Sukses

Klitih Makin Menggila, Kesan Yogyakarta yang Romantis Berubah Jadi Anarkistis?

Liputan6.com, Yogyakarta - Kekerasan jalanan atau yang disebut klitih makin marak terjadi di DIY. Hal ini mencoreng kesan Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kota romantis. Terkait hal itu, Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana, Rabu (29/12/2021) mengatakan, perlu tindakan nyata dari berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, untuk memberantas kejahatan klitih ini.

"Saya minta klitih dideteksi sejak awal oleh aparat dan dilakukan pencegahan. Dengan teknologi yang ada saat ini saya yakin mampu melakukan deteksi dini koordinasi geng klitih," katanya.

Dirinya juga mengingatkan pentingnya pemberantasan narkoba dan minuman keras yang dianggap menjadi pemicunya. Dia bahkan menyebut, hampir semua pelaku klitih adalah pemuda pengguna narkoba dan mengonsumsi alkohol.

"Poin berikutnya adalah tindakan hukum yang tegas untuk pelakunya agar menimbulkan efek jera," katanya.

Sementara itu, Kadiv Humas Jogja Police Watch Baharuddin Kamba mengatakan, perlu ada patroli rutin yang dilakukan aparat di tempat dan jam tertentu. Lampu-lampu yang dipadamkan perlu dinyalakan kembali agar tidak menjadi lokasi klitih beraksi, selain juga razia kendaraan bermotor yang tidak memakai pelat nomor.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Pembacokan di Kaliurang

Sebelumnya, polisi telah mengamankan enam orang terkait dugaan kasus penganiayaan dan pembacokan di Jalan Kaliurang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin dini hari (27/12/2021).

Kepala Bidang Humas Polda DIY Komisaris Besar Polisi Yuliyanto, Selasa (28/12/2021) menyebutkan, kejadian itu bermula saat korban bersama tiga temannya membeli makanan di sebuah warung, Desa Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, sekitar pukul 24.00 WIB.

Seusai makan, korban pulang. Namun, saat melintas di Jalan Kaliurang sekitar pukul 01.30 WIB korban yang mengendarai sepeda motor matik mendapat lemparan botol oleh pelaku, kemudian ditendang hingga jatuh.

Merasa terancam, korban kemudian lari menyelamatkan diri. Namun, korban tetap dikejar oleh para pelaku.

"Korban berlari, dikejar, dan dianiaya oleh pihak lawannya menggunakan sajam (senjata tajam)," ujar Yuliyanto.

Akibat penganiayaan itu, korban mengalami luka di telapak tangan, gigi depan, serta bagian punggung. Setelah mendapatkan laporan dari korban, kata Yuliyanto, Polsek Ngaglik bersama Polda DIY mencari para pelaku.

 

3 dari 3 halaman

Motif Penganiayaan

Enam orang pelaku penganiayaan yang kini sudah diamankan di Mapolsek Ngaglik tengah menjalani pemeriksaan.

"Saat ini sedang kami dalami peran masing-masing untuk menentukan apakah yang bersangkutan bisa dilanjutkan ke penyidikan atau tidak," katanya.

Kapolres Sleman AKBP Wachyu Tri Budi menyebutkan, penangkapan terhadap para pelaku di kediaman masing-masing, dan ada di antara mereka berstatus pelajar.

"Ada yang di bawah umur. Akan tetapi, rata-rata dewasa, yang di bawah umur baru satu orang," kata Wachyu.

Ia mengungkapkan motif penganiayaan itu dipicu ketersinggungan antara para pelaku dan korban saat di jalan. Sebelum terlibat keributan, menurut dia, para pelaku yang tergabung dalam sebuah geng pelajar tersebut menggelar kegiatan di sebuah hotel, Jalan Kaliurang.

"Motif mereka hanya ketersinggungan di jalan saja," katanya lagi.