Sukses

Menilik Kebangkitan Pacuan Kuda Pascabencana Gempa dan Tsunami di Sulteng

Liputan6.com, Palu - Sebanyak 48 peserta dengan kuda pacuannya dari beberapa wilayah di Kota Palu dan Kabupaten Sigi memeriahkan lomba pacuan kuda yang digelar 28 sampai dengan 29 Desember 2019. Giat tahunan ini kembali digelar setelah sempat terhenti karena bencana 28 September 2018 lalu yang merusak lokasi balapan kuda di Palu.

Matahari sedang terik-teriknya ketika satu persatu kelompok peserta memasuki area lomba pacuan kuda di Desa Bora, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi pada Minggu ( 29/12/2019 ), siang. Sementara ribuan penonton, dewasa maupun anak-anak lebih dulu memadati lokasi dengan kegembiraan, tak acuhkan debu yang ke sana ke mari.

Bagi warga Palu dan Sigi khususnya, tontotan pacuan kuda ini adalah hiburan yang ditunggu-tunggu. Maklum akibat gempa tahun 2018 lalu, perlombaan ini sempat terhenti setelah lokasi pacuan kuda di Kelurahan Petobo, Kota Palu rusak karena likuefaksi.

"Lomba kali ini kami adakan mendadak. Peserta dan penontonnya selalu banyak apalagi dulu sebelum gempa," kata Anjas Lamatata, Ketua Persatuan olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Sulteng, Minggu (29/12/2019).

Kelas pacu dalam perlombaan ini dibuat beragam oleh panitia dan disesuaikan dengan jenis kuda yang dipacu antara 600 sampai 1.400 meter untuk jenis kuda lokal, ras, dan semi ras. Di tiap kelasnya, enam ekor kuda akan beradu cepat di lintasan yang melingkar.

Lintasan pun mendadak riuh dengan teriakan-teriakan dukungan sesaat setelah pintu start dibuka dan kuda berlari gegas. "Ayo ferarri, ayo arjuna, ayo menara, ayo milea, ayo teves..," teriak masing-masing pendukung kuda yang berlari.

Perlombaan ini sendiri digelar juga untuk menjaring atlet berkuda yang mewakili Sulawesi Tengah dalam PON tahun 2020 di Papua.

 

2 dari 2 halaman

Dari Budaya hingga Potensi Wisata Pascabencana

Antusias yang tinggi terhadap olahraga berkuda itu diakui memiliki potensi wisata jika dikelola dengan baik. Bahkan sebelum bencana melanda Sulawesi Tengah, kejuaran tahunan ini selalu menarik minat peserta dari luar daerah semisal Manado, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan beberapa daerah di Pulau Jawa.

"Dari pengalaman kami sebelumnya, hampir setiap tahun kejuaran ini diadakan selalu ada peserta dari luar Sulawesi Tengah. Minatnya tinggi di luar sana," cerita Ketua PORDASI Sulteng, Anjas Lamatata.

Budaya pacuan kuda yang kuat juga dibenarkan oleh sejarawan dan peneliti kebudayaan Sulawesi Tengah, Iksam. Pacuan kuda di Sulawesi Tengah dijelaskannya merupakan hiburan favorit para raja di masa antara abad 17 dan 18 di Sigi, Palu, dan Donggala. Di Kota Palu saja, ia mencontohkan, Kantor DPRD dan Lapangan Balai Kota yang ada saat ini, dulunya adalah arena pacuan kuda.

Sebagai budaya Wakil Kepala Museum Sulawesi Tengah itu menilai, pacuan kuda patut dilestarikan bahkan dikembangkan menjadi objek wisata tahunan. Apalagi pascabencana tinggal arena pacuan di Desa Bora, Sigi yang tersisa, yang dibangun di masa Gubernur Aminudin Ponulele pada 2011. Sementara lokasi lainnya telah beralihguna menjadi hunian sementara dan hunian tetap untuk penyintas.

"Masyarakat Sulawesi Tengah dan budaya pacuan kuda sudah ada berabad-abad lalu. Saya kira pemerintah harus mengelola dengan baik. Sekarang hampir tidak ada lagi arena pacuan kuda," Iksam menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Toleransi dari Perempuan Cantik Penabuh Tambur Barongsai Perayaan Imlek di Palu
Artikel Selanjutnya
Suhu Panas Kota Palu, Begini Cara Waspada Serangan 'Heat Stroke'