Sukses

Emisi Karbon Turun, Kok Kualitas Udara Stabil?

Liputan6.com, Malang - Denyut berbagai kota besar seolah melemah. Jalanan tampak lenggang, pusat keramaian menjadi sepi. Seruan di rumah saja, jaga jarak fisik dan sosial terus menggema. Pandemi Corona Covid-19 laksana mengubah peradaban manusia.

Di Kota Malang, kota terbesar kedua di Jawa Timur. Perubahan itu tampak jelas terasa. Jam aktivitas di perkantoran dan industri berkurang. Geliat puluhan kampus di kota pendidikan dengan ratusan ribu mahasisa turut berhenti sejenak. Corona Covid-19 mengubah semua.

Tak ada deru kendaraan maupun bunyi klakson bersahutan. Jalan – jalan yang biasanya macet kini sepi. Sisi baiknya, tak ada tumpukan sampah di jalan. Situasi ini juga membuat polusi udara di Kota Malang berkurang drastis. Sayangnya semua dipicu dampak pandemi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Rinawati mengatakan, gas buang atau emisi di kota ini lebih banyak disumbang dari sumber bergerak yakni kendaraan lantaran emisi dari sumber tak bergerak atau cerobong asap industri sangat sedikit.

"Sejak wabah Covid-19 pencemaran udara jadi sangat berkurang karena mobilitas masyarakat jadi lebih rendah," kata Rinawati di Malang, Kamis, 9 April 2020.

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Malang pada 2019 naik turun. Pernah di kategori baik dengan rentang 0–50 tapi pernah pula mencapai kategori sedang dengan rentang 51-100.

Namun pada awal 2020 ini, indeks pencemaran udara di Kota Malang stabil di kategori baik. Bahkan kualitas udaranya bisa jadi lebih baik lagi lantaran sejak wabah Corona Covid-19 membuat mobilitas alat transportasi jauh berkurang.

2 dari 4 halaman

Kualitas Udara Stabil

Sepanjang tahun ini kualitas udara di Kota Malang diperkirakan stabil di kategori baik. Salah satu pangkalnya, kepadatan lalu lintas menurun pesat sejak pandemi Corona Covid-19. Meski industri sebagai sumber emisi tak bergerak tetap beroperasi terbatas.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Herutoto mengatakan, kualitas udara di kota ini pada 2020 baik sebelum dan sesudah muncul virus corona baru tetap di kategori baik.

"Analisa sementara stabil masih kategori baik, tidak ada lonjakan berarti. Baik itu sebelum atau saat ada pembatasan sosial," kata Herutoto.

Data Air Quality Monitoring System (AQMS) di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien Otomatis yang dipasang di kantor DLH Kota Malang menunjukkan kualitas udara di kota ini relatif stabil pada kategori baik. Itu berdasar angka parameter dasar penentuan ISPU.

Data pada 9 Februari 2020 menunjukkan, partikel carbon monoksida (CO) ada di angka 19, partikulat meter (PM2) di angka 22, sulfur dioksida (SO2) di angka 4, partikel nitrogen dioksida (NO2) dan ozon (O3) di 0.

Sedangkan pada 9 April 2020 atau setelah situasi sosial lebih sepi karena pandemi Covid-19 menunjukkan, partikel CO di angka 47, SO2 di angka 5, PM2 di angka 11. Sedangkan partikel NO2 dan O3 stabil di angka 0. Relatif tak ada lonjakan pencemaran udara.

"Alat ukur dipasang di daerah industri. Butuh analisis lebih untuk melihat detil kualitas udara," kata Herutoto.

3 dari 4 halaman

Emisi Diprediksi Turun

Tri Santoso, Kasie Kajian Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS). Katanya, populasi penduduk di kota ini mencapai lebih dari 904 ribu jiwa dengan sepertiga di antaranya atau sekitar 250 ribu jiwa adalah mahasiswa.

Bila separuh di antara para mahasiswa itu menggunakan kendaraan dan ditambah warga, maka emisi kendaraan punya kontribusi utama menyumbang emisi karbon di kota ini. Namun dalam jangka pendek ini pencemaran udara berkurang sebab arus kendaraan berkurang.

"Gas buang kendaraan itu salah satu komponen pembentuk gas rumah kaca. Kondisi sekarang kan sudah sepi, pasti emisi juga turun drastis," ujar Tri.

Untuk sekarang ini memang masih belum bisa diukur dengan detil. Namun diperkirakan emisi di kota ini bisa turun sampai 60 persen. Dalam jangka panjang, suhu udara di Kota Malang yang saat ini berdasar data BMKG rata – rata 26C juga bisa turun lagi.

"Karena aktivitas ekonomi merendah, bisa jadi ke depan turut memengaruhi suhu udara. Tapi kalau perilaku kembali lagi seperti sebelum pandemi ya sama saja," ujar Tri.

Kepala Seksi Informasi dan Informasi BMKG Karangploso, Anung Suprayitno menyebut suhu udara rata – rata di Malang ada penurunan meski tak terlalu signifikan. Namun secara umum penuruna itu baru bisa dilihat beberapa waktu ke depan.

"Suhu udara turun itu harus banyak faktor, tidak karena situasi lokal saja,” kata Anung.

Menurut dia, pembatasan aktivitas secara total baik itu di sektor transportasi, industri dan lainnya dalam skala lebih luas dan rentang waktu lama akan bisa memengaruhi suhu udara dengan signifikan.

"Kalau sekarang yang mau ditengok soal perubahan kualitas udara dan perubahan karbon umumnya ya terlihat signifikan,” ujar Anung.

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur, Purnawan D Negara mengatakan, ruang terbuka hijau (RTH) publik di Kota Malang sampai saat ini tidak kurang mencapai 3 persen saja. Padahal seharusnya minimal 20 persen dari luas wilayah.

"Kualitas udara ke depan akan tidak banyak berubah bila tidak dibarengi dengan penambahan RTH publik,” kata Purnawan.

Menurutnya, pandemi Corona Covid-19 seharusnya tidak mengubah perilaku dan kebijakan dalam sesaat. Tapi patut juga mengubah arah kebijakan ke depan lebih bervisi lingkungan dan lebih manusiawi.

 

4 dari 4 halaman

Simak video pilihan berikut: