Liputan6.com, Jakarta - Maggiri Beras merupakan salah satu tradisi agraris yang lahir dari budaya gotong royong masyarakat Bugis Makassar, terutama yang berada di wilayah Kabupaten Maros dan sebagian kawasan pinggiran Kota Makassar.
Tradisi ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, melainkan mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas sosial, serta filosofi hidup yang menghormati alam dan leluhur. Dalam bahasa Makassar, Maggiri atau Ma'giri berarti bekerja secara bersama-sama, sementara beras merujuk pada padi, komoditas utama yang menjadi penopang kehidupan masyarakat agraris setempat.
Tradisi Maggiri Beras umumnya dilakukan saat musim tanam tiba, di mana warga satu kampung akan berkumpul di sawah milik salah satu keluarga untuk membantu menanam padi secara bergantian, dari satu lahan ke lahan lainnya.
Advertisement
Uniknya, tidak ada imbalan materi dalam bentuk uang dalam praktik Maggiri Beras ini. Imbalan diberikan dalam bentuk makanan tradisional, keramahan tuan rumah, serta janji bahwa pada gilirannya, tenaga akan dibalas dengan partisipasi serupa saat giliran mereka menanam.
Inilah bentuk ekonomi timbal balik yang sudah berlangsung turun-temurun, jauh sebelum sistem ekonomi modern mengenal transaksi tunai. Pelaksanaan Maggiri Beras selalu diawali dengan ritual adat atau doa bersama yang dipimpin oleh tetua adat atau tokoh masyarakat.
Doa ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan, kelancaran proses tanam, serta hasil panen yang melimpah. Biasanya, warga akan membawa perlengkapan tani secara tradisional seperti kaluku (batok kelapa), botting (alat tanam dari bambu), dan kaluku’ tolang (alat pengukur jarak tanam).
Sebelum turun ke sawah, ibu-ibu akan menyiapkan makanan khas seperti buras, songkolo’, dan air gula merah sebagai bekal untuk disantap bersama di pematang sawah saat istirahat siang. Sementara itu, para pria dan pemuda bahu-membahu menanam bibit padi sambil bercengkerama, tertawa, dan menyanyi lagu-lagu tradisional.
Nuansa kebersamaan yang penuh semangat ini membuat pekerjaan berat terasa ringan, bahkan menjadi semacam perayaan sosial di tengah kepenatan hidup. Tradisi ini tidak hanya menanam padi dalam arti harfiah, tetapi juga menanamkan rasa saling percaya, kesetiaan pada nilai-nilai budaya, dan keakraban sosial yang kian langka di era modern.
Kearifan Lokal
Di tengah gempuran teknologi pertanian dan sistem kerja individualistik yang semakin marak, Maggiri Beras tetap bertahan di sejumlah desa di Maros seperti di Tompobulu, Cenrana, dan Simbang, serta di pinggiran Makassar seperti Tamalanrea dan Biringkanaya.
Keberlanjutan tradisi ini tak lepas dari peran aktif komunitas adat, pemerintah desa, dan pegiat budaya yang terus menyuarakan pentingnya melestarikan warisan lokal sebagai identitas kolektif.
Beberapa sekolah dan kelompok pemuda bahkan menggelar program edukasi berbasis budaya yang mengajak generasi muda untuk turut terlibat dalam Maggiri Beras, baik sebagai pelaku langsung maupun sebagai dokumentator kegiatan.
Selain itu, tradisi ini juga mulai mendapat perhatian dari sektor pariwisata berbasis budaya, di mana sejumlah wisatawan domestik dan mancanegara diajak untuk menyaksikan atau ikut serta dalam proses penanaman padi sebagai bagian dari paket wisata budaya.
Hal ini tentu memberikan dampak positif tidak hanya dari segi ekonomi lokal, tetapi juga dalam meningkatkan apresiasi terhadap tradisi leluhur yang sarat makna.
Keunikan Maggiri Beras tidak hanya terletak pada prosesnya, tetapi juga pada filosofi di balik praktik tersebut. Dalam pandangan masyarakat Bugis-Makassar, tanah dan padi bukan semata-mata benda mati atau objek ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga secara spiritual dan sosial.
Padi dianggap sebagai anugerah dari Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa), sehingga proses menanamnya harus dilandasi niat baik, kerja tulus, dan kesadaran akan keterikatan manusia dengan alam. Maggiri Beras menjadi semacam ritual ekologis yang menyatukan manusia dengan tanah yang mereka pijak, dengan langit yang mereka pandang, dan dengan sesama manusia yang bekerja bersama.
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh kepentingan pribadi, Maggiri Beras menjadi pengingat bahwa kehidupan yang berkelanjutan hanya mungkin jika kita berjalan bersama, menanam bersama, dan memanen hasilnya secara adil dan merata.
Tradisi ini menjadi bentuk nyata dari kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu, dan patut menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam membangun komunitas yang lebih manusiawi dan berbudaya.
Â
Penulis: Belvana Fasya Saad
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327596/original/000770900_1782197299-cek_fakta_-_dishub_lowongan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471300/original/019987800_1768283249-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-13T124627.766.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1570395/original/080643100_1517852629-cropped1750759915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5187173/original/009240200_1744684497-closeup-chinese-plant-healthy-ripe_1172-262.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1371708/original/005900800_1476258392-Makassar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/827404/original/069659300_1510203910-WhatsApp_Image_2017-11-09_at_12.04.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261507/original/086752300_1781723618-063_2282082971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261500/original/047650500_1781713643-bosnia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263929/original/069841500_1782033777-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262977/original/095515100_1781855197-20260616HK_Latihan_Timnas_Prancis_01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262514/original/049328500_1781828863-Canada_s_Jonathan_David__left__and_Stephen_Eustaquio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261544/original/016069100_1781743382-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8275504/original/022503000_1782129376-Untitled-1-04.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261718/original/051731600_1781755469-IMG-20260618-WA0022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261448/original/088941000_1781704030-000_B7CB6XU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327170/original/046346200_1782196768-AP26174048235003.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262481/original/011971700_1781803398-Croatia_s_Luka_Modric.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263639/original/016182700_1781947723-778419.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263612/original/095035500_1781945422-777874.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263266/original/063472100_1781873628-775009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262806/original/030546800_1781849066-773543.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261817/original/031020200_1781758697-769133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260136/original/069719400_1781577134-pengungkapan-kasus-pembunuuhan-drw1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259203/original/001347300_1781491494-kasus-pembunuhan-mks-drw.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542796/original/037226800_1774957477-Chef_Gunadi2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256899/original/013596100_1781174982-741940.jpg)