilmu sembelih. Sekarang proses penyembelihan sudah jauh berkembang dibanding dulu. Tidak lagi asal-asalan, tapi mulai memperhatikan teknik menjatuhkan sapi, pemilihan pisau, hingga aspek kebersihan,” jelasnya soal materi memilih hewan kurban.