Pondok Boro, Kisah Gudang Rempah Kolonial yang Berubah Jadi Penginapan Murah di Semarang

Lokasinya yang berada di bantaran kali Semarang tidak lepas dari sejarah pelabuhan dan perdagangan di kawasan tersebut. Pada masa itu, kawasan ini menjadi salah satu pusat logistik penting di Jawa Tengah.

Diterbitkan 09 Mei 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Semarang - Sebuah kota di Jawa Tengah yakni Semarang, terdapat sebuah bangunan tua yang telah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka. Awalnya berfungsi sebagai gudang rempah-rempah di era kolonial.

Mengutip dari berbagai sumber, bangunan ini kini menjelma menjadi Pondok Boro, penginapan super murah dengan tarif Rp4.000 per malam. Pondok Boro terletak di RT 3/RW 5, Kelurahan Kauman, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Lokasinya yang berada di bantaran kali Semarang tidak lepas dari sejarah pelabuhan dan perdagangan di kawasan tersebut. Pada masa itu, kawasan ini menjadi salah satu pusat logistik penting di Jawa Tengah.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini perlahan beralih fungsi. Cerita yang berkembang di kalangan penghuni menyebutkan bahwa seorang lurah setempat bernama Darmin meminta seorang pekerja asal Kebumen untuk menempati gudang tersebut.

Saat itu, banyak perantau yang kesulitan mencari tempat tinggal dan terpaksa tidur di sekitar Pasar Johar. Secara bertahap, gudang itu pun dijadikan tempat menginap bagi para perantau, terutama yang berasal dari Kebumen.

Pada awalnya, Pondok Boro didominasi oleh perantau asal Kebumen. Akan tetapi, seiring waktu, penghuni dari daerah lain juga mulai berdatangan.

Kini, bangunan tersebut dihuni oleh sekitar 100 orang laki-laki. Kebanyakan penghuninya adalah pekerja dengan ekonomi menengah ke bawah.

Bisa Sewa

Sistem sewa di Pondok Boro tergolong unik. Penghuni membayar Rp120.000 per bulan, atau setara Rp4.000 per malam. Jika sedang mudik atau tidak menginap, mereka tidak dikenai biaya.

Setiap penghuni memiliki kartu catatan pembayaran sebagai bukti transaksi. Meski begitu, tidak banyak yang tahu pasti siapa pemilik bangunan ini.

Pondok Boro dari luar, terlihat seperti bangunan tua yang lapuk dan tidak terawat. Akan tetapi, di dalamnya, bangunan ini masih kokoh dengan struktur kayu yang bertahan sejak era kolonial.

Penghuni mengaku bahwa kayu-kayu penyangga bangunan masih asli dan utuh, meski usia bangunan sudah lebih dari setengah abad. Tarif sewa Pondok Boro tidak pernah mengalami kenaikan yang tinggi.

Pada 1996, tarifnya masih Rp200 per malam. Kemudian, secara bertahap naik menjadi Rp300, Rp1.000, Rp1.500, Rp2.000, dan Rp3.000 sebelum akhirnya mencapai Rp4.000 per malam seperti saat ini. Kenaikan tarif terjadi dalam kurun waktu puluhan tahun tanpa pernah melonjak drastis.

Penulis: Ade Yofi Faidzun