Tradisi Apitan di Demak, Warisan Budaya dalam Menyambut Bulan Haji

Secara historis, tradisi ini bermula pada periode penyebaran Islam di Jawa oleh wali sanga sekitar lima abad silam.

Diterbitkan 01 Juni 2025, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Demak - Masyarakat Kabupaten Demak, Jawa Tengah, secara rutin melaksanakan tradisi apitan setiap tahun sebagai wujud rasa syukur dan persiapan menyambut bulan haji. Tradisi yang berakar dari akulturasi budaya Islam dan Jawa ini telah diwariskan sejak masa wali sanga dan tetap bertahan hingga era modern.

Mengutip dari laman Pemerintah Kabupaten Demak, tradisi apitan merupakan ritual tahunan yang dilaksanakan pada bulan Apit menurut penanggalan Jawa, atau bulan Zulkaidah dalam kalender Hijriah. Penamaan bulan Apit merujuk pada posisinya yang terletak di antara dua hari raya besar Islam, yaitu Idulfitri dan Iduladha.

Secara historis, tradisi ini bermula pada periode penyebaran Islam di Jawa oleh wali sanga sekitar lima abad silam. Para penyebar agama Islam saat itu menerapkan pendekatan akulturasi dengan memadukan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi lokal yang telah ada sebelumnya.

Ritual ini tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur atas hasil bumi, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan asal-usul manusia dari tanah, kehidupan yang bergantung pada tanah, dan akhirnya kembali ke tanah. Selain itu, tradisi apitan berperan sebagai media penguatan tali silaturahmi antarwarga sekaligus pelestarian budaya lokal.

Pelaksanaan tradisi apitan di Demak meliputi berbagai rangkaian kegiatan. Pembacaan Al-Qur'an menjadi pembuka acara, dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit atau ketoprak yang berfungsi sebagai media dakwah warisan Sunan Kalijaga.

Beberapa desa seperti Sumber Jatipohon, tradisi ini diwarnai dengan kirab gunungan hasil bumi setinggi 2,5 meter yang kemudian diperebutkan warga setelah melalui prosesi doa bersama. Masyarakat pesisir Demak mengembangkan variasi tersendiri dalam pelaksanaan tradisi ini, antara lain melalui ritual larung sesaji berupa gunungan tumpeng ke laut sebagai simbol penyerahan kembali rezeki kepada Sang Pencipta.

 

Momong Perangkat

Sementara di Desa Bakalrejo, tradisi apitan diisi dengan ritual momong perangkat yang bersifat simbolis, di mana perangkat desa membawa pecut sebagai tanda kesiapan melayani masyarakat. Penentuan waktu pelaksanaan tradisi apitan dilakukan melalui musyawarah yang melibatkan kepala desa, perangkat desa, dan tokoh masyarakat setempat.

Tradisi ini dilaksanakan menjelang Iduladha sekaligus menjadi penanda dimulainya masa persiapan ibadah haji. Tradisi apitan tetap bertahan sebagai warisan budaya yang sarat nilai religius.

Pemerintah Kabupaten Demak melalui Dinas Pariwisata secara aktif mendokumentasikan dan mempromosikan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal. Kelestarian tradisi apitan tidak terlepas dari peran aktif masyarakat yang terus melestarikannya secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Penulis: Ade Yofi Faidzun