Pitoh, Kuliner Nusantara Khas Suku Dayak Terbuat dari Beras Ketan

Di banyak kampung Dayak, pembuatan Pitoh menjadi kegiatan bersama yang melibatkan anggota keluarga, terutama perempuan, yang saling bahu membahu

Diterbitkan 07 Mei 2025, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam khazanah kuliner Nusantara yang begitu kaya dan beragam, suku Dayak yang mendiami wilayah pedalaman Kalimantan memiliki beragam makanan tradisional yang tidak hanya menggugah selera tetapi juga sarat akan makna budaya dan nilai kearifan lokal.

Salah satu makanan khas yang mencerminkan kedalaman tradisi mereka adalah Pitoh. Makanan ini sepintas tampak sederhana, beras ketan yang dibungkus daun palem dan dikukus hingga matang namun di balik kesederhanaan tampilannya tersembunyi filosofi, teknik pengolahan yang khas, serta fungsi sosial yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Suku Dayak Bahau.

Pitoh sering kali disajikan dalam upacara adat, pesta panen, dan pertemuan-pertemuan keluarga besar. Proses pembuatannya tidak hanya soal memasak, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Di banyak kampung Dayak, pembuatan Pitoh menjadi kegiatan bersama yang melibatkan anggota keluarga, terutama perempuan, yang saling bahu membahu mulai dari mempersiapkan bahan hingga membungkus ketan dengan daun palem yang sudah dipilih secara hati-hati agar memberikan aroma khas ketika dikukus.

Dibandingkan dengan makanan tradisional lain yang juga menggunakan beras ketan seperti lontong atau lemang, Pitoh memiliki kekhasan yang membuatnya berbeda dan istimewa.

Daun palem yang digunakan untuk membungkus ketan, berbeda dari daun pisang atau bambu yang umum digunakan di wilayah lain di Indonesia, memberikan rasa dan aroma yang unik.

Ketika dikukus, daun palem tersebut mengeluarkan aroma khas yang meresap ke dalam beras ketan, menciptakan cita rasa yang khas dan sulit ditiru. Tekstur Pitoh cenderung lebih kenyal dan legit, dengan rasa alami dari ketan yang berpadu dengan keharuman alami daun.

Di beberapa wilayah Dayak, Pitoh juga disajikan bersama lauk-pauk tradisional seperti daging babi asap, ikan sungai bakar, atau sambal terasi hutan yang dibuat dari bahan-bahan lokal.

Suguhan Utama

Dalam beberapa variasi, ketan dalam Pitoh kadang-kadang dicampur dengan parutan kelapa atau sedikit garam untuk memberikan cita rasa gurih yang lembut. Semua bahan tersebut dipilih dengan seksama, seringkali berasal dari ladang atau hutan sekitar yang dikelola secara lestari oleh masyarakat Dayak.

Dengan begitu, pitoh bukan hanya soal makanan, tapi juga representasi dari keterikatan erat antara manusia dan alam. Peran Pitoh dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Dayak juga tak bisa dipandang sebelah mata.

Dalam banyak ritual adat, Pitoh dipersembahkan sebagai bagian dari sesajen kepada leluhur atau roh penjaga kampung. Makanan ini dianggap sebagai simbol kelimpahan dan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh.

Dalam konteks ini, Pitoh menjadi lebih dari sekadar pangan ia menjadi medium komunikasi antara manusia dan dunia spiritual, sebuah cara untuk menjaga keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan.

Oleh karena itu, cara membuat dan menyajikan Pitoh pun dilakukan dengan penuh kesungguhan dan rasa hormat. Tidak jarang, sebelum memulai proses pembuatannya, dilakukan doa atau ritual kecil yang dimaksudkan untuk memohon berkah dan keselamatan.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap detail dalam budaya Dayak selalu sarat makna dan tidak pernah terlepas dari nilai-nilai spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pesta adat seperti Gawai Dayak, Pitoh menjadi suguhan utama yang dibagikan kepada para tamu sebagai simbol kebersamaan dan penerimaan. Membagi pitoh kepada orang lain dianggap sebagai bentuk berbagi rezeki dan mempererat tali persaudaraan.

Penulis: Belvana Fasya Saad