Sukses

Lintas Batas Komunitas Berbagi Beras

Liputan6.com, Yogyakarta Komunitas yang bertujuan membantu manusia tanpa pamrih bisa dilihat dari Komunitas Berbagi Beras (KBB) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas ini rutin berbagi logistik seperti beras kepada warga miskin yang berjumlah ratusan.

Zaenuri Koordinator KBB menjelaskan pada hari Minggu (26/1/2020) lalu pihaknya membagikan  4,44 ton beras, paket sembako hingga bantuan korsi roda. 

"Ada donatur tetap kami yang jumlahnya lebih dari 500. Selalu ada donor setiap bulannya," katanya. 

Aksi membagikan beras dan paket lainnya ini sudah dilakukan Komunitas Berbagi Beras dua tahun lalu. Setiap penerima beras 5 kg sudah diseleksi secara ketat oleh komunitasnya. 

"Bantuannya yang diberikan sesuai kondisi. Penerimanya memang harus masuk kategori miskin mutlak," katanya. 

Zaenuri mengatakan bagi penerima  yang sangat membutuhkan akan mendapatkan bantuan logistik lainnya. Ada 890 sasaran yang mendapatkan bantuan secara keseluruhan. 

"Bantuan kami bagi di Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Sleman, dan Kulon Progo," ujarnya. 

Zainuri menjelaskan, selain membagikan beras komunitasnya  juga memberikan bantuan 33 kursi roda bagi warga disabilitas bantuan berupa alat bantu jalan. Dari penyebaran bantuannya lebih banyak menyasar di wilayah  Kabupaten Bantul.

"Relawan Komunitas Berbagi Beras kami sekitar 200 relawan yang membantu mencari penerima bantuan dan pendistribusian bantuan," tuturnya.

 

2 dari 3 halaman

Keluarga Terlibat

Komunitas Berbagi Beras ini menggunakan ruangan berukuran 8 meter X 10 meter di rumah milik Subardianto di Dusun Bibis, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Bardi sapaannya mengaku ikhlas memberikan rumahnya untuk kegiatan Komunitas Berbagi Beras. 

"Dari pertama komunitas ini berdiri saya berikan ruangan di rumah ini untuk kegiatan (KBB). Setiap minggu kedua akhir pekan pasti aktivitas sibuk," katanya. 

Bardi tidak ragu ketika terlibat langsung di kegiatan KBB ditengah kesibukannya menjadi seorang  petani. Ia pun selalu siap membantu kegiatan dari KBB.

"Aktivitas pagi hari ke sawah, siangnya di sini. Bagi berasnya kan setiap bulan pada minggu kedua," ujarnya. 

Bardi mengaku berada dalam KBB merupakan kebanggaan dan panggilan jiwa. Tidak hanya dirinya,  total ada sembilan anggota keluarganya yang juga ikut mulai dari dua anaknya, dua cucunya, istri, paman, dan menantunya. 

"Saya yang penting bisa bermanfaat," tuturnya. 

 

3 dari 3 halaman

Tak Ada Dana Operasional

Zaenuri Koordinator KBB menjelaskan sebelum jumlah penerima bantuan beras mencapai 981 orang, dahulu hanya 120 orang saja. Jumlah itu terus bertambah selama dua tahun terakhir. 

"Awalnya hanya mendistribusikan beras. Tapi kemudian, ada bantuan kursi roda, alat bantu kesehatan, kebencanaan, hingga bedah rumah," ujarnya. 

Pemberian bantuan beras ini tidak lain karena adanya donatur tetap sebanyak 500 orang. Para donatur ini setiap bulannya memberikan beras, sembako sampai bantuan lainnya.  

"Penerima bantuan seleksinya sangat ketat. Dari duafa miskin mutlak sampai simbah sebatang kara. Selama dua tahun berjalan, ada kenaikan sasaran terus," ungkapnya. 

Zaenuri mengaku, saat ini cuaca yang menjadi kendala bagi komunitasnya untuk membagikan bantuan. Pemberian bantuan ini komunitasnya memberikan target selesai secepatnya. 

"Di Bantul, sehari bisa selesai. Kalau di Gunungkidul kami dibantu relawan di sana. Yang buat lama itu kadang sasaran bantuan satu dusun hanya ada satu. Lalu, kami harus berpindah ke titik lain," ujarnya.

Setidaknya selama sepekan semua bantuan dapat terdistribusi ke seluruh penerima. Pihaknya berupaya keras agar ketepatan waktu menjadi hal yang harus dilakukan.  

"Ongkos bensin untuk anggota komunitas dan relawan tidak ada. Semuanya sukarela. Sesuai motto kami, kebersamaan dengan kebermanfaatan," katanya.

Simak video pilihan berikut:

Loading