Sukses

6 Fakta Kasus Penganiayaan Perawat RS Siloam Sriwijaya di Palembang

Liputan6.com, Palembang - Penganiayaan yang dialami Christina Ramauli Simatupang, perawat di Rumah Sakit (RS) Siloam Sriwijaya Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), menyedot perhatian warga Indonesia.

Bahkan, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pusat pun turut mengecam aksi pelaku JT, yang nekat menganiaya perawat yang memberikan pelayanan kesehatan ke anak pelaku.

Liputan6.com mencoba merangkum enam fakta terkait kasus penganiayaan perawat RS Siloam Sriwijaya Palembang tersebut.

1.Viral di Media Sosial 

Pelaku JC (baju merah) saat menjambak rambut perawat RS Siloam Sriwijaya Palembang Sumsel Christina (Dok. Instagram @palembang_wikwikwik / Nefri Inge)

Penganiayaan yang terjadi pada hari Kamis (15/4/2021) di ruang IPD 6 Kamar 6026 RS Siloam Sriwijaya Palembang, dilakukan JT, ayah pasien anak yang dirawat oleh korban.

Pelaku diduga emosi karena terdapat darah saat korban mencabut selang infus dari tangan anaknya. Aksi kekerasan pun dilakukan JT ke korban, di depan petugas RS Siloam Sriwijaya Palembang lainnya.

Tindakan tersebut direkam oleh salah satu petugas RS Siloam Sriwijaya Palembang, hingga akhirnya video tersebut menyebar dan viral di media sosial (medsos).

Dalam video tersebut, pelaku JT tak segan untuk mendorong dan menjambak rambut korban.

2. Mengaku Anggota Polisi

JC, pelaku penganiayaan perawat RS Siloam Palembang sempat mengaku sebagai anggota polisi (Dok. Instagram @palembang_wikwikwik / Nefri Inge)

Saat menganiaya dan menghardik korban dan rekannya, pelaku sempat mengaku sebagai seorang anggota polisi.

Hal tersebut dibenarkan oleh Direktur Keperawatan RS Siloam Sriwijaya Palembang Benedikta Beti Bawaningtyas, saat menggelar konferensi pers di ruang MCU RS Siloam Sriwijaya Palembang.

Saat insiden terjadi, ada salah satu keluarga pasien lainnya yang sedang dirawat di lantai 6, mencoba melerai perkelahian tersebut.

“Yang membantu itu mengingatkan ke pelaku, jangan main hakim sendiri. Karena dia juga polisi. Pelaku awalnya mengaku sebagai polisi, tapi kita sudah dapat informasi, jika dia bukan (polisi),” ujarnya.

 

2 dari 5 halaman

3. Lapor ke Polisi

Korban yang mengalami penganiayaan, akhirnya melaporkan peristiwa yang dialaminya ke SPKT Polrestabes Palembang di hari yang sama.

Kasubag Humas Polrestabes Palembang, Kompol Moch Abdullah membenarkan adanya laporan perawat Christina Ramauli Simatupang dan sedang dalam proses penyelidikan.

"Laporannya sudah kami terima dan kini masih dalam proses penyelidikan unit reskrim," ujarnya.

4. Dukungan dari Berbagai Pihak

Polrestabes Palembang Sumsel (Liputan6.com / Nefri Inge)

Mendengar adanya penganiayaan yang dialami salah satu tenaga kesehatan (nakes) di Palembang, PPNI Sumsel pun turut geram.

“Saya sangat menyayangkan kekerasan yang dilakukan oknum keluarga pasien di RS Siloam Sriwijaya Palembang. Kita akan dampingi dan kawal ke jalur hukum,” katanya.

Dukungan pun turut hadir dari Pemuda Batak Bersatu dari Banyuasin dan Palembang. Komunitas tersebut, mendatangi Polrestabes Palembang, untuk menanyakan terkait kasus yang dialami oleh korban, pada hari Jumat siang.

“Kami harap pihak kepolisian dapat memproses laporan dari korban. Supaya pihak rumah sakit tidak menutupi (kasus penganiayaan korban) demi bisnis,” ucap Situmorang, salah satu anggota komunitas Pemuda Batak Bersatu tersebut.

 

3 dari 5 halaman

5. Reaksi Warganet

Diduga tak terima dengan pemberitaan yang menyudutkan pelaku JC, akun Instagram @halomelisa21 yang diduga merupakan istri pelaku, akhirnya mengunggah postingan.Dia memposting foto perawat Christina dengan caption ‘Pelaku penganiayaan pada anak saya’.

Postingan yang dibuat beberapa waktu lalu, sontak menuai cibiran dari warganet. Seperti akun Instagram @msy_renny, yang bagaimana penganiayaan tersebut, apakah korban memukul, memendang perut dan menjambak rambut pasien.

Anaknya ibu kalau anaknya di rumah sakit dibahayakan dengan jarum suntik. Akan diam atau akan melindungi anaknya. Secara suster yang tidak merasa bersalah dan tidak ada kata maaf,” jawab akun Instagram @halomelisa21, Jumat (16/4/2021).

Dia juga menulis komentar di kolom, bahwa perawat Christina yang tidak merasa bersalah dan tidak meminta maaf, justru menyalahkan keluarganya. 

Pernyataan yang dibuat akun Instagram @halomelisa21 di kolom postingannya, sebelum akhirnya akun tersebut terkunci untuk umum (Dok. Instagram @halomelisa21 / Nefri Inge)

Siloam itu rumah sakit internasional bos. Kita juga bayar cash biaya pengobatan. Kita mau berobat, bukan cari masalah,” tulisnya lagi.

Pembelaan tersebut, malah membuat akun Instagram tersebut dibanjiri cibiran oleh para warganet. Komentar demi komentar dari warganet yang menuliskan, kasus kekerasan dalam bentuk apapun tidak dibenarkan.

Habis dilepas infusnya, diberi kasa dan ditempel plester, lalu ditekan menggunakan tangan. Karena memang darah belum berhenti, bisa keluar lagi kalau tidak ditekan menggunakan tangan. Kalau kejadiannya seperti itu, itu bukan penganiayaan. memang seperti itu, ditekan kembali,” tulis akun Instagram @dilla15595.

Diduga tak dapat membendung kritikan dari para warganet, akun Instagram @halomelisa21 akhirnya dikunci untuk umum.

 

4 dari 5 halaman

6. Kondisi Psikis Korban

Direktur Umum (Dirut) RS Siloam Sriwijaya Palembang Bona Fernando mengungkapkan, jika korban sedang dirawat di rumah sakit.

Karena pascakejadian, korban mengalami luka fisik dan psikis.“Korban sedang dirawat di rumah sakit ini, sempat mengalami trauma yang cukup hebat,” katanya.

Bona mengatakan, kondisi Christina Ramauli Simatupang sudah berangsur membaik dan pelan-pelan bisa kembali bekerja melayani pasien lagi.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini :