Legenda Urban: Nini Thowong, Boneka Kesenian Museum Tani Jawa Indonesia Beraura Mistis

Nini thowong juga kerap digunakan untuk ritual upacara memanggil hujan, pengobatan, pesugihan, hingga mencari barang yang hilang.

Diterbitkan 16 Mei 2025, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Salah satu benda koleksi di Museum Tani Jawa Indonesia yang menarik perhatian pengunjung adalah nini thowong. Koleksi berbentuk boneka kesenian ini lekat dengan beberapa ritual, sehingga memiliki kesan mistis.

Museum Tani Jawa Indonesia berlokasi di Desa Wisata Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Ragam koleksi alat pertanian, peternakan tradisional, dapur tradisional, hingga kesenian tradisional ada di sini.

Koleksi kesenian tradisional tersebut salah satunya adalah boneka nini thowong. Selain itu, ada juga memedi manuk atau memedi sawah.

Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, nini thowong awalnya merupakan permainan anak-anak di bulan purnama. Nini thowong juga kerap digunakan untuk ritual upacara memanggil hujan, pengobatan, pesugihan, hingga mencari barang yang hilang.

Nama nini thowong dalam bahasa Jawa merujuk pada nini yang berarti nenek dan thowong yang berarti kosong. Bentuknya berupa boneka yang dibuat dari susunan tempurung kelapa, kerangka bambu, dan diberi pakaian seperti manusia.

Kesenian asal Kabupaten Bantul ini digambarkan sebagai seorang perempuan tua. Konon boneka yang masih kosong ditempati oleh roh halus.

Proses pemanggilan roh dilakukan agar mau menempati boneka tersebut. Adapun roh yang biasanya memasuki boneka ini adalah roh perempuan yang dipercaya juga tinggal di dusun setempat, baik itu roh baik maupun roh jahat.

Secara semiotik, nini thowong merupakan media penyampaian pesan keagamaan lewat lagu. Salah satu lagu yang dinyanyikan adalah Ilir-ilir sebagai pengiring permainan.

Pada zaman dahulu, permainan nini thowong hanya diiringi lagu dan tepuk tangan. Bentuk fisik boneka ini melambangkan sifat baik dan buruk dalam diri manusia yang disimbolkan dengan warna putih dan hitam. Selain itu, terdapat sesaji yang menyimpan makna cita-cita luhur untuk membangun bangsa dan negara.

 

Tradisi dan Mistis

Konon, nini thowong lahir dari gabungan tradisi dan mistis. Roh halus yang merasuki boneka ini dapat membuatnya menari-nari. Saat menari, boneka ini juga dipegang oleh orang yang memainkannya.

Bagi beberapa orang, nini thowong diyakini sebagai permainan yang bertujuan meminta keselamatan. Hal ini pula yang membuat boneka ini dipercaya memiliki mitos sebagai penyembuh penyakit. Meski tak dapat berbicara, nini thowong berkomunikasi dengan bahasa tubuh, seperti mengangguk atau menggeleng.

Sebagai seni pertunjukan, nini thowong biasanya dimainkan oleh ibu-ibu yang memegang boneka dengan dipimpin pawang. Boneka ini dapat menggeleng, mengangguk, meloncat-loncat, berputar, dan melambai.

Dalam pementasannya, kesenian ini juga dilakukan dengan praktik ritual berupa sesaji sebagai perwakilan atas keinginan mereka. Tujuannya sebagai bentuk persembahan kepada para roh halus yang bersemayam di suatu tempat. Adapun persembahan sesaji itu berupa dua sisir pisang raja yang menyimbolkan agar cita-cita senantiasa luhur, serta bunga setaman yang berarti bahwa manusia dalam kehidupan di dunia tidak dapat terlepas dari lingkungan alam.

Para penonton yang menyaksikan pertunjukan nini thowong diimbau untuk menjaga sopan santun, baik dalam tindakan dan ucapan. Jika penonton mengeluh, maka nini thowong akan marah dan membenturkan badannya ke penonton tersebut.

Namun, biasanya penonton anak-anak akan beringsut agak menjauh. Saat nini thowong mulai marah, seorang lelaki bersurjan akan menyalakan lilin dan hio sambil mengucapkan sesuatu agar nini thowong menjadi lebih jinak.

Hingga kini, permainan serta kesenian bersifat mistis dan penuh hal-hal yang keramat (wingit) ini masih tetap bertahan. Adapun beberapa permainan sejenis nini thowong di daerah lain yang masih dikenal adalah nini edhok, nini dhiwut, cowongan, dan jelangkung.

Penulis: Resla