Hari Jamu Nasional: Menilik Eksistensi Minuman Tradisional Ini di Indonesia

Jamu dan budaya sehat minum jamu menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan dalam tradisi masyarakat Indonesia. Meski zaman sudah semakin modern, budaya minum jamu masih dilakukan oleh beberapa orang di Indonesia.

Diterbitkan 27 Mei 2025, 04:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Hari Jamu Nasional diperingati pada 27 Mei setiap tahunnya. Sebagai warisan budaya Indonesia yang sudah ada sejak lama, perkembangan minuman tradisional ini telah mengalami pasang surut hingga sekarang.

Jamu dan budaya sehat minum jamu menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan dalam tradisi masyarakat Indonesia. Meski zaman sudah semakin modern, budaya minum jamu masih dilakukan oleh beberapa orang di Indonesia.

Mengutip dari laman Kemenparekraf RI, asal julukan jamu memiliki banyak versi. Ada yang mengatakan bahwa jamu berasal dari gabungan Jawa dan ngramu (meramu), sehingga merujuk pada minuman tradisional berupa ramuan yang dibuat oleh orang Jawa.

Versi lain menyebut, jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno, djampi. Artinya, jamu adalah metode penyembuhan dengan ramuan herbal.

Konon, jamu sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram. Ilustrasi yang mirip dengan proses pembuatan jamu ditemukan di berbagai situs, di antaranya situs arkeologi Liyangan, relief di candi-candi, serta prasasti Madhawapura yang menyebutkan istilah peracik jamu dengan sebutan acaraki.

Sejak masa itu, jamu terus mengalami perkembangan hingga era kolonial. Pada abad ke-17, seorang ilmuwan bernama Jacobus Bontius menggunakan jamu untuk mengobati Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen. 

Di Indonesia, penjual jamu umumnya menjajakan dagangannya dengan berkeliling sambil menggendong bakul berisi botol-botol jamu. Mereka juga membawa ember kecil berisi air untuk mencuci gelas yang digunakan untuk meracik jamu.

Dari sanalah muncul istilah jamu gendong. Konon, pelopor istilah jamu gendong berasal dari daerah Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Beberapa varian jamu yang dijual adala kunyit asam, beras kencur, temulawak, dan lain sebagainya. Seiring perkembangan zaman, saat ini semakin banyak ragam varian jamu lainnya.

 

Rempah

Eksistensi jamu di Indonesia juga tak bisa dilepaskan dari kekayaan rempah di Nusantara. Terdapat sekitar 32.013 ramuan obat tradisional dan 2.848 spesies tumbuhan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu). 

Umumnya, bahan-bahan alami yang digunakan berasal dari akar, daun, buah, dan biji-bijian. Jamu juga dibuat dari rempah-rempah lain yang dicampur dengan air dan pemanis, seperti gula atau madu.

Bahan dasar alami ini yang membuat jamu memiliki khasiat tinggi untuk kesehatan tubuh. Jamu dapat mengobati berbagai jenis penyakit, seperti panas dingin, meriang, cacingan, cacar, berkaitan syaraf, batuk, mata, hingga masalah kesehatan lain yang lebih kompleks.

Khasiat jamu bahkan telah diakui secara internasional dengan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh UNESCO pada 2023. Secara spesifik, budaya sehat jamu masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO.

Penetapan 27 Mei sebagai Hari Jamu Nasional bertujuan untuk menghidupkan kembali keberadaan jamu di Indonesia. Hal ini merespons eksistensi jamu di Indonesia semakin memudar.

Pada 27 Mei 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tanggal tersebut sebagai hari kebangkitan jamu Indonesia. Pada kesempatan yang sama, jamu juga diresmikan sebagai kearifan lokal Indonesia. Sejak saat itu, setiap 27 Mei diperingati sebagai Hari Jamu Nasional.

Penulis: Resla