Sukses

Berburu Tikus Hutan, Pria Asal Minahasa Selatan Tewas di Perkebunan

Liputan6.com, Manado Seorang pria bernama Rony Runtuwene (65), warga Suluun Dua Jaga III, Suluun Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulut, tewas di Perkebunan Masukat, Tareran, Sabtu (11/7/2020), sekitar pukul 02.30 Wita.

Diketahui Ronny bersama tiga rekannya, Reygen Runtuwene (38), Steven Tenda (47) dan Viktor Rapar (38), pada Jumat malam sekitar pukul 20.30 Wita berangkat menuju perkebunan antara Tombasian Atas dan Kayuuwi, Kawangkoan, Kabupaten Minahasa untuk berburu tikus hutan.

Sekitar pukul 23.30 Wita, keempatnya melanjutkan perburuan di perkebunan antara Rumoong Atas dan Wuwuk, Kecamatan Tareran, Minahasa Selatan. Tak lama kemudian, mereka beristirahat di sekitar tower yang berada di lokasi masuk perkebunan tersebut.

Perburuan pun dilanjutkan kembali, namun kali ini dibagi dua. Ronny bersama Steven, sedangkan Reygen bersama Viktor. Perburuan dilakukan hingga di Perkebunan Masukat. Sebelumnya, mereka sepakat untuk bertemu kembali di jalan raya usai berburu.

Dalam perjalanan di tengah perkebunan, Ronny meminta Steven agar mendahuluinya ke jalan raya. Setelah tiba di jalan raya, Steven berteriak memanggil Ronny. Saat itu Ronny masih membalas teriakan Steven.

Tak lama kemudian Reygen bersama Viktor juga tiba di tepi jalan raya, dan bertemu dengan Steven. Karena tak kunjung datang, Steven kembali memanggil Ronny, namun kali ini tak ada jawaban.

 

2 dari 3 halaman

Ditemukan dalam Posisi Terlentang

Steven meminta Reygen agar masuk ke perkebunan. Dia mendapati korban dalam posisi terlentang. Reygen langsung memeluk tubuh korban yang sudah tak berdaya, tetapi masih bernapas mendengkur.

Reygen lalu berteriak memanggil Steven dan Viktor. Ketiganya berupaya menyadarkan korban dengan menggerak-gerakkan tubuhnya, namun tak ada respons. Korban meninggal dunia di perkebunan.

Steven kemudian melaporkan kejadian ini ke Polsek Tareran. Personel Polsek Tareran bergegas mendatangi TKP, dan korban sudah diangkat oleh saksi ke pinggir jalan raya, kemudian dievakuasi ke Puskesmas Tareran.

Hasil pemeriksaan tim medis oleh dokter Wandrita Wawolangi, menyebutkan penyebab kematian korban kemungkinan besar karena gagal jantung konfesif.

Pjs Kapolsek Tareran, Ipda Betsy Lumy membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Pihak keluarga korban menolak otopsi yang dinyatakan melalui surat pernyataan penolakan,” ujar Lumi di Mapolsek Tareran, Minahasa Selatan.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini: