Sukses

4 Lukisan Raden Saleh yang Fenomenal Berharga Miliaran Rupiah

Liputan6.com, Yogyakarta - Raden Saleh maestro lukis zaman kolonial mendadak menjadi perbincangan seusai kemunculan namanya dalam sebuah film baru-baru ini. Film berjudul ‘Mencuri Raden Saleh’ garapan Anggra Dwimas Sasongko berhasil membuat khalayak luas mengingat kembali sosok Raden Saleh.

Dikutip dari berbagai sumber, Raden Saleh merupakan pionir pelukis Indonesia dengan aliran romantisme. Ia disebut-sebut sebagai maestro dalam seni rupa modern Indonesia pada zamannya.

Karya Raden Saleh yang paling terkenal adalah lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Namun lukisan tersebut hanya satu dari banyak karya Raden Saleh yang terkenal dan mendunia.

Berikut sederet karya fenomenal lukisan Raden Saleh yang mendunia dan berharga miliaran rupiah.

1. Penangkapan Pangeran Diponegoro

Lukisan ‘Penangkapan Diponegoro’ merupakan salah satu lukisan Raden Saleh yang fenomenal. Lukisan ini menjadi lukisan sejarah pertama di Asia Tenggara, sekaligus dilukis oleh orang Asia Tenggara sendiri, yakni Raden Saleh.

Dalam lukisan ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’, Raden Saleh menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda terhadap Pangeran Diponegoro. Pada saat itu, Belanda melakukan tipu muslihat yang berakhir dengan penangkapan Pangeran Diponegoro, pada 28 Maret 1830.

Awalnya, Pangeran Diponegoro dijanjikan untuk melakukan perundingan oleh Belanda. Namun, yang terjadi ia malah ditangkap dan diasingkan ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Lukisan ini juga menjadi respons Raden Saleh terhadap lukisan Nicolaas Pieneman. Sebelumnya, peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro ini sudah lebih dulu dibuat oleh pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman, pada 1835.

Namun, Raden Saleh seakan tidak setuju dengan hasil gambarannya, sehingga ia membuat beberapa perubahan. Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sisi kanan, sedangkan Raden Saleh dari sisi kiri.

Selain itu, Pieneman melukis wajah Pangeran Diponegoro dengan tampang lesu, sedangkan Saleh menggambarkan raut Diponegoro yang tegas dan menahan amarah. Setelah selesai dilukis pada 1857, Raden Saleh memberikan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag, Belanda.

Kemudian, lukisan itu baru dipulangkan ke Indonesia pada 1978. Konon, kini lukisan yang menjadi koleksi negara tersebut terpasang di dinding Ruang Pamer Utama Museum Istana Kepresidenan di Yogyakarta.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Kapal Karam Dilanda Badai

2. Kapal Karam Dilanda Badai

Lukisan ‘Kapal Karam Dilanda Badai’ berukuran 74 x 98 sentimeter ini dibuat menggunakan cat minyak di kanvas. Layaknya karya-karya bercorak romantisisme, dalam lukisan ini Raden Saleh mengungkapkan perjuangan dramatis dua buah kapal di tengah empasan ombak dan badai dahsyat di lautan.

Suasana mencekam diekspresikan melalui awan tebal yang gelap dan ombak-ombak tinggi yang menghancurkan salah satu kapal. Dari sudut atas lukisan, secercah sinar matahari tampak memantul ke gulungan ombak, yang menambah kesan dramatis.

Lukisan ini dibuat pada 1840, kini ‘Kapal Karam Dilanda Badai’ menjadi salah satu koleksi Galeri Nasional Indonesia.

3. Perburuan Banteng

Lukisan ‘Perburuan Banteng’ merupakan salah satu karya Raden Saleh yang terkenal dan dihargai cukup tinggi. Salah satu lukisan ‘Perburuan Banteng’ yang dilelang di Perancis, berakhir dengan harga 7,2 juta euro atau sekitar Rp 120 miliar.

Raden Saleh semasa hidupnya melukis lima karya dengan tema perburuan banteng. Tiga karya dibubuhi tahun pembuatan yaitu 1842, 1851, dan 1855, sedangkan dua lainnya tidak diketahui kapan dilukis olehnya.

 

3 dari 3 halaman

Perkelahian dengan Singa

4. Perkelahian dengan Singa

Lukisan ‘Perkelahian dengan Singa’ karya Raden Saleh dikenal juga dengan julukan ‘Antara Hidup dan Mati’. Bersama lukisan ‘Berburu Banteng II’, lukisan ini dihadiahkan Ratu Belanda Juliana kepada Pemerintah Indonesia pada 1970, satu abad setelah lukisan tersebut selesai dibuat.

Melalui karya ‘Antara Hidup dan Mati’, Raden Saleh terlihat mampu mengungkapkan suasana ketegangan dengan sangat baik. Adapun lukisan ini menggambarkan seorang penunggang kuda dari Arab (representasi dari negara Asia) yang diterkam oleh seekor singa (representasi dari negara Eropa), dan seorang berkulit hitam yang tertimpa singa (Afrika).

Jika ditafsirkan lebih jauh, terdapat pesan perlawanan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika terhadap penindasan yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Berbahan cat minyak di atas kanvas dan berukuran 263 X 193 cm, ‘Antara Hidup dan Mati’ ditaksir bernilai Rp60 miliar.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.