Sukses

Setelah 'Taman di Seberang Ingatan', Lalu Apa?

Liputan6.com, Magelang - Launching buku kumpulan sastrawan Magelang, ‘Taman di Seberang Ingatan’ di Tourist Information Center (TIC) Borobudur memancing banyak persoalan. Salah satunya adalah tersedianya ruang namun tak ada penghuni atau pengisinya.

Joko Kuntono, salah satu tokoh menyampaikan hal tersebut ketika berdiskusi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang. Memang Dinas Pariwisata mengelola teater terbuka yang ada di TIC. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga, Slamet Husein menyebutkan bahwa untuk persoalan isi atau pemanfaatan yang berkaitan dengan sastra menjadi ranah DInas Kebudayaan.

“Tapi ini sebuah masukan yang sangat bagus. Saya sangat setuju,” kata Husein.

Joko menyampaikan hal itu untuk menggambarkan bahwa penulis sastra di Kabupaten Magelang sesungguhnya sangat berlimpah.

“PR kita ada mengisi rumah sastra ini agar tak lapuk. Para penulis sastra ini ibarat modin, ia tak peduli ada warga yang dating atau nggak, modin tetap akan melantunkan adzan, menyapu musala dan sebagainya,” kata Joko.

Launching buku Taman di Seberang Ingatan ini menjadi tonggak baru kesusastraan Magelang setelah era tahun 90-an sempat mendunia.

Nindito Nugroho, Ketua panitia menyebutkan launching ini bukan sebuah puncak lahirnya karya, namun merupakan awal gairah baru.

“Kami yang tua-tua saatnya menyerahkan tongkat estafet,” kata Nindito.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Magelang Slamet Husein. (foto: liputan6.com/Septi Nur Eka Mafiroh)

Launching buku sastrawan Magelang yang didahului dengan prosesi memecahkan kendi berisi air bunga ini ditutup dengan diskusi tentang arah pengembangan sastra Magelang.

Kepala Bidang Pemasaran DinParPora Andi Gunawan mengusulkan agar dibuat acara malam hari, sebagai strategi menggaet wisatawan agar bersedia menginap di homestay yang tersebar di berbagai sudut sekitar Borobudur, Mendut dan Candi Pawon.

“Jadi nanti peserta dari luar kota bisa menginap dan homestay laku,” kata Andi Gunawan.

Inilah yang mendapatkan respon dari peserta yang menilai strategi pembangunan kebudayaan tak bisa diukur berbanding lurus dengan ekonomi. Namun jika memang sudah menghasilkan karya bagus, nantinya sektor ekonomi akan mengikuti dan lebih mudah diorganisir.

 

(Septi Nur Eka Mafiroh)

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: