Layangan Singgang, Permainan Tradisional Simbol Tari Doger

Masyarakat Betawi tempo dulu biasanya memainkan layangan singgang usai panen padi. Permainan ini sekaligus menjadi simbol dari salah satu tarian khas Betawi, yakni tari doger.

Diterbitkan 30 April 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Layangan singgang adalah salah satu permainan tradisional yang banyak dimainkan anak-anak Betawi tempo dulu. Konon, tarian ini merupakan simbol tari doger.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, layangan singgang bukan sekadar permainan layang-layang biasa. Bagi masyarakat Betawi, layangan ini tumbuh dari gagasan masyarakat yang ingin membangun benda seperti pesawat terbang.

Masyarakat Betawi tempo dulu biasanya memainkan layangan singgang usai panen padi. Permainan ini sekaligus menjadi simbol dari salah satu tarian khas Betawi, yakni tari doger. Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara besar, termasuk saat perayaan panen.

Bentuk layangan singgang yang besar dan bisa terbang konon mencerminkan kebebasan dan semangat dalam tarian doger. Bentuk tersebut juga menggambarkan kegembiraan, energi, aspirasi, dan harapan masyarakat Betawi. 

Untuk membuat layangan singgang dibutuhkan alat dan bahan berupa bambu, kertas lilin, minyak lilin, benang rami, dan kaleng. Bambu yang digunakan disebut arku yang banyak ditemukan di kebun orang Betawi.

Bambu dibelah dan dijemur di bawah sinar matahari sebelum dibentuk menjadi layang-layang. Adapun untuk kertas penyerap harus dilapisi dengan minyak lilin agar kuat dan tidak mudah sobek saat terkena angin atau hujan. 

Penggunaan benang rami biasanya membutuhkan panjang tidak lebih dari 3.000 meter. Benang tersebut digulung dalam toples agar tidak berserakan.

 

Dimainkan 2 Orang

Layangan singgang biasanya dimainkan oleh dua orang yang masing-masing bertugas memegang gulungan benang dan menerbangkan layang-layang. Jarak kedua pemain harus cukup jauh agar layang-layang dapat naik dengan mudah tertiup angin saat dilepaskan.

Saat layang-layang mulai terbang, pemain menarik dan merentangkan benang dari bawah. Sementara itu untuk menurunkannya, pemain perlu melakukannya secara perlahan agar layang-layang tidak sembarang menukik ke segala arah.

Meski tak sebanyak dahulu, tetapi layangan singgang masih dimainkan hingga saat ini. Permainan ini menjadi kegiatan hiburan sekaligus rekreasi bagi masyarakat Betawi.

Penulis: Resla