Ragam Ritual Perawatan Calon Pengantin Wanita Adat Betawi, Jadi Tradisi Turun-temurun

Tradisi ini juga bertujuan untuk memberikan waktu bagi calon pengantin untuk mempersiapkan diri secara mental dalam menghadapi kehidupan berumah tangga.

Diterbitkan 28 Maret 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi perempuan Betawi, pernikahan adalah sebuah ibadah yang penuh tradisi. Terdapat sejumlah ritual perawatan yang harus dilakukan oleh calon pengantin wanita.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, rangkaian acara pra-akad nikah tidak hanya bertujuan untuk menjaga kesehatan dan kecantikan fisik calon pengantin. Tradisi ini juga bertujuan untuk memberikan waktu bagi calon pengantin untuk mempersiapkan diri secara mental dalam menghadapi kehidupan berumah tangga.

Berikut ragam ritual perawatan calon pengantin wanita adat Betawi:

1. Masa Dipiare

Masa dipiare adalah tahapan saat calon none mantu dipelihara oleh tukang piare atau tukang rias. Calon none mantu atau calon pengantin wanita harus mengenakan baju terbalik berupa kain sarung dan kebaya longgar dengan panjang lengan sekitar 3/4. Pakaian tersebut melambangkan tolak bala.

Selain soal pakaian, mereka juga dianjurkan mengonsumsi makanan yang dibakar atau dipanggang. Mereka dilarang mengonsumsi makanan yang digoreng agar tidak menambah berat badan.

Nantinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita akan diurut dan dilulur sekali sehari. Mereka juga harus memperbanyak berzikir dan membaca selawat. Selain itu, dianjurkan juga membaca surat Yusuf agar kelak memiliki anak yang baik, pintar, serta memiliki paras dan sifat seperti Nabi Yusuf AS.

2. Mandi Kembang

Sebelum akad nikah, calon pengantin wanita juga akan melalui ritual mandi kembang. Ritual ini memiliki beberapa tahapan yang diawali dengan memohon izin dan doa restu pada orang tua untuk melaksanakan acara mandi sebagai persiapan menuju pernikahan.

Tahapan kedua, calon none mantu mengganti bajunya dengan kemben, kebaya, dan kerudung tipis. Tahapan selanjutnya, calon none mantu didudukkan di kursi berlubang.

Pada bagian bawah kursi diletakkan ratus yang mengepulkan asap kayu gaharu. Hal ini bertujuan agar tubuh none mantu mengeluarkan aroma harum kayu gaharu.

Setelahnya, baru tahap mandi kembang. Calon none mantu akan dimandikan oleh tukang piara, ibu, nenek, serta kakak dan adik perempuan.

 

Tangas atau Acara Kum

3. Tangas atau Acara Kum

Ritual perawatan calon pengantin wanita adat Betawi selanjutnya adalah tangas atau acara kum. Acara ini identik dengan mandi uap yang bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa lulur yang masih tertinggal di tubuh none mantu.

Perawatan ini dimaksudkan untuk menghaluskan dan mengharumkan kulit tubuh. Selain itu, jenis perawatan ini juga dilakukan untuk mengurangi keringat pada saat hari pernikahan.

4. Acara Ngerik dan Malem Pacar

Selanjutnya ada acara ngerik dan malem pacar. Saat calon none mantu melaksanakan ritual ini, calon tuan mantu melaksanakan kegiatan malem nyerondeng atau malam bungkus-bungkus di rumahnya.

Pihak calon tuan mantu mempersiapkan semua kebutuhan seserahan dengan dibantu teman-temannya. Bukan hanya menyiapkan seserahan, calon tuan mantu juga mempersiapkan mental dan melatih ucapan ijab kabul.

Adapun dalam pelaksanaan acara ngerik dan malem pacar, calon none mantu didudukkan di atas kain putih. Tukang piara akan mengerik atau mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar kening, pelipis, tengkuk, dan leher calon none mantu.

Selanjutnya, dibuatkan centung rambut di kedua sisi pipi di depan telinga. Acara dilanjutkan dengan memakai pacar pada kuku tangan dan kaki.

Penulis: Resla