Ubrug, Seni Pertunjukan Betawi yang Memuat Lawakan Sekaligus Kritik Sosial

Ubrug juga memastikan bangunan sementara khusus untuk digunakan para pemainnya menyelenggarakan pertunjukan. Dari sinilah masyarakat menyebutnya sebagai ubrug.

Diterbitkan 26 Mei 2025, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ubrug merupakan seni pertunjukan Betawi yang memadukan unsur tradisi komedi, musik, gerak, dan sastra. Kesenian ini telah berkembang di beberapa wilayah di Banten, seperti Cikeusal, Pagelaran, Pandeglang, Leuwi Damar, dan Panimbang.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, ubrug dalam bahasa Sunda bermakna bangunan darurat atau tempat untuk bekerja sementara layaknya pesta. Kata ini selanjutnya digunakan sebagai nama kesenian yang merujuk pada nasib kesenian ini yang kerap berpindah tempat.

Ubrug juga memastikan bangunan sementara khusus untuk digunakan para pemainnya menyelenggarakan pertunjukan. Dari sinilah masyarakat menyebutnya sebagai ubrug. 

Versi lain menyebut bahwa ubrug berasal dari kata ngagebrug. Pasalnya, seni pertunjukan ubrug semua pemain dan penonton sama-sama menempati satu tempat pementasan atau ngagebrug.

Konon, kesenian ini telah dikenal rakyat Betawi pada awal abad ke-20. Era 1930-an menjadi masa keemasan kesenian ini. Awalnya, ubrug berasal dari daerah Banten Selatan hingga kemudian menyebar ke wilayah di sekitarnya.

 

Tanah Lapang

Ubrug merupakan teater rakyat yang dipentaslan di tanah lapang. Bentuk pementasannya dilakukan dengan cara mengamen keliling kampung. Konon, tempo dulu kesenian ini menjadi suguhan tontonan yang cukup populer. 

Sepanjang perjalanan keliling, musik ubrug tidak henti dimainkan. Adapun alat musik yang dimainkan berupa terompet, rebana biang, gendang, dan lanter.

Pementasan ubrug tidak lain dari menunjukan sulap yang dilengkapi peran pendek penuh banyolan atau lawakan. Untuk gerak sulapnya didasarkan pada keahlian tangan dan ilmu gaib.

Adapun sulap yang didasarkan ilmu gaib disebut sulap gedebus. Secara keseluruhan, ubrug tidak mementingkan alur cerita, melainkan lawakan yang menghibur.

Meski demikian, kritik sosial dan sindiran tetap diselipkan di antara lawakan tersebut. Salah satu kelompok seni pertunjukan ubrug tertua bernama Grup Cantel di Kota Serang.

Penulis: Resla