Sukses

Gemuruh Sertai Erupsi Terus Menerus Gunung Ili Lewotolok, Sinyal Bahaya

Liputan6.com, Bandung - Suara gemuruh menyertai erupsi terus menerus Gunung Ili Lewotolok di wilayah Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal itu dikatakan oleh Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Devy Kamil Syahbana.

Menurut Devy kondisi saat ini erupsi terus terjadi di gunung api yang pertama kali terjadi hal serupa pada tanggal 27 November 2020 pukul 05.57 WITA. Pada saat itu kata Devy, tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 meter di atas puncak atau 1.923 m di atas permukaan laut (mdpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

"Sampai saat ini erupsi masih terjadi lagi ya, tadi beberapa kali terjadi erupsi. Maksudnya dia menerus ya, dengan intensitas yang naik turun tapi masih kecil dari erupsi yang tadi jam 9.45 WITA.

Kondisi sekarang dari pos pengamatan gunung api Ili Lewotolok, di pos atau kantor kami di barat daya 6 kilometer dari jarak ke Gunung Lewotolok, kita selain merekam kegempaan juga mendengar suara gemuruh dari gunung," ujar Devy saat dihubungi melalui telepon, Bandung, Minggu, 29 November 2020.

Devy menjelaskan pada pukul 9.45 WITA, terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 4.000 meter di atas puncak atau 5.423 mdpl, dengan intensitas tebal condong ke arah barat di kolom bagian bawah dan ke arah timur di kolom bagian atas. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 35 milimeter dengan durasi erupsi 10 menit dan diikuti tremor menerus.

Devy mengatakan hasil data pemantauan tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Ili Lewotolok masih tinggi dan berpotensi untuk mengalami erupsi susulan.

 

2 dari 3 halaman

Proses Evakuasi Warga Terdampak Erupsi

Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling Gunung Ili Lewotolok, maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di gunung tersebut agar mewaspadai potensi ancaman bahaya lahar terutama di musim hujan.

"Kalau saat ini pengungsi telah ada. Masyarakat secara mandiri, mereka masih berada di luar radius bahaya 4 kilometer. Tapi masyarakat tersebut melakukan evakuasi secara mandiri karena ada perasaan takut atau mungkin karena ada abu vulkanik," kata Devy.

Devy menerangkan informasi yang diperolehnya, proses evakuasi berjalan tanpa kendala. Begitu halnya dengan masyarakat yang sebelumnya bermukim di radius bahaya, seluruhnya telah dilakukan evaluasi dan kini tidak ada aktivitas diradius tersebut.

Saat ini Kantor Bupati Lembata menjadi pusat penampungan pengungsi sementara oleh otoritas penanggulangan bencana setempat. Warga dari 28 desa dinyatakan telah mengungsi akibat erupi Gunung Ili Lewotolok ini.

"Rekomendasi dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam tingkat aktivitas Siaga (Level III), masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung, pendaki atau wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 4 kilometer dari kawah puncak," ucap Devy.

Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya, maka masyarakat yang berada di sekitar Gunung Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit. Berdasarkan hasil analisis secara menyeluruh maka pada tanggal 29 November 2020 pukul 13.00 WITA tingkat aktivitas Gunungapi Ili Lewotolok dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini: